5 Buku yang Tidak Membuat Saya Menyesal Karena Membelinya

Cuaca mendung, sambil rehat writing class di SMA Pomosda, mending ngisi blog.

Beberapa teman saya sering bertanya kepada saya, “Mas, kira-kira buku apa yang cocok sama aku?” Atau “Mas, buku yang bagus menurut Mas Arif apa?” Karena bosan menjawab satu-satu, sekarang saya tulis saja deh 5 buku yang tidak membuat saya emosi karena membelinya.

Lima buku di bawah ini, adalah buku-buku yang sudah saya baca habis. Jadi, saya tidak main ambil review orang lain. Saya mencoba mengaitkan isi buku ke dalam konteks kehidupan saya. Semoga bermanfaat juga buat kamu yang membaca blog ini.

#1 How to Win Friends and Influence People (Dale Carniege, and associations)

Sumber Gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRxTMvwrHivCi2Ca4FCr3pwIEeb4PSLB50b4OVVMHyUod19L5nS5g

Buku yang pertama adalah, maha karya dari orang yang saya kagumi; Dale Carniege. Buku ini sebenarnya adalah pembaruan dari buku lamanya yang terbit sekitar dua dekade silam. Tapi, oleh Dale Carnegie Associations diangkat lagi dengan judul yang sama, tapi sedikit diubahsuaikan dengan konteks era digital sekarang ini.

Isi bukunya menarik. Bahasa yang dipakai sangat ringan. Lama membaca bukunya, rasanya seperti diajak ngobrol langsung sama penulisnya. Mengalir, menjelajahi cakrawala masa lalu, masa kini, dan masa depan. Melihat dengan ribuan lensa meski hanya dengan dua mata. Otak berasa terbelah tujuh kali karena setelah membaca bukunya, kita akan memiliki insight bagaimana seharusnya kita membangun karakter, mental, moral, dan sosial.

Buku ini menyajikan kiat-kiat memenangkan sebuah hubungan. Daripada harus berdebat dengan bos, atasan, teman, atau siapa pun, lebih baik mengalah. Buku ini mengulas bagaimana mengalah yang tidak merendahkan orang lain serta tidak merendahkan diri sendiri.

Yang paling membuat saya ngeh dengan buku ini, yang diangkat bukanlah hal-hal rumit, tapi yang sederhana. Sederhana tapi nyampleng bener!

Bagaimana kemarahan seringkali tidak membuat keadaan semakin baik, tapi dengan perhatian, sentuhan, dan gaya bahasa yang baik diceritakan menggunakan kisah presiden terkenal Amerika yang berhasil menyatukan dua ras yang sedang berseteru: Abraham Lincoln.

Abraham Lincoln memang dikenal oleh khalayak sebagai orang yang bijak dan arif. Dalam buku, Abraham Lincoln mampu mengubah orang lain dengan tanpa memaksa dan tanpa penolakan.

Buku ini cocok sekali buat saya, karena saya sedang memimpin sebuah tim. Mau tidak mau, saya harus terus meningkatkan skill saya dalam memimpin: berbicara dengan tim, memberi teguran, mengapresiasi, mendengar ide, menolak usulan, dan sebagainya. Cara yang tidak arif akan membawa saya ke dalam sebuah masalah.

Saya sudah sering mengulas buku ini di tulisan saya sebelumnya: 3 Rahasia Mempengaruhi dan Mengubah Orang Lain Tanpa Penolakan dan Rahasia Menjadi Orang yang Disenangi Banyak Orang.

#2 Today Matters (John C. Maxwell)

Today Matters karya John C. Maxwell

Kalau kamu bingung, hal apa yang harus saya perbaiki untuk menjadikan diri saya lebih baik? Atau saya harus mulai dari mana dulu supaya kehidupan saya lebih baik ketimbang sekarang? Buku ini keren banget. Kamu tidak akan merasa rugi karena membaca buku karya Bapak John C. Maxwell ini.

Beliau mengajarkan kita untuk mengambil keputusan yang sederhana atas 12 hal berikut:

1) Attitude: Dalam banyak bukunya, Maxwell sangat menekankan perihal attitude atau sikap. Saya memilih sikap saya setiap harinya. Apakah saya memilih untuk menjadi pribadi yang pesimis atau optimis. Pribadi yang bermental fixed atau growth, semua tergantung saya. Setiap kali saya mengawali hari dengan menyerah, maka tidak ada kemungkinan hari tersebut menjadi baik, pasti bercela.

2) Priority: “Make sure you work on the things that are most important daily. It is easy for us to get caught up with the urgent. Close your browser and turn off your phone for a while and get focused on those key tasks that provide great long term dividends.”[1]

Saya mulai benar-benar tersadar akan pentingnya membuat skala prioritas juga setelah membaca buku ini. Dengan jelas, dia menjabarkan mana yang harus didahulukan. Bukan karena desakan lingkungan, tapi kegiatan mana yang paling menambah nilai untuk diri dan lingkungan? Maka didahulukan.

Setiap malam sebelum tidur, tulis daftar everything that you want to do tomorrow. Then, score each point. For example, you have five points to do, then you put the most valuable activity to the top. Mudah, bukan?

3) Health: John C. Maxwell mengalami sebuah serangan jantung sampai dia hampir meninggal. Lalu dia sadar, bahwa apa yang dia miliki, perjuangkan, semuanya tidak akan bernilai manakala fisiknya tidak sehat. “Lantas, buat apa semuanya jika saya mengacaukannya dengan mengacuhkan kesehatan saya sendiri?” Sejak itu, dia mulai berolahraga rutin setiap hari.

And since that, he’d never got heart attack anymore..

4) Family: Keluarga merupakan harta paling berharga. Buku ini memberi pelajaran kepada saya pentingnya komunikasi kepada anggota keluarga. Tidak hanya itu, dalam buku ini, John C. Maxwell menjelaskan ketidaksetujuannya dengan quality is better than quantity, but both are the best.

5) Thinking: Dalam buku Gen Z, ada satu kalimat yang saya ingat: “pekerjaan paling sulit adalah berpikir.” Kata Henry Ford. Meluangkan waktu untuk kontemplasi juga penting untuk pengembangan diri.

6) Commitment: Mempertahankan apa yang menjadi janji untuk orang lain atau diri sendiri. Komitmen terhadap niat dan tujuan. Buku ini sangat membantu diri saya menjaga ritme hidup keseharian saya.

“Don’t force 100 meters sprinter to run 10 kilometers at once.” Saya mendapat kalimat ini dari Tere Liye sekitar tiga tahun lalu di UPN Surabaya. Menjaga komitmen ibarat berlari maraton. Harus mengetahui di titik mana kita sedang berada, dan berapa kilometer lagi untuk mencapai finish. Kamu akan dikasih tahu cara mengelola tenaga, pikiran, dan mental dalam buku ini.

7) Finance: “Orang yang miskin cenderung tulalit atau IQ-nya lebih rendah dari orang-orang yang kaya.” Dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell juga dijelaskan dengan sangat gamblang mengapa hal demikian itu terjadi?

Ada istilahnya, Cognitive Depletion. Orang yang miskin memiliki kemungkinan besar tetap miskin, sedangkan orang kaya lebih memiliki peluang tetap menjadi kaya atau semakin kaya. Oleh karena itu, Maxwell dalam buku ini mendorong kita untuk cerdas dalam mengelola keuangan. Penasaran?

8) Faith: Iman atas sesuatu yang agung dan Mahabesar ternyata kunci seseorang mencapai titik yang baik dalam hidup.

Bagaimana nilai-nilai spiritual mampu mendorong seseorang mencapai impian dan cita-citanya? Apa implikasi keyakinan akan Tuhan terhadap tindakan, perilaku, pemikiran, dan karakter seseorang? Baca deh bukunya.

9) Relationship: Kalau ini hubungan dengan pasangan (suami-istri). Maxwell mengulas fungsi dirinya sebagai suami dan bagaimana istrinya berdiri di sampingnya untuk dirinya setiap saat dan setiap waktu.

10) Generousity: Allah akan melimpahkan rezeki bagi mereka yang dermawan terhadap saudaranya. Sepertinya, kamu pun tidak asing lagi dengan nasihat itu, bukan?

Tapi, sebaiknya kamu baca deh buku Today Matters karena kedermawanan ternyata tidak sesempit itu. Kamu akan berpetualang menyusuri pemikiran John C. Maxwell dari bukunya tersebut tentang kedermawanan.

11) Values: Sisihkan kegiatan-kegiatan yang tidak menambah nilai apa pun terhadap lingkungan dan dirimu. Itu inti dari poin ke sebelas.

12) Growth: “I don’t think there’s a single Maxwell book that doesn’t recommend that the reader develop his own Personal Growth Plan. If you don’t plan, it won’t happen. He recalls that in childhood, physical growth and mental learning seemed natural and occurred with very little effort. But as he gets older, my, how times have changed!”

Itulah poin-poin garis besar buku Today Matters-nya John C. Maxwell. Kamu tidak akan menyesal membaca buku tersebut.

#3 The Lean Startup (Eric Ries)

Karya Eric Ries

Kebetulan saya sedang mendirikan startup, jadi buku ini semacam kitab suci bagi saya. Saya baca berulang kali. Tulisannya Eric Ries sangat mudah dipahami, banyak humornya, dan bahasanya membuat diri saya seperti berhadap-hadapan langsung dengan dia.

Eric Ries adalah Co-Founder IMVU. Dia menceritakan perjalanannya sebagai entrepreneur. Di awal bukunya, dia mendefinisikan startup dan entrepreneur. Menurutnya, startup adalah lembaga profit atau non profit yang sedang mengusahakan produk atau jasa baru. Dan seluruh tim yang terlibat dalam proyek tersebut adalah entrepreneur.

Startup hidup dalam ketidakpastian yang ekstrem, jadi butuh kiat-kiat aplikatif untuk menjaga supaya tetap stabil lalu bertumbuh. Buku The Leasn Startup cocok bagi siapapun yang sedang memegang proyek inovasi baru atas produk, jasa, atau bahkan lembaga.

Melalui bukunya, Eric Ries mengajarkan saya tentang bertumbuh. Terkadang, apa yang diusahakan tampak berjalan, padahal sebenarnya stucked in the place. Bukannya bertumbuh, malah sekadar buang-buang sumberdaya: manusia, dana, waktu, dan sebagainya.

Eric Ries memberi beberapa alat ukur pertumbuhan dalam bisnis. Ada tiga. Dengan alat ukur tersebut, keputusan seorang CEO atau owner, lebih kecil akan berakibat pada kesalahan. Karena, kita belajar membuat sebuah keputusan berdasarkan data-data faktual dan dipelajari secara ilmiah.

#4 Tipping Point (Malcolm Gladwell)

Kenapa sih ada iklan yang menjadi tren tapi ada juga yang tidak? Kenapa sih ada hal kecil yang tidak kita sukai tapi justru viral dan menyebar dengan cepat (epidemi)? Jawabannya ada di buku ini.

Ada kelekatan (stickyness), hukum yang sedikit (law of the few), dan terakhir adalah kekuatan konteks (the power of context). Kamu jelas butuh buku ini kalau ingin usahamu berakhir menjadi epidemi dan sulit hilang dari masyarakat.

Sebagai seorang pengusaha, saya pun berterimakasih dengan Malcolm Gladwell atas bukunya yang luar biasa ini. Sehingga saya berpikir keras bagaimana menumbuhkan epidemi atas produk saya kepada khalayak umum. Kamu tidak akan menyesal membeli buku ini!

 

#5 The Power of Habit (Charless Duhigg)

 

Sebuah karya ilmiah yang dikemas santai mengenai rahasia otak manusia. Charless menyampaikan dengan lugas seperti wartawan yang menggigit dan merobek-robek sebuah fakta tersembunyi di balik sebuah kejadian akibat kebiasaan dan memori otak manusia.

Charless menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana mengubah kebiasaan negatif menjadi positif. Di awal bukunya, dia bercerita sebuah kisah atas perempuan yang bernama Lisa. Perempuan ini masuk ke dalam lingkaran kebiasaan setan. Dia kecanduan rokok, minum-minuman keras, serta kasino. Ia ditinggal suaminya, rumahnya hilang, dan kehilangan semuanya.

Lalu, tiba-tiba dia berhasil mengubah dirinya sendiri. Dia berhasil lolos dan bangkit dari jurang yang gelap nan dalam tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Apa rahasianya? Charless menjelaskan dengan uraian ilmiah berdasarkan penelitian yang dilakukannya bertahun-tahun.

Berkat buku ini, saya semakin paham bahwa kebiasaan sangat menentukan sebuah perusahaan atau individu mencapai kesuksesan. Saya tidak menyesal membacanya sampai habis dan memamerkannya pada teman-teman saya, hehehe….


Itu dia 5 Buku yang Saya Tidak Menyesal Karena Membelinya. Semoga bisa bermanfaat buat kita semua.

Jangan lupa baca artikel saya lainnya yang berjudul  Teman-temannya Sedang Belajar, Anak ini Malah Menggambar Spiderman | Pengalaman Masuk Kelas 1 SD Pomosda.

Untuk mendapatkan update artikel saya di blog saya ini, silakan berlangganan blog saya dengan mengisi alamat e-mail kamu di kolom bawah ini!

[1] Source: http://www.thinkingserious.com/2007/11/30/add-these-12-daily-steps-to-your-routine/

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering