Bagaimana Supaya Beragamanya Tidak Menjadi Budaya

Saya menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1439H kepada seluruh umat muslim yang ada di seluruh dunia. Di hari yang spesial ini, saya memiliki sebuah harapan untuk diri saya sendiri: mampu mengurbankan segala hawa nafsu hewani.

Di hari yang luar biasa ini pula, saya memiliki sebuah cerita menarik untuk panjenengan semua. Semoga cerita ini bisa menjadi hikmah untuk kita semua.

Cerita ini berasal dari pengalaman empiris teman saya. Namanya Rachmat Febriarto (akrab disapa Febri). Sekarang teman saya ini sedang di Surabaya, menyelamatkan diri dari bencana Lombok sebulan terakhir ini.

Cerita dari Lombok

Saat bencana gempa pertama kali terjadi di Lombok – sekitar sebulan lalu — Febri – dengan sangat kebetulan sekali – sedang snorkling di dasar laut. Ia tidak merasakan gempa itu. Saat dia mentas dari laut, dia baru menyadari bahwa telah terjadi hal yang luar biasa di sana: rumah-rumah hancur, orang-orang panik, dan sebagainya.

Febri pun segera pulang ke kontrakannya. Ketika sinyal internet nyambung ke HP-nya, ribuan notifikasi muncul. Lombok terguncang untuk pertama kalinya – dan ternyata gempa itu adalah gerbang pembuka serentetan bencana hingga saat ini.

Ia merasakan suasana Lombok yang mencekam selama kurang lebih dua minggu. Gempa terjadi bahkan lebih dari 500 kali selama dua minggu. “Aku sampai tidak bisa membedakan apakah sekarang terjadi gempa atau aku yang pusing. Jadi kemana-mana aku bawa gelas berisi sedikit air biar bisa tahu kalau sekarang sedang gempa.” Ceritanya via telpon dua minggu lalu.

Keadaan warga di Lombok juga mengenaskan. Mereka semua kurang tidur, kurang fit, lelah, dan psikologisnya terguncang – terlebih masyarakat menengah-bawah. “Kalau aku mah gampang, tinggal beli tiket pesawat, lolos deh dari Lombok. Kalau ‘mereka’?” Katanya.

Setelah saya berbincang lama dengan teman saya ini, saya pun bertanya, “apa yang paling kamu syukuri atas kejadian Lombok dua minggu terakhir ini, kawan?”

“Nah ini, ada begitu banyak hal yang luar biasa yang aku rasakan. Aku menganggapnya sebagai hikmah.” Katanya dengan suara memelan. Kami mulai masuk ke perbincangan lebih serius. Saat itu, saya telpon dia sekitar pukul 22.00 WIB.

“Yang paling aku syukuri adalah, aku semakin merasa bahwa aku benar-benar tidak bisa apa-apa tanpa-Nya. Bahwa Dia itu benar-benar nyata ada dan aku bisa bergerak, tumbuh, melihat, pokoknya semuanya itu nyata hanya karena Diri-Nya.”

“Gitu ya, Feb?”

“Iya. Bagiku, Allah membuat segala sesuatunya ada alasan yang jelas. Memang benar, para ilmuwan bilang, ‘jangan sedikit-sedikit mengaitkan bencana Lombok dengan peringatan dari Tuhan,’ tapi menurutku, justru karena bencana Lombok secara ilmiah mampu diuraikan, manusia harusnya membaca itu sebagai ayat-ayat Allah. Bukan malah seolah-olah menganggap hal ini tidak ada campur tangan Tuhan.” Katanya agak kesal.

“Aku kesal begini bukan karena aku tidak setuju dengan para ahli atau orang-orang cerdas itu. Tapi aku kesal karena mereka menutup kesempatan manusia yang lain untuk berpikir secara rasional – bahwa segala penciptaan langit dan bumi, adanya siang dan malam, semua itu adalah tanda-tanda adanya keberadaan Allah dan seorang rasul di muka bumi!

“Kalau pernyataan mereka dijadikan tunggangan para Atheis, atau orang-orang liberalis, akan melemahkan kesadaran bahwa manusia itu tidak bisa apa-apa tanpa-Nya dan harus mendekat kepada-Nya.” Kali ini nada bicaranya mulai sedikit keras. Saya paham sekali, dia pasti kecewa karena bencana di Lombok yang seharusnya menjadi pengingat, malah diremehkan dengan sebuah kalimat, “jangan sedikit-sedikit ngomong agama, Lombok itu karena ilmiah, bla bla bla…”

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keberadaan Allah dan utusan-Nya) bagi mereka yang berpikir. (QS. Al-Baqarah [2] : 164).

Saya sepakat dengan Febri, teman saya. Dalam ayat sudah terlalu jelas, bahwa segala penciptaan di muka bumi sesungguhnya adalah tanda-tanda mengadanya Diri Dzat Tuhan dan utusan-Nya sebagai rasul. Namun, dalam pungkasannya, semua itu berlaku bagi mereka-mereka yang mau berpikir dan itu sedikit sekali.

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda adanya Ulul Albaab. (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

“Manusia emang sekeras batu. Lahir dengan berjuta-juta ton ego, gengsi, dan keakuannya. Untuk mengakui keberadaan seorang Rasul di muka bumi bagi mereka terlalu berat, meski bencana sudah di hadapan mata. Manusia hanya bisa berprasangka dan berintuisi bahwa diri mereka telah beriman. Padahal mereka baru islam, belum iman.” Kata Febri melanjutkan kekesalannya.

“Benar, Feb. Adanya sebuah ayat, wa’lamuu anna fiikum rasuulan dianggap sebagai ayat masa lalu. Padahal itu adalah sebuah petunjuk yang berlaku untuk sekarang dari Allah. Itu adalah perintah dari Allah untuk mencari seorang Rasul di muka bumi ini hingga ketemu.”

“Itulah yang sulit, Bro. Mayoritas menganggap Nabi Muhammad SAWW disebut khotamunnabiy itu berarti Beliau adalah nabi terakhir, rasul terakhir, dan tidak akan ada lagi pelanjutnya. Padahal menurut akal rasional itu tidak mungkin. Kalau tidak ada Rasul, bagaimana bisa beragamanya kita disaksikan? Bagaimana bisa kita yakin apa yang kita lakukan benar dan dibenarkan oleh Allah? Khotamunnabiy maknanya nabi penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya. Bukan berarti pamungkas.”

“Iya Feb, setuju sekali. Namun sekali lagi, kita semua tahu, tidak ada ceritanya orang gila di RSJ itu yang merasa gila. Mereka semua merasa normal. Yang dianggap gila justru orang-orang yang tidak gila. Kita bicara mayoritas dan minoritas, Feb.”

“I do know that, Man!”

Agama atau Budaya?

Mungkin tulisan saya ini menusuk atau berbeda dari yang selama ini beredar di muka bumi. Tulisan saya jelas berbeda dengan apa yang diajarkan dalam mata kuliah Agama Islam pada umumnya di kampus-kampus. Tapi, tolong jangan maju prasangkanya dulu. Baca sampai habis, dan gunakan rasional panjenengan semua.

Menurut keyakinan saya, dan keyakinan ini ada berkat penjelasan-penjelasan dari Guru saya – yang Guru saya juga juga dari Gurunya, yang rantai silsilah gulowentah nyambung rante-marante tidak putus sama sekali sampai Nabi Adam As., bahkan sampai sebelum-sebelumnya — bahwa intinya agama adalah keberadaan seorang rasul di muka bumi, di setiap zaman.

Keyakinan ini sangat rasional (menurut saya/kami). Mungkin panjenengan juga dapat merasakan keganjilan-keganjilan dalam konsep beragama selama ini. Namun, tidak berani mempertanyakan karena ada sebuah doktrin yang mendarah-daging, “jangan berpikir aneh-aneh, nanti bisa gila!”

Keganjilan-keganjilan yang seperti apa yang saya maksud? Kalau kita berpikir dengan rasional, pasti akan menemukan keganjilan-keganjilan tersebut.

#1 Allah Tidak Harus Dikenal?

1) Allah itu memiliki sifat wujud, bahkan dikatakan dalam hadits, “Allah itu lebih dekat dari urat nadi leher dan putihnya mata, jauh tanpa jarak dan dekat tanpa senggolan. Di manapun kamu menghadap di situ wajah Allah.” Tapi kita hanya mengenal namanya saja: Allah.

2) Dalam ayat-Nya (QS. Thaha [20]: 14):

 وَاَقِمِ الصَّلَاةَ لِلذِّكْرِيْ

Dan dirikanlah salat untuk berzikir (mengingati Diri Dzat Tuhan yang Al-Ghaib).

Nabi Muhammad memerintahkan umat muslim untuk mendirikan salat (sesuai firman-Nya) adalah untuk mengingat yang punya nama Allah Swt.. Sekali lagi, salat didirikan adalah untuk berzikir. Menurut yang saya pahami berdasar dhawuh Guru saya, berzikir berbeda dengan wiridan. Zikir adalah berzikir. Berzikir adalah benar-benar mengingat Diri Zat Allah – Allah adalah sebuah nama yang ada pemiliknya, dan harus dikenali. Sekarang kita pikir, sudahkah kita mengenal Allah? Sudah bisakah kita berzikir?

3) Umat muslim diperintah salat, tapi kalau dalam salatnya saahun atau lalai, maka justru mendapat azab. (QS. Al-Ma’un: 4-5):

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Maka celakalah orang yang salat tapi dalam salatnya lalai.

Bayangkan saja, Allah justru mengancam orang-orang yang dalam keadaan salat, tapi lalai (terhadap zikir). Ingat, adanya salat adalah lizzikri atau berzikir. Kalau ada orang salat tapi lalai dengan Diri Dzat Tuhan yang harus diingat saat salat, justru diancam oleh Allah.

Dari semua poin di atas, semakin memperkuat kita bahwa Allah harus dikenali. “Al-awaluddin makrifatullah”.  Dalam penjelasan Guru saya, Bapak Kiai Tanjung, untuk masuk ke wilayah ad-diin, supaya kehidupan sehari-harinya bernilai ibadah, harus makrifat dulu.

Makrifat adalah senyatanya mengenal. Mengenali Diri Dzat Allah melalui utusan-Nya yang haq dan sah. Hal ini pula mengapa seseorang baru dapat dikatakan Islam manakala bersyahadat. Dalam mata kuliah Agama Islam atau mata pelajaran di sekolah, bersyadahat adalah cukup dengan mengucap dua kalimat syahadat, beres sudah! Padahal, bersyahadat adalah senyatanya menyaksikan melalui bai’ah kepada sang imam di zaman masing-masing yang wenang dan sah – atas idzin dari Allah Swt. Melalui utusan sebelumnya.

Dahulu pun, saya merasa janggal dengan keberagamaan yang saya jalani. Apakah cukup dengan salat lima waktu, mengaji, dan semua uba rampen syari’at akan mengantarkan saya menuju keselamatan setelah meninggal dunia? Sementara saya harus bertanya kepada siapa? Setiap kali saya bertanya kepada ustaz, kiai, atau guru ngaji, semuanya selalu membentak saya dan memarahi saya. “Bocah gendeng! Kowe mikir iki terus iso gendeng!” Saya dikata gila karena berpikir, Allah harus dikenali.

Tapi setelah saya dipertemukan dengan Mbah KH. Mohammad Munawwar Afandi, Guru sebelum Guru saya sekarang, saya merasa jiwa saya bebas. Saya memang tidak pandai dalam berdalil, tapi saya sekarang bisa merasakan perbedaan dua kata iman dan islam, wirid dan zikir, syari’at dan hakikat, dan lainnya.

Saya analogikan, saya memang tidak pandai meracik kopi atau membuat kopi yang enak, tapi saya telah merasakan kopi terenak tersebut. Saya juga tidak dapat menguraikan kenikmatan dikenalkan dengan Sang Empu Nama Allah sama seperti menguraikan bagaimana rasanya kopi yang enak tersebut.

Pertanyaan yang terus mengitari kepala saya dulu, “ke mana saya akan pulang setelah meninggal dunia kalau saya tidak mengenal Tuhan? Bukankah meninggal dunia tidak selamat itu lebih mengerikan ketimbang jatuh ke kawah Merapi?”

#2 Hidupkan Kembali Nabi Muhammad SAWW!

“Apakah jika saya hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, saya akan percaya dengan diri beliau yang mengaku sebagai rasulullah padahal menurut cerita, beliau tidak kaya-kaya amat, buta huruf dan tidak bisa menulis?”

Pernah tidak panjenengan bertanya-tanya seperti itu? Saya sering sekali, bahkan sampai sekarang. Kalau panjenengan yakin dengan Nabi Isa, pertanyaannya diganti, apakah jika panjenengan hidup sezaman dengan Nabi Isa As. Percaya dengan Beliau yang mengaku sebagai rasul dengan fitnah-fitnah yang santer ditujukan kepada Beliau saat itu: Siti Maryam (ibu Nabi isa As.) berzinah?

Saya membayangkan diri saya sendiri, pasti berat sekali menerima sosok rasul di muka bumi yang hujjah-nya adalah zikir. (QS. Al-Hujurat:07)

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Ayat di atas sungguh jelas sekali. Bahwa di tengah-tengah setiap umat pasti ada rasul. Dan kita diperintah untuk mencarinya sampai ketemu. (QS. Al-Maidah:35):

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (sosok yang mempertemukan seorang hamba dengan Tuhan-Nya) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.

“Konyolnya begini bro, kita harusnya menuntut kepada Allah supaya Nabi Muhammad dibangkitkan kembali.” Kata Febri.

“Gimana tuh?”

“Iya lah, nuntut HAM sama Allah. Untuk mewujudkan hak mutlak Allah yang harus dikenali itu, kita harus juga mendapat hak kita, yaitu harus ada rasul di muka bumi sebagai pengganti Nabi Muhammad dong, kan? Orang yang mengenalkan kita dengan Allah adalah seorang rasul dan menurut cerita selama ini, berakhir di Nabi Muhammad, berarti Nabi Muhammad harusnya dibangkitkan dari kubur sekarang juga biar kita bisa tanya langsung sama Beliau!

“Iya lah, kalau kita meyakini Nabi Muhammad tidak membuat pelanjut, siapa yang wenang menjabarkan ayat-ayat Allah? Kita sendiri? Emang siapa kita? Emang kita hidup sezaman dengan Beliau? Jangan-jangan, beragama kita hanya intuisi-intuisi saja. Beruntunglah umat yang hidup sezaman dengan Nabi lalu beriman. Kita?”

Bapak Kiai Tanjung saat melakukan pelestarian ekosistem di pegunungan Wilis, Nganjuk.

“Hehe iya juga sih, Feb. You’re absolutely right. Nasib kita gimana ya? Orang kita lahir setelah Nabi wafat. Padahal kita juga butuh kenal dengan Allah. Kalau sudah wafat, siapa yang menyambungkan hamba bodoh seperti kita kepada Sang Empunya Nama Allah?”

“Iya, kan? Sebenarnya semua masuk akal. Beragama harus masuk akal, tidak cukup hanya doktrin atau sejarah atau budaya ritualnya saja. Tapi dasar-dasar keyakinan harus benar-benar dimakrifati. Biar beragamanya jelas, tidak mamang, tidak ragu, sementara yang dipertaruhkan adalah kematian. Hidup kita cuma sekali, sekalinya mati sesat selama-lamanya sesat, dan sebaliknya.”

“Terus gimana sekarang? Masih belum terima dengan mereka yang menganggap bencana di Lombok adalah kejadian alam biasa?”

“MASIH! Hahahaha…!”  Kami tertawa bersama-sama.

(QS. Ali-Imran: 144):

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Dan jangan melihat Muhammad kecuali sebagai seorang rasul (bukan fisik), sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur (beriman kepada rasul).

Ayat ini terlalu jelas jika dijabarkan. Bahwa Nabi Muhammad SAWW. Adalah sosok yang berfungsi sebagai rasul. Dan telah ada rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad, apakah jika kemudian beliau wafat, ZIKIR (mengenai Diri Dzat Allah) tidak lagi eksis di dunia? Padahal, seperti di awal, hak mutlak Allah adalah untuk dikenali semua manusia (ciptaannya). Al-awaluddiin makrifatullah. Kalau Nabi Muhammad SAWW. Tidak membuat pelanjut, nasib kita bagaimana?

#3 Bagaimana Cara Salat Khusyu’

Ini juga pasti jadi pertanyaan panjenengan semua yang membaca artikel ini, bukan? Seperti di atas tadi, Allah akan murka kepada mereka yang dalam keadaan salatnya lalai (berzikir) atau simpel-nya tidak khusyu’.

Pertanyaannya, bagaimana cara salat yang khusyu’ itu? Banyak sekali ulama, kiai, guru ngaji, yang menjelaskan dengan argumennya masing-masing. Tapi saya masih belum benar-benar puas dengan jawaban beliau-beliau. Sampai saya bertanya langsung kepada Guru saya sekarang, Bapak Kiai Tanjung.

“Salat yang khusyu’ itu ya zikir.” Jawaban yang simpel namun menimbulkan pertanyaan selanjutnya.

“Lalu bagaimana cara berzikir itu? Apakah saat salat saya hanya menyebut nama Allah terus-menerus? Atau mengartikan setiap lafal yang saya baca? Atau membayangkan neraka, surga, dan siksa kubur?”

“Berzikir ya berzikir, ada ilmunya. Kalau kamu ingin bisa berziir, tanya kepada ahli zikir. Berzikir itu mengingat yang punya nama, bukan menyebut namanya dalam hati atau malah membayangkan ini-itu.”

“Ahli zikir itu siapa?”

“Rasulullah sendiri.”

Duar!! Semakin jelas bahwa sosok rasul adalah rahmatan lil ‘alamiin di muka bumi yang hujjahnya jelas sekali yaitu tentang zikir. Kalau diteruskan, kita akan kembali ke beberapa paragraf di atas. (Al-Anbiya’: 07):

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Kami tiada mengutus sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu (mengenai Diri Dzat Tuhan) kepada mereka, maka bertanyalah kepada Ahli Zikir jika tidak mengetahuinya.

Kalau saya boleh mengurutkan, saya harus melakukan beberapa hal berikut supaya salat saya bisa khusyu’:

Pertama, saya harus mencari seorang rasul (wasilah) sampai ketemu, kemudian meminta Ilmu Zikir kepada beliau. Setelah mendapat nuhi atau bisikan mengenai Diri Dzatullah dari rasul, barulah saya bisa shalat khusyu’.

Rentetan kejanggalan ini yang seharusnya membuat hati semua manusia tergerak untuk mencari seorang rasul di muka bumi ini. Karena ayat-ayat-Nya sudah jelas dan nyata sekali. Seandainya manusia-manusia seperti saya yang bodoh, hina, nista, apes, dan kere ini mau jujur dan terbuka, yang beruntung adalah diri saya sendiri. Karena hidup hanya sekali, dan kalau mati tidak selamat (kesasar), selama-lamanya kesasar. Hidup tidak dapat diulangi lagi.

#4 Budaya atau Agama?

Itu adalah pertanyaan saya pribadi. Apakah ritual yang saya jalani ini dinilai oleh Allah? Bagaimana saya yakin kalau saya telah benar dalam menjalani perintah Allah? Sementara saya tidak mengenal Allah?

Bagaimana saya menyebut diri saya telah beriman kepada Nabi Muhammad dan menjalankan semua anjuran-anjuran Beliau padahal saya tidak hidup sezaman dengan Beliau? Bagaimana saya menyebut bahwa saya adalah umatnya Nabi Muhammad jika saya sendiri saja belum pernah ketemu dengan beliau?

Apakah saya sedang menjalankan agama atau peninggalan Nabi Muhammad (budaya)? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggerakkan saya untuk mencari, mencari, dan mencari sosok yang (menurut keyakinan saya/kami) adalah hak, sah, dan wenang menjabarkan tentang  “Al-Kitab” yang rantai silsilah gulowentah-nya tidak pernah terputus sama sekali bahkan nyambung sampai Nabi Adam As.. Saya meyakini keberadaan Beliau berfungsi sebagai rasul, karena hujjah-nya jelas sekali.

Rasul adalah sosok yang karenanya menjadi jelas, bagaimana yang sekadar budaya dan bagaimana yang ibadah itu. Melalui beliau menjadi jelas, mana yang hak dan mana yang batal. Melalui rasul, menjadi terang mana yang abu-abu dan mana yang putih. Melalui beliau, semakin gamblang mana yang halal dan mana yang batal.

Bpk. Kiai Tanjung mendampingi masyarakat untuk mandiri pangan.

“Allah tidak menampak di muka bumi, maka membuat seorang utusan.” Itu adalah dasar keyakinan saya karena sekali lagi, hujjah-nya jelas sekali, mutlak dan tidak terbantahkan.

“Sayangnya begini, Feb, terkadang manusia itu tidak mau menerima sosok manusia yang sebenarnya berfungsi sebagai rasul karena menganggap, ‘alah semua orang pasti ada busuknya, tidak ada yang tidak!’.  Manusia menyamakan rasul dengan dirinya, padahal kalau Allah berkehendak membuat seorang hamba yang bersih, suci, pasti bisa-bisa saja. Dan itu pasti ada.”

“Iya betul itu. Kita seringkali menyamakan diri kita dengan orang lain. Ah, mana ada orang suci sekarang? Pasti tetap ada busuknya. Kalimat itu sebenarnya adalah kalimat penutup dirinya sendiri untuk menerima keberadaan Rasul.”

“Ada lagi Feb, kebanyakan manusia khawatir dengan kedudukan, kehormatan, dan statusquo yang dimiliki akan hilang manakala tunduk dengan seorang rasul. Takut kalau hawa nafsu keakuannya tidak dapat dipenuhi lagi. Jadi terasa berat untuk menyatakan imannya kepada sang utusan.”

“Betul”

“Padahal, saat kita menyatakan persaksian kita dengan sang utusan, tidak akan mengurangi apa pun. Semua tetap berjalan normal. Hanya saja, bedanya sebelumnya belum kenal dengan Tuhan dan setelahnya sudah Tuhan. Itu saja. Sehingga keberagamaannya benar-benar pasti atau di dalam kepastian. Bukan lagi intuisi-intuisi yang penuh perdebatan dan pergolakan. ”

Dan, tiba-tiba Lombok diserang gempa lagi tengah-tengah malam.

“Udah ya, aku keluar rumah dulu, ada gempa!” Dan telpon kami terputus.

Bapak Kiai Tanjung memberi contoh budidaya ikan di sela-sela pekarangan rumah masyarakat Surabaya.


Saya hanyalah manusia bodoh, dungu, tidak bisa apa-apa. Saya hanya sekadar menyampaikan kebenaran. Karena ini adalah perintah Guru saya. Perihal keyakinan adalah hak masing-masing. Yang jelas gugur sudah kewajiban saya untuk menyampaikan perihal kebenaran kepada yang membaca artikel ini.

Dhawuh Guru saya, yang saya yakini sebagai rasul itu, menyampaikan kepada saya, “iki zaman akhir, zaman wes methit, bakal hana goro-goro!” Artinya, zaman sudah di ujung tanduk.  Zaman sudah methit, dan entah kapan (dalam jangka waktu yang tidak lama) akan terjadi goro-goro besar.

Sudah, kewajiban saya sudah gugur. Kalau apa yang saya sampaikan ini ditolak atau diterima, monggo. Saya sekadar menjalankan dhawuh Guru saya saja. Itu, tidak lebih. Baca juga artikel saya yang lainnya: 3 Kunci Nusantara Bangkit Kembali.

Kalau pun perihal kebenaran ini ditolak atau diterima oleh panjenengan, tidak akan mendatangkan mudharat pun kepada Allah Swt. Apalagi saya. Murni saya hanya menyampaikan berita saja, tidak lebih, tidak ada hal apa pun selain itu.

Demikian terima kasih. Semoga selalu direngkuh, dan mendapat beberan, berkah, sawab, pangestu Guru Wasithah. Amin.

Kalau belum berlangganan blog saya, silakan isi e-mail di kolom bawah berikut ya…. 😉

 

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering