TAKUT MATI

Seorang pemuda bertanya kepada orang tua yang sedang duduk dan mengisap rokok. Asapnya mengepul berbentuk domba berlari. Awan cemburu. Biru langit tersedak. Matahari nyengir.

“Apakah Anda tahu cara menuju toko?”

Orang tua terus mengisap rokok berwarna cokelat itu. Topi bulat besar di perutnya naik-turun mengikuti irama napasnya. Dia berpura-pura tidak mendengarkan pertanyaan pemuda tersebut.

“Permisi, sudikah Anda menjawab pertanyaan saya?”

“Cara menuju toko adalah dengan membayangkan toko, cara menuju rumah ya dengan membayangkannya, cara menuju gunung juga dengan membayangkannya.” Orang tua itu akhirnya bersuara. Keluar asap dari mulutnya.

Jawaban orang tua itu benar. Tidak ada cela. Hanya dengan membayangkannya. Sederhana, bukan?

Semesta akan membawa manusia meraih apa yang dibayangkannya dengan kuat. Semesta tidak memilih putih atau hitam, atau bahkan kelabu. Semuanya dipilihnya tanpa memihak. Warna-warni bersolek sesuai dengan bentuk dan rupa pemakainya. Semesta, tidak bisa suka atau tidak suka. Semesta tetap bersama mereka.

“Tapi bukankah saya belum melakukan apa-apa?” Tanya pemuda.

Orang tua menghela napas. Lalu menoleh ke pemuda tersebut. Matanya yang cokelat tua, tajam, dan dingin menatap pemuda tersebut. “Orang buta pun membayangkan desir angin, derai ombak, riak air, dan riuh hujan.” Bibirnya menyungging sedikit, tanda merendahkan pemuda tersebut.

“Semua hal yang berbentuk bisa didapat hanya dengan membayangkannya?” Tanya pemuda lagi.

“Saya sudah menyelami samudera mana pun. Kudaki gunung tertinggi. Terbang melintasi langit. Mengunjungi semua galaksi. Berbicara dengan orang nomor satu di setiap negeri. Hanya ada satu yang semua makhluk akan sampai tanpa membayangkannya.” Orang tua itu menatap ke depan. Mengisap rokok lagi.

“Apa itu?” Tanya pemuda penasaran.

“Mati..” Jawab orang tua itu.

“Saya akan membayangkan surga!” Kata pemuda.

“Lalu, bayangkan surga itu!”

“Tapi surga tidak berbentuk!” pemuda meragu. “Saya akan membayangkan hal baik!” Lagi, lagi dia memikirkan kata-katanya kembali.

Orang tua hendak beranjak pergi. Dia memakai topi bundarnya kembali.

“Saya akan membayangkan Tuhan saya! Tuhan itu memiliki bentuk.” Kata pemuda itu dengan cepat, mendahului orang tua yang ingin beranjak pergi.

Orang tua hanya tersenyum. Berdiri sambil berkata, “kamu sudah membayangkan toko tadi?” Lalu pergi. Pemuda belum membayangkan apa-apa. Sedang, kematian berlarian ke sana kemari.

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering