3 Rahasia Mempengaruhi dan Mengubah Orang Lain Tanpa Penolakan

Pagi ini, salah satu teman saya chat saya. “Heran sama orang-orang, kenapa kalau yang ngajak kamu kok mau ya?”

Ceritanya begini, pagi ini saya dan beberapa teman saya jogging bareng-bareng.  Teman-teman yang saya ajak adalah teman-teman yang suka mager. Jangankan lari, olahraga ringan saja jarang mereka lakukan. Tapi, what happened to them? Kok mereka bisa mau saya ajak? Padahal, teman yang chat saya itu pernah juga lho mengajak mereka.

Daripada saya ngetik panjang lebar di HP mending saya ngetik di laptop, sekalian nambah post di blog, kan? Hehehe…

Saya sadari, memang saya memiliki latar belakang yang powerful untuk mengajak orang lain. Itu karena keberadaan bapak saya. Tapi tahukah kamu jika berada dalam posisi saya, latar belakang justru bisa menjadi boomerang bagi saya sendiri.

Kaesang bisa dimusuhi banyak orang meski bapaknya adalah seorang presiden, tapi juga bisa sebaliknya. Semua tergantung pada Kaesang, apakah dia mampu menjadi bermanfaat untuk orang lain atau tidak. Kalau Kaesang bertingkah salah sedikit saja, masyarakat bisa gempar. Tapi kalau ke arah yang benar, kekuatan Kaesang sangat besar untuk memberi pengaruh positif.

Saya rasa posisi saya kurang lebih sama dengan Kaesang – meski kalau dibanding Kaesang, saya tidak ada apa-apanya. Keluarga saya orang cilik biasa.

Dalam salah satu tulisannya Ainun Nadjib, seorang anak tidak ingin kehidupannya dikaitkan dengan bapaknya yang seorang menteri, presiden, super hero. Anak ingin dipandang sebagai dirinya, bukan karena bapak, ibu, simbah, buyut, atau siapa pun. Pun begitu pula saya. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Saya tidak ingin, bayang-bayang bapak saya justru memberatkan saya atau mengikat diri saya.

Arif adalah Arif. Arif adalah anak biasa yang juga belajar dari kehidupan ini. Arif Asatar adalah anak negeri yang ingin berjuang di dunia untuk akhirat, sama seperti orang-orang lain bahkan meski dengan orang kere di bawah jembatan. Saya tidak ada beda sama sekali dengan siapa pun.

Mungkin ini puncak dari perasaan saya. Sudah banyak sekali orang yang bilang kepada saya bahwa, “ah enak jadi kamu, orang-orang pasti nurut sama kamu!” Ada juga yang ingin memperalat saya sebagai pelicin. “Kamu aja yang bilang, pasti nanti setuju!” Banyak pula yang iri sama saya sampai kadang saya sadar banyak yang tidak suka dengan saya karena latar belakang ini – yang saya sendiri tidak bisa memilih saat saya lahir.

Senada dengan chat teman saya pagi ini. Hati saya merasa meledak! Saya sangat sakit hati. Oleh karena itu, saya menulis ini supaya hati saya redam. Banyak yang bilang, writing is emotional healing.

Saya berpikir, kenapa semua orang mengambil sudut pandang seperti itu terhadap saya? Apakah tidak ada faktor lainnya yang membuat orang lain percaya, memberi trust, atau terpengaruh dengan saya? Apakah benar-benar semata-mata karena murni latar belakang saya? Atau jangan-jangan sebenarnya saya itu tidak memiliki teman sama sekali, mereka mau berteman dengan saya hanya karena latar belakang saya?

Saya sering merasa ciut, sedih, dan marah saat orang lain berbicara seperti itu di depan saya. Mereka benar-benar tidak berpikir dengan sudut pandang saya. Kata-kata mereka dianggap biasa padahal menghujam dan menusuk sekali.

Jujur saja, selama saya hidup. Dua puluh dua tahun saya belajar dari banyak hal: Guru saya, orangtua saya, lingkungan, sekolah, buku-buku, film, video, dan masih banyak lagi. Saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang tidak dibenci oleh orang lain. Sejak kecil, satu hal yang saya takutkan adalah, dibenci oleh orang lain. Itu kelemahan saya.

Naturally, I tried to learn everything, how to speak to each other, how to listen to other people, how to walk, how to think, and so many other things.

Saya suka memiliki banyak teman. Sejak kecil saya suka bermimpi. Sepertinya, saya memiliki daya imajinasi yang kuat. Membayangkan beberapa tahun ke depan. Lalu membuat langkah-langkah bagaimana menggapai mimpi itu supaya bisa menjadi kenyataan. And it worked…

Saya percaya, orang-orang di sekeliling saya mau bersama-sama memperjuangkan mimpi bukan karena latar belakang saya. Saya percaya, mereka mau bergerak bukan karena saya. Saya percaya orang lain mau berubah juga bukan karena saya, tapi karena dirinya sendiri. Saya hanya faktor lain yang membantu mereka untuk mewujudkan perubahan itu.

Tapi bukan berarti saya tidak memiliki metode. Kalau dari sudut pandang saya, orang-orang yang mengeluh kepada saya betapa orang-orang tidak mau menuruti perintah, komando, dan ajakan mereka sebenarnya karena metodenya yang kurang tepat. Tapi mereka terburu-buru putus asa lalu menyalahkan keadaan, sampai menyalahkan lingkungan, sampai saya dibawa-bawa. “Coba kalau kamu yang mengajak mereka, pasti mereka mau!” Ini jleb banget buat saya.

Itu salah kamu sendiri. Kamu yang tidak punya metode. Pribadimu memang tidak dapat dipercaya oleh orang lain! Saya hanya bergumam dalam hati, tapi tetap tersenyum di depan mereka-mereka yang mengeluh kepada saya.

Sebenarnya, daripada mengeluhkan hal tersebut, bukankah lebih baik bertanya? “Mas Arif, bagaimana sih supaya orang lain mau menerima kita, mau kita ajak, dan terpengaruh dengan kita?”

Kalau datang untuk bertanya, saya akan berusaha membantu menjawab – tentu sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, dan wawasan saya yang serba terbatas dan cupet ini. Oke, begini, di bawah ini adalah tips bagaimana cara supaya orang lain mau mendengarkan kita, menerima kita, mempercayai kita, dan terpengaruh oleh kita.

#1 Buat Orang Lain Merasa Nyaman

Buku rekomendasi saya untuk bab yang lagi saya bahas. sumber gambar: https://cdn.gramedia.com/uploads/items/re_buku_picture_update_89197.jpg

Sebelum orang lain mempercayai kita, orang lain harus merasa nyaman dulu dengan kita. Itu yang pertama. Tapi bagaimana caranya?

Kenali orang tersebut dengan baik. Hindari segala hal ucapan, tindakan, atau penampilan yang membuat orang lain tersebut tersinggung. Berpikirlah dengan sudut pandang mereka, bukan membawa sudut pandang diri kita sendiri.

Banyak-banyak mendengarkan mereka bisa membantu kita mengenal mereka. Dengan begitu, kita tahu apa yang mereka suka, apa yang mereka tidak suka, dan bagaimana cara berpikir mereka. Just let it flow, you’ll get the best result.

Terkadang, ada orang yang kekeuh mempertahankan sudut pandangnya kepada orang lain. Inilah yang membuat orang lain tidak nyaman sama sekali. Kalau orang lain saja sudah tidak nyaman dengan kita, mau bagaimana lagi?

#2 Buktikan Rasa Sayang

 Dalam paparannya di TED Talk, Simon Sinek bilang, emosional mengalahkan rasional dan logika di level tertentu. Nah, segala bentuk hijab yang membuat orang lain tertutup dengan kita adalah merasa disayang.

Bukti rasa sayang adalah pemberian, but not always a gift. Pemberian bisa berupa perhatian, bantuan, waktu, atau benda termasuk uang, makanan, dan sebagainya.

Ini juga sering saya pakai untuk mendekatkan orang lain kepada saya. Kalau pas lagi ada uang, ya ayok traktiran. Kalau pas lagi ada waktu, ayok main nonton. Kamu hendak ngomong, saya dengarkan. Intinya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan uang untuk orang lain. Dalam Islam disebut sedekah. Anyway, sedekah itu selalu positif kok! Meski tanpa pamrih, Allah pasti akan membalas dengan cara yang tidak bisa kita duga-duga.

Sekarang pertanyakan kepada dirimu sendiri, sudahkah kamu menyatakan sayangmu kepada teman, sahabat, rekan kerjamu? Ingat, sayang yang terbuktikan, bukan sekadar ucapan.

#3 Perbaiki Diri

Bisa jadi, saat orang lain tidak menerima diri kita, sebabnya adalah pribadi kita sendiri. Mungkin kita masih belum bisa membuat orang lain nyaman atau bisa jadi ucapan kita sering menyakiti orang lain. Mungkin, kita sering tampak buruk. Mungkin komunikasi kita buruk, sikap kita, atau penampilan kita buruk.

Satu hal lagi yang menurutku penting: wawasan. Ada istilahnya, karisma. Karisma adalah persona yang dibawa orang lain karena orang tersebut berwawasan, tenang, tegas, dan terkesan dewasa. Sehingga orang-orang di sekitarnya selalu merasa aman.

“Pokoknya kalau ada dia, aku merasa aman dan nyaman aja, tapi enggak tahu kenapa ya?” Tapi ini konteksnya di hal lain selain pacaran. Kalau pacaran, mau laki-lakinya bagaimana juga tetap akan nyaman. Karena sudut pandangnya tidak lagi objektif. Yang saya maksud merasa aman dan nyaman saat ada sosok tersebut adalah saat kita dalam pekerjaan yang sama, situasi yang sama, dan lain sebagainya.

Selain wawasan, penampilan juga demikian. Memang ada pepatah bilang, don’t judge by its cover, tapi mau siapa pun juga, first impression adalah dari penampilannya. Penampilan yang saya maksud adalah penampilan yang memberi kesan rapi, smart, bersih, teratur, mapan, dan sebagainya. Bukan semerta-merta gaul.

Itu dari sisi lahiriyah. Saya pernah mendengar kajian An-Nubuwah, Guru saya, Bapak Kiai Tanjung memberi fatwa seperti ini, “yang utama dalam pendidikan adalah pembentukan akhlak dan adab. Kalau akhlak dan adabnya bagus, sisi lahirnya akan dengan sendirinya mengikuti.” Kurang apa lagi?

Source:https://cdn.psychologytoday.com/sites/default/files/field_blog_entry_images/2017-08/grit-success-workthrough-it.jpg

Berarti kita harus senantiasa introspeksi diri saat orang lain ada yang kurang nyaman dengan kita. Saya pun juga begitu. Saya selalu mengembalikan segala sesuatunya pada diri saya sendiri. Keyakinan saya saat ada sesuatu hal yang berjalan kurang baik, itu karena murni salah saya. Pasti ada letak salahnya di mana. Biasanya yang berat adalah mengalahkan ego diri sendiri, sehingga berat untuk mengakui kesalahan diri sendiri.

Sekali lagi, perbanyak wawasan dengan membaca buku, menyimak tenaga ahli, pakar, atau profesional. Logikanya, mana mau orang lain percaya dengan visi dan misi kita kalau kita sendiri bingung bagaimana cara meraih visi tersebut? Jangankan langkah-langkah nyatanya, menjawab apa visi dan misinya saja tidak bisa menjawab. Kalau seperti ini lantas bagaimana?

Nah, saya kira cukup tiga hal itu. Kalau ada yang lain, itu bisa saja. Tiga hal tersebut juga saya tulis dari pengalaman atau buku-buku yang saya baca. Selain itu juga dari pengamatan saya terhadap Guru saya: alm. Mbah KH. Mohammad Munawwar Afandi dan Bapak Kiai Tanjung.

***

Kembali ke cerita awal, kenapa teman-teman mau saya ajak lari pagi? Karena saya membangun opini dengan membuka paradigmanya terlebih dulu tentang lari pagi. Tekad harus datang dari mereka sendiri, bukan saya. Yang berjuang adalah mereka sendiri, bukan saya.

Rasional mereka harus tersentuh terlebih dulu. Mereka harus tahu mengapa mereka harus lari pagi. Bukan sekadar biar sehat saja. Motivasinya harus lebih kuat dari itu. Bahwa lari pagi melatih grit. Grit dalam bahasa Indonesia, adalah tekad.

Source: https://cdn.gramedia.com/uploads/items/9786020381596-_Grit_Kekuatan-Hasrat-dan-Kegigihan.jpg

www.arifasatar.com

Source: https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/I/41jHYYiiS0L._SX324_BO1,204,203,200_.jpg

 

Kesuksesan seseorang tidak semerta-merta dari bakat atau IQ, tapi grit. Ini juga ada bukunya, Outliers karya Malcolm Gladwell, kemudian Grit karya Angela Duckworth – di TED, Angela juga ngomongin Grit.

Saya pernah mendapat sebuah wise word, “Jangan paksa pelari sprint 100 meter untuk berlari maraton 10 kilometer.”  Untuk mengejar sebuah mimpi, visi, dan misi, perlu ketabahan dan tekad (grit), bukan sebatas bakat dan IQ. Itu mengapa banyak orang pintar gagal, banyak orang berbakat gagal, tapi banyak pula orang miskin berhasil atau orang dengan IQ buruk justru berhasil dalam hidupnya.

Olahraga yang menguji ketabahan dan tekad adalah maraton. Latihannya dengan jogging. Saat teman-teman menerima itu, mampu menghayati itu, dengan sendirinya tekad mereka yang mengubah mereka. Bukan karena latar belakang saya. Karena faktanya, lebih banyak orang yang menolak ajakan saya daripada menerima ajakan saya.

Hal-hal tersebut pula yang saya coba lakukan dalam membawa tim saya untuk meraih visi dan misi. Saat kita bisa menjawab pertanyaan mereka, “why do we must struggle to reach our vision?” Kenapa kita harus memperjuangkan visi tersebut? Saat kita bisa menjawab hal tersebut, ledakan tekad akan membara dalam diri mereka sendiri, dan susah padam. Karena visi tersebut tidak lagi milik saya, tapi kita.

Jadi, hentikan keluhanmu tentang keadaan atau kondisimu. Bisa jadi, semua itu karena diri kita atau metode kita. Sampai sini, semoga bisa bermanfaat. Bye…..!


Beberapa rekomendasi buku untuk kamu yang ingin meningkatkan diri (self improvement):

  1. Buku-bukunya Malcolm Gladwell.
  2. How to Win Friends and Influence People (Dale Carniege).
  3. Buku-bukunya John Maxwell.
  4. Grit, karya Angela Duckworth.

Isi kolom di bawah ini untuk berlangganan blog saya!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering