Tips Menghadapi Kritik Supaya Tidak Emosi

Kritik memang selalu sakit didengar. Bahkan meski disajikan dengan cara yang halus. Itu menurut pendapat saya pribadi. Kalau kamu, entah.

Bahkan, meski kita itu sudah sok merasa siap dengan kritik yang akan menghujam diri kita, saat kritik itu benar-benar datang dari orang lain, rasanya hati tetap saja belum siap. Mungkin, karena kritik membawa pesan implisit kepada kita tentang kekurangan kita, akhirnya hati kita menjadi tersentuh.

Kritik memang seolah-olah membuka kejelekan, keburukan, kekurangan, bahkan kebodohan kita. Tapi, kata orang bijak, bila seseorang mampu menerima kritik dengan jiwa lapang, justru akan menghantarkan kita pada kesuksesan.

Guru saya, Bapak Kiai Tanjung pun berpesan kepada saya secara langsung atau tidak langsung, bahwa kritik sebenarnya adalah cara Tuhan menyempurnakan kita, mengevaluasi kita, atau membuat diri kita lebih baik. Tidak ada cermin yang paling baik ketimbang orang lain yang memperhatikan kita.

Kurang lebih, begitu yang saya tangkap dari beberapa acara pengajian dan simposium yang dilakukan oleh Guru saya. Tapi, apakah benar yang saya tangkap sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Beliau? Saya tidak tahu.

Kali ini, saya cuma mau sharing pengalaman saya saja. Bahwa, akhir-akhir ini saya menerima banyak kritik. Entah tentang kepribadian saya, sikap saya, pemikiran saya, kebiasaan saya, sampai produk saya. Yang terakhir, baru saja kemarin (03/12), saya baru dihujani kritik dari salah satu customer kami yang baik hati.

Kita tidak usah bahas kritik yang menyasar kepribadian saya atau sisi internal diri saya — soalnya tidak penting dan tidak memberi nilai apa-apa kepada kamu yang membaca blog saya. Yang saya mau bahas pada tulisan ini adalah, bagaimana customer justru membangun saya dan tim saya dari kritik-kritik yang disasarkan kepada kami. Lantas, bagaimana cara menerimanya dengan lapang meski cara mereka mengungkapkan kritik ada yang enak di hati dan ada yang rude?

Imagine this, kadangkala orang yang mengkritik saya tidaklah benar-benar berniat mengkritik, lho! Seringnya, orang hanya berkata jujur atau apa adanya saja atas apa yang ada pada saya, sikap saya, pemikiran saya, dan yang lainnya. Daripada terlalu terbawa baper, mending saya positif thinking aja, kan?

Cara yang mau saya tulis di bawah adalah cara yang saya lakukan — based on my own experience — jadi bisa jadi gagal atau berhasil. Kalau misalnya mau dicoba ya monggo, kalau tidak juga monggo-monggo saja.

#1 Ingat-ingat niat awal.

Mengingat lagi niat juga membantu kesiapan mental saya menerima kritik. Misal, kemarin saya datang ke salah satu rumah customer, dan dengan sangat jujur — tanpa ada yang ditutupi — Beliau menyampaikan segala sisi kekurangan saya dan teman-teman saya yang datang. Semua dibeberkan oleh Beliau. Mulai dari produk sampai manusianya. Memang berat rasanya, tapi saya berhasil menaklukkan emosional saya dengan mengingat niat saya.

Saya (kiri) dan Pak Joko (customer) yang baik hati.

Niat saya melakukan bisnis ini adalah untuk ibadah. Guru saya selalu berpesan, “kegiatan duniawi adalah syariat, kalau kamu lakukan dengan sungguh-sungguh akan berbuah keselamatan di hari setelah mati, tapi kalau kamu lakukan dengan perasaan cemas, marah, kecewa, sombong, atau rendah diri, segalanya tidak akan menjadi amal saleh kamu.”

Saya kasih videonya deh di bawah ya… Juga untuk berkontemplasi bahwa hidup ini sebenarnya hanya sementara. Rasanya rugi bila segala amal ibadah yang saya lakukan semasa hidup ini, rusak atau terhapus karena amal munkar yang saya lakukan.

#2 Kita Juga Butuh Mereka

Ketika seorang customer memberi masukan kepada saya, seharusnya saya berterima kasih kepada dia. Mengapa? Bukankah seorang pelanggan memberi masukan kepada kita juga dengan niat yang baik? Pasti mereka menginginkan yang terbaik untuk kita.

Ini trik dari saya untuk kamu yang (mungkin) punya bisnis atau jualan produk. Menghargai pendapat dan menerima masukan customer dengan baik bisa menaikkan moral mereka. Mereka akan merasa terlibat atas bisnis yang kita jalani. Bila ada sesuatu yang kurang baik di kita, mereka juga akan ikut sedih atau prihatin, jika ternyata sukses — amin — mereka juga akan merasa bersyukur. Susah sedih bersama-sama.

Anyway, ketika para customer sudah lengket dengan kita, mereka justru dengan suka rela menjadi advokat produk kita.Tanpa diminta sekalipun, mereka akan menjadi corong bagi produk kita. Percaya deh sama saya, hehehehe…..

Dalam hidup, saya memerlukan sosok Abu Nawas. Abu Nawas yang saya maksud adalah seseorang yang berani berkata jujur kepada saya atas diri saya. Memang perih, sakit, dan bikin emosi, tapi mau bagaimana lagi? Saya menaruh percaya jika saya tidak pernah dikritik, saya akan tumbuh menjadi manusia yang ber-ego tinggi, semuci, merasa terbaik, tinggi hati, semena-mena, mudah benci, suka menuding, dan karakter “neraka” — yang mempertaruhkan keselamatan akhirat saya — lainnya.

#3 Cepat Menyadari

Bahkan sebelum ada customer yang mengkritik saya atau produk saya, saya pun bisa menguraikan kekurangan diri saya atau produk saya. Biasanya — dan yang sering terjadi — orang yang mengkritik saya sebenarnya hanya menggaris bawahi atau menebali kesadaran saya atas apa-apa yang kurang pada saya. Saya sudah tahu saya banyak kurangnya, dan ada orang lain yang dikirim oleh Tuhan untuk mengungkapkan itu kepada saya. Karena — positif thinking aja — Tuhan ingin membuat saya menjadi lebih baik.

Oh iya, Ozlem Cekic, anggota parlemen Denmark sering mendapatkan ujaran kebencian di e-mail-nya. Isinya serba SARA. “Ibu, kenapa orang-orang ini begitu benci kepada Ibu meski mereka tidak mengenal Ibu?” Kata anaknya. Tapi, Ozlem Cekic berhasil menaklukkan letupan emosinya terhadap para haters.

Ozlem Cekic malah mendatangi para haters ke rumah mereka. Sembari membawa makanan untuk para haters, Ozlem Cekic membawa kopi untuk dihidangkan dalam perbincangannya dengan haters. Dia membuat hashtag #dialoguecoffee.

Simak pidatonya di TED Talk berikut ini untuk menyimak bagaimana dengan cerdasnya, Ozlem Cekic mengelola emosionalnya menghadapi orang-orang yang bahkan nyata berlaku kasar kepadanya.


Nah itu dia tiga tips menghadapi kritik biar tidak emosi. Menurut kamu, tulisan saya ini bermanfaat atau tidak? Kalau bermanfaat, jangan lupa dibagikan kepada teman-teman kamu, saudara, bapak, ibu, adik, kakak, semuanya aja deh…

Oh iya, jangan lupa juga masukkan e-mail kamu di kolom bawah ini, biar kalau ada artikel terbaru dari saya, kamu mendapat pemberitahuan di e-mail kamu!

Baca juga artikel saya yang lainnya:  5 Buku yang Tidak Membuat Saya Menyesal Karena Membelinya!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering