Pengalaman Operasi Mata (Lasik), Sekarang Bebas Dari Kacamata

“Berapa lama lagi, Dok, mata saya bisa normal lagi?”

“Dua minggu ya, Mas!”

“Whaaat!” Kata saya. Jelas kaget. Saya membayangkan bagaimana hari-hari saya dengan mata yang tidak normal. Terlebih saya membayangkan semuanya dengan sangat buruk.

Jadi begini ceritanya, 2 Minggu yang lalu. Kalau tidak salah tanggal 27 September 2018, tepatnya hari Kamis, saya menjalani #OperasiLasik di Surabaya Eye Clinic. Sehari sebelumnya (Rabu, 26/09) saya menjalani beberapa tes mata termasuk dicek minusnya berapa, retinanya, kornea, pupil, dan sebagainya. Saya sendiri kurang tahu bagaimana detilnya, tapi yang jelas saya pindah dari alat satu ke alat yang lainnya. Kamu bisa cek langsung ke website resmi Surabaya Eye Clinic. Cek saja di Google.

TES PRA OPERASI

Sumber gambar dari website resmi Surabaya Eye Clinic

Nah, setelah mata saya dites, ternyata kondisi mata kanan saya sudah PARAH. Di jarak tertentu yang relatif dekat pun saya tidak mampu membaca tulisan. “Mata kanan sudah tidak normal, syarafnya sudah malas untuk mengirim informasi ke otak, kalau dibiarkan bisa tambah parah, makanya besok langsung disarankan operasi.” Kata perawat ahli di sana saat itu.

Ibu saya khawatir mengetahui hal itu. Langsung saja, bapak dan ibu saya merestui saya untuk menjalani operasi lasik — ceileh bahasanya merestui, kayak apa aja….. :-b

Jenis Lasiknya yaitu, Z-Lasik. Biayanya 25 juta termasuk segala cek mata, obat, dan kontrol 3 kali (1 hari, 7 hari, dan 30 hari paska operasi). Menurut keterangan di website, Z-Lasik termasuk alat canggih terbarukan dari yang sebelumnya, yaitu FEMTO Lasik. Keduanya adalah operasi mata tanpa pisau bedah yang tingkat keamanannya sangat tinggi. Jadi, sebenarnya tidak usah khawatir dengan cerita-cerita mitos tentang kegagalan operasi Lasik.

Saya sudah sangat bersyukur sekali saat perawat bilang mata saya memenuhi syarat untuk dioperasi. Yang memengaruhi mata saya bakal bisa normal tanpa minus adalah ketebalan kornea. Jika kornea saya tipis, berarti tidak memungkinkan mata saya bisa kembali normal atau tanpa minus. Kebetulan, kata perawatnya, mata kanan saya tidak akan normal lagi atau tanpa minus. Menyisakan minus satu.

Agak sedih sih saat Perawat bilang begitu. Karena, saya inginnya kedua mata saya tanpa minus. Tapi yasudahlah, daripada pakai kacamata tebal, mata kanan minus 10 mata kiri minus 8. Mendingan mata kiri normal mata kanan minus 1. Setuju tidak?

Esoknya, hari Kamis (27/09), saya dan ibu saya balik lagi ke klinik untuk operasi. Operasi dimulai pukul 12.00 WIB. Sebelum operasi, saya dicek ulang oleh dokternya langsung seperti sehari sebelumnya. Saat itu, dokternya adalah Dr. Ratna — saya tidak tahu nama lengkapnya. Saya sudah cari-cari nama dokternya di website tidak ketemu. Yasudahlah.

Saat itu, dokternya juga menekankan ulang bahwa mata kanan saya memang agak parah. Jadi, Beliau menekankan kepada saya bahwa mata kanan saya setelah di-Lasik tidak akan kembali normal sempurna seperti mata kiri. “Oke, tidak masalah, Dok!” Kata saya saat itu.

Setelah dites, saya ganti baju khusus yang dipakai untuk operasi. Itu lho baju pasien yang cupu, warna hijau kombor-kombor. Saya melarang ibu saya untuk mengambil gambar saya karena tidak keren sama sekali :-v

WAKTUNYA OPERASI

“Mas Arif, silakan masuk!”

Jujur saja, saya tidak merasakan kegugupan sama sekali. Takut ini, takut itu. Saat itu rasanya benar-benar biasa aja. Saya yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada saya. Itu saja.

“Mas, nanti ikut perintah kami ya, terus menatap lurus ke atas, melihat lampu berwarna merah dan hijau.” Salah satu perawat mendikte saya sebelum masuk ke ruangan operasi. Saya mengangguk.

“Ayo, Mas, saya bimbing ke ruangan, kacamatanya biar tinggal aja di luar.” Si perawat perempuan tersebut memegang pundak saya dari belakang, menuntun saya menuju alat operasi. Alatnya canggih. Saya disuruh tiduran. Suhunya dingin banget. Kepala saya tepat menghadap ke semacam helm. “Oke, mas, sudah bisa melihat cahaya merah dan hijau?” “Sudah”.

“Mas, nanti saat operasi jangan bergerak, jangan berbicara apa pun, ya?”

“Saya mengerti, Mbak!” Jawab saya.

Tim Lasik Surabaya Eye Clinic

Lantas, proses operasi pun dimulai dalam keadaan sadar. Benar-benar sadar. Saya jadi teringat detik-detik saya mau sunat dulu. Saya juga disunat dalam keadaan sadar. Benar-benar sadar. Pokoknya, bukannya takut, malah cekikikan dalam batin selama menjalani operasi Z-Lasik saat itu.

Lagi pula, lebih mengerikan kalau sunat gagal daripada Lasik gagal, bukan? Xixixixixi…… :-X

Operasi berlangsung sangat cepat. Perkiraan saya tidak ada 10 menit. Dua mata sekaligus. Setelah selesai, saya diminta berdiri, berbalik arah. Dr. Ratna berdiri di depan saya. jaraknya sekitar enam meter. “Mas, ini berapa?” Tangan kanannya mengacung ke atas. “Satu!”

“Ini berapa?”

“Tiga!”

Seperti itu sampai kurang lebih lima kali. Saya juga tidak menghitungnya. Dr. Ratna kasih jempol artinya hasilnya bagus. Setelah itu, saya keluar ruangan. Dipertemukan lagi dengan ibu saya yang menjaga saya di ruang tunggu. Saya didudukkan dekat ibu saya di sebuah sofa yang sangat nyaman dengan berkacamata hitam.

“Gimana, Le?” Tanya Ibu.

Alhamdulillah, berkat pangestu Bapak dan Ibu, lancar kok, Buk!” Jawab saya.

“Ini teh, mau enggak?”

‘Enggak usah, Buk.”

Saya duduk di situ sambil merem. Kata perawatnya saya harus merem selama kurang lebih 20 menit atau 30 menit — saya lupa. Setelah selesai, saya ganti baju, lalu diberi obat tetes. Obat tetesnya ada dua. Satu antibiotik satu lagi yang fungsinya mencegah mata kering.

Keluhan di awal paska operasi adalah mata yang terasa kering. Saya merasakan itu selama seminggu lebih. Tapi sekarang sudah normal kembali. Saya disarankan untuk meneteskan obat tetes mata sesering mungkin untuk menghindari mata kering.

“Silakan Mas Arif untuk dicek lagi oleh dokternya.” Saya mengikuti perawat lagi menuju ruangannya Dr. Ratna. Di dalam ruangan tersebut, mata saya dites lagi. Tesnya hampir sama seperti saat kita memeriksa mata kita di optik. Ada tulisan di depan kita dengan jarak tertentu, apakah mata kita bisa membaca atau tidak. Hanya itu. that simple, isn’t it?

Setelah semua selesai, saya dianjurkan untuk tidak pulang ke Nganjuk dulu. “Mas-nya tidak boleh kena goncangan dulu, Bu. Soalnya, klep korneanya bisa geser lagi kalau enggak hati-hati. Disarankan menginap di sekitar sini saja.” Saran Dokter kepada ibu saya.

Sehari semalam, saya dan ibu saya menginap di hotel Ibis yang letaknya bersebelahan dengan klinik. Tepat disebelahnya. Sebenarnya di sekitaran klinik ada penginapan yang lebih murah sih, tapi saya ingin yang nyaman saja. Dan Ibis Hotel jadi pilihan saya saat itu. Kami mendapat harga khusus untuk pasien. Kalau tidak salah, kena potongan harga 60 ribu sampai 70 ribu. Saya lupa.

Sehari semalam pula saya diharuskan untuk banyak-banyak merem. “Supaya cepat sembuh, Mas Arif harus banyak merem. Pokoknya merem aja.” Kata Dokter.

Bagian inilah yang paling bikin tidak betah. Kebayang, sebelum operasi, imajinasi saya sudah berkelit dengan segala aktivitas fisik seperti berolahraga renang, badminton, sepak bola, dan lainnya. Namun, sayang sekali, saya harus bersabar sampai sebulan. Selama sebulan saya harus off badminton, futsal, sepak bola, renang, dan sebagainya. Khawatirnya kalau tersenggol, kena shuttlecock, atau iritasi kena kaporit kolam renang.

“Boleh berolahraga setelah seminggu. Tapi hanya jogging, fitness, atau senam. Pokoknya tidak membahayakan mata.” Kata perawat sebelum saya pulang.

Itu dia pengalaman Lasik saya. Oh iya, saya melewatkan sesuatu. Sebelum menjalani Lasik, saya harus lepas kontak lensa (softlens) selama dua minggu. Dikhawatirkan pemeriksaan tidak maksimal karena mata terkena kontak benda langsung (softlens). Jadi, jangan pakai softlens selama dua minggu sebelum periksa mata.

Saat saya menulis artikel ini, artinya sudah tepat dua minggu paska operasi. Seminggu lalu saya memeriksa kembali mata saya dan alhamdulillah tidak ada sesuatu pun yang salah atau terjadi iritasi atau apalah yang berbahaya.  everything went very well. Sampai saya menulis artikel ini, alhamdulillah normal-normal saja dan tidak ada sesuatu pun yang berubah sejak paska operasi.

Ada yang tanya, apakah setelah operasi mata kita bisa minus lagi?

Jawabannya, Bisa! Kalau misal setelah operasi saya tidak menjaga mata saya, sudah otomatis saya bisa merusak mata saya lagi. Tapi, besar kemungkinannya tidak. Karena, ternyata — ini yang saya juga baru tahu — bahwa minus itu dipengaruhi oleh gen. Dan itu yang paling besar kemungkinannya.

Adik saya yang masih berusia 17 tahun, disarankan untuk menunggu sampai usianya di atas 20. Kenapa? Karena, di usia remaja,, hormonnya lagi naik-naiknya. Minus lagi ngembang-ngembangnya. Takutnya, paska operasi, kemungkinan mata akan minus lagi itu lebih besar. Itu alasan kenapa disarankan di atas 20 tahun baru Lasik.

KEAJAIBAN

Btw, ada sebuah keajaiban saat itu. Kita agak flash back dulu ke cerita di atas. Setelah operasi, yang awalnya mata saya didiagnosis tidak akan bisa normal kembali, ternyata dua mata saya bisa normal semuanya. Meski ketajaman syaraf sudah menurun, tapi di luar dugaan, mata kanan saya bisa berfungsi normal kembali.

Jujur saja, sebelum melakukan operasi, saya rajin minum jus wortel dan tomat. Setiap hari, saya mengonsumsi jus tersebut. Selain itu, yang ampuhnya lagi, tiap malam saya konsumsi 5 butir biji kelor. Bangun tidur saya minum 3 kapsul daun kelor. Setelah sarapan saya konsumsi minyak biji kelor sesendok makan. Hasilnya luar biasa. Ada sebuah keajaiban.

Setelah saya bercerita realitanya, dokter pun tidak mengelak. Beliau bilang, keadaan fisik manusia memang dipengaruhi oleh apa yang dimakan. Hal tersebut sama sekali tidak asing di dunia kesehatan.

Saran saya, mulai sekarang kalau kamu mau di-Lasik juga atau sekadar menyehatkan matamu, konsumsi makanan yang mengandung banyak vitamin A. Misalnya biji kelor, serbuk daun kelor, atau minyak biji kelor. Kelor terbukti memiliki banyak kandungan vitamin dan asam amino esensial. Kandungan nutrisinya sangat luar biasa. Sistem tubuh kita yang rusak akan perlahan dipulihkan oleh kelor.

Kandungan vitamin A dari kelor adalah 10x lipat dari wortel. Asam amino yang lengkap pada kelor mampu menjaga ketahanan tubuh kita tetap stabil dan mata kita pun juga akan sehat. Pemeriksaan sangat bergantung pada kondisi fisik pasien. Semakin sehat pasien, maka pemeriksaan akan semakin baik. Karena syaraf mata dipengaruhi oleh kebugaran fisik dari pasien.

Dilansir dari odesa.com, “Yayasan Odesa mengambil terobosan Kelor sebagai makanan sehat rakyat. Dan terbukti, banyak warga yang keluhan sakit mata bisa lebih baik keadaannya, bahkan sebagian bisa disebut sembuh setelah 2 minggu rutin meminum kelor. Ada juga yang 3 minggu baru merasakan cerahnya pandangan mata.

Kamu tidak percaya? Buktikan sendiri.

Saya punya rekomendasi tempat untuk beli produk-produk tersebut untuk kamu. Kamu bisa kilk di sini untuk melihat produk-produk yang saya bilang di atas.

Kapsul Serbuk Daun Kelor isi 100.

Serbuk Daun Kelor Lembut 500 Mesh

Sekali lagi, kalau kamu ingin tahu seputar produk kelor di atas. Bisa DM saya langsung di instagram @ArifAsatar, atau kamu bisa langsung chat via WA saya di 082234505767. Insyaallah responnya akan cepat 😉

Kalau kamu ingin tanya-tanya seputar pengalaman Lasik, bisa langsung di kolom komentar di bawah atau kalau malu, bisa DM instagram saya @ArifAsatar. 😉

Biar kamu lebih paham bagaimana proses operasi Lasik, saya tautkan dengan video yang ada di Youtube. Tonton saja videonya, tapi kalau malah bikin takut, mending tidak usah ditonton. Sebelum operasi, saya memilih untuk tidak menonton videonya hehehe……

Kalau kamu ingin mendapat kabar setiap saya posting artikel baru, silakan masukkan e-mail kamu di kolom bawah berikut ya…

Itu dia pengalaman saya menjalani Lasik. Semoga bisa bermanfaat dan bisa menambah referensi untuk kamu ya… 😉

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering