Cara Cari Modal Yang Asik!

Lama tidak menulis, rasanya jemari gatal. Merindukan aroma mesin laptop yang khas. Juga bunyi keyboard yang enak didengar. Lebih dari itu semua, otak saya memang suka protes kalau lama dianggurin buat nulis.

Kebetulan sekali, kemarin pagi (01/12) saya datang ke acara kece banget di Surabaya. Acaranya diselenggarakan oleh Satu Atap Surabaya. Acaranya semacam talkshow bisnis dengan tema Cara Asik Cari Modal. Kebetulan saya kenal dengan CEO sekaligus founder Satu Atap Surabaya, Ahmed Tessario. Jadi daripada rugi, mending datang aja.

Awalnya saya kenal Mas Tessar, pas ikut acaranya Mas Dewa Eka Prayoga setahun lalu. Ketika itu, Satu Atap belum launching, Mas Tessar presentasi di sesi coffee break acara workshop bisnisnya Mas Dewa.

Lalu, saat saya makan siang di Mc Donald, saya kebetulan makan semeja dengan Beliau. Saya konsultasi ringan tentang bisnis yang sedang saya jalankan saat itu: cokelat kelor. Lalu, saya dapat kartu nama Beliau. Mas Tessar mengundang saya juga di acara launching-nya Satu Atap Surabaya setahun lalu.

Ah, langsung aja ya ke acara yang kemarin. Kebanyakan cerita malah tidak to the point. Here we go…!

Susu Segar Mulk

Saya memang sedang dalam masa-masa dilema. Saat bisnis saya mulai menanjak, permintaan semakin banyak tapi produksi sudah hampir mentok. Mau nambah aset, tapi ternyata net profit tidak sebanyak aset yang akan dibeli. Padahal, saya butuh aset tersebut untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produk saya.

Berdasarkan anjuran dari menteri keuangan saya, perusahaan kami harus mencari modal. Masalahnya, dari manakah saya bisa mendapatkan uang yang saya butuhkan untuk scaling up my business?

Berhari-hari mikir sendiri tidak ketemu jawabannya. Eh, emang benar-benar rezeki anak saleh, Satu Atap bikin acara kemarin itu. Pokoknya pas banget.

Saya punya dua produk, yang satu sebagai flagship yang satu lagi sebagai tambahan. Flagship produk perusahaan saya adalah Susu Mulk, dan tambahannya adalah produk-produk kelor untuk menambah revenue., termasuk cokelat kelor.

Saya berpikir, bisa jadi saya akan menuju kesalahan yang sebelumnya. Dulu, saat saya berpikir cokelat kelor akan terus menanjak, ternyata terbentur dengan modal. Karena kepentok keterbatasan uang, akhirnya produksi cokelat ya segitu-segitu saja.

Permintaan semakin berlimpah, tapi kapasitas hanya mampu memproduksi sesuai batas maksimal. Sedangkan, untuk menambah aset yang diperlukan, masih butuh uang yang cukup banyak. Profit tiap bulannya mungkin mampu menutup beban dan harga asetnya setahun atau dua tahun lagi. Bisa jadi malah lebih dari itu.

Bisnis memang tidak sebercanda itu!” Kata moderator acara kemarin. Maksudnya, butuh knowledge yang melimpah. Kalau mengikuti alur pikir UMKM biasa, bisnis hanya akan berhenti segitu saja. Kecuali, pola pikirnya terus ditingkatkan.

“Ada sembilan level bisnis, kamu ada di mana sekarang?” Tanya Pak Moderator. Level menunjukkan tingkatan bisnis kita sedang di mana? Parameternya bisa dari traffic, revenue, atau net profit.

Yang mengejutkan dari acara kemarin, setelah pulang dari acara kemarin, saya justru memendam rasa ingin mencari investor yang sebelumnya menjadi keputusan saya. Sekarang saya tahu, ke mana dan apa yang harus saya lakukan.

“Bisnis yang baik, tidak perlu investor!” Ungkap salah satu narasumber, Pak Imam (investor). Seorang investor bilang, kalau bisnis saya bisa berjalan tanpa investor, ya tidak usah cari-cari investor.

“Tapi, kapan saya benar-benar butuh tambahan modal atau butuh investor, Pak?” Tanya saya.

“Sampai kamu ingin share risiko. Setiap pebisnis pasti akan membagi risiko bisnisnya. Tidak mungkin kamu menjadi pebisnis yang hebat manakala tidak membagi dan melibatkan orang lain dalam bisnis kamu.” Jawab Pak Imam.

Baik, sekarang saya jadi paham. “Ada tiga sumber modal yang bisa kamu minta. Sebut saja ‘three F’, apa aja tiga F yang dimaksud? Family, friends, dan fool.” Sekejap ruangan penuh gelak tawa. Itu karena kata terakhir yang diucapkan Bapak Founder Satu Atap, Mas Tessar.

“Presentasikan kepada famili kamu dulu, barangkali mereka mau mendanai bisnis kamu. Lalu, kalau kamu punya teman, itu juga bisa jadi opsi. Terakhir, cari orang-orang berduit yang bodoh. Tapi yang ketiga tidak direkomendasikan sama sekali. Itu perbuatan zolim, hehehe…. ” Lanjutnya.

Berdasarkan pengalaman para narasumber, ada kesalahan rata-rata pebisnis pemula. “Biasanya pemula merasa bahwa dia butuh modal, padahal masalah dia adalah di penjualan. Alur kas masuknya buruk, ngerasa harus ada tambahan modal, padahal masalah mereka sebenarnya ada pada penjualan yang kurang maksimal!

“Bedakan antara butuh modal dan butuh meningkatkan penjualan!” Tutup Mas Tessar.

Menjadi kesepakatan bagi semua narasumber acara kemarin, bahwa bisnis itu tidak sebercanda itu!  Saya pun sepakat dengan kalimat itu. Karena, saya mengalaminya sendiri. Bahwa, seorang pengusaha berpikirnya harus holistis.

Seorang pengusaha tidak memandang pohon dari depan atau satu sisi saja. Tapi, harus memandangnya dari atas. Karena, dibalik pohon tersebut, ternyata masih ada ribuan pohon lainnya. Seorang pengusaha harus mampu melihat hutan, bukan satu pohon saja. Itulah tantangannya menjadi seorang pengusaha.

Itu aja cerita malam ini. Semoga kamu bisa mendapat pelajaran dari tulisan saya ini ya… 😉 Oh iya, follow juga IG-nya Satu Atap Surabaya di sini!

Jangan lupa isi e-mail kamu di kolom bawah ini biar dapat pemberitahuan di e-mail setiap kali saya posting baru!

Baca juga artikel saya lainnya, 5 Buku yang Tidak Membuat Saya Menyesal Karena Membelinya!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering