3 Kunci Nusantara Bangkit Kembali

Tepat bulan ini negara kita telah berdaulat selama 73 tahun. Indonesia. Pekik Kemerdekaan dipekikkan setiap tahun di setiap lapangan dan gedung-gedung besar di daerah masing-masing. Namun, sepertinya semangat itu berhenti hanya sampai di situ. Dalam konteksnya, negara kita masih belum “merdeka” seutuhnya.

Dalam setahun ini, Indonesia telah impor beras sampai 500.000 ton dua kali. Ironi sekali. Indonesia yang memiliki tanah subur, air melimpah, sumber daya alam memadahi, namun impor beras dari negara lain. Sungguh ironi.

Menurut logika seorang pemuda tanpa gelar dan bodoh ini, saya berpikir, kalau saja makanan tidak bisa mandiri bagaimana kita bisa melindungi diri kita? Makanan adalah hal pokok yang sangat pokok bahkan krusial. Sudah keniscayaan apabila negara ini harusnya mandiri pangan.

Terlebih, pemerintah disibukkan dengan urusannya sendiri. Mereka hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Maksud saya, energi dan sumberdaya mereka habis untuk merebutkan kekuasaan dan kedudukan. Tidak sempat untuk memikirkan jangka panjang negara ini. Apa solusi yang dibutuhkan oleh negara kita? Apa solusi untuk lepas dari keterjajahan bangsa asing (masalah pangan, ekonomi, sosial, dan ideologi)?

Sebagai seorang pemuda yang cinta tanah air ini, tanah air Nusantara. Saya sebatas menyampaikan kebaikan, tidak lebih. Hanya karena diperintah oleh Guru saya untuk menyampaikan perihal langkah-langkah apa yang dapat dilakukan oleh bangsa ini — utamanya para pemuda — untuk menyelamatkan dari keterpurukan (moral, mental, ekonomi, pertanian, dan lain-lain).

Berikut adalah 3 Kunci Nusantara Dapat Bangkit Kembali:

#1 Mandiri Pangan

Satu hal yang wajib dipenuhi oleh bangsa dan negara kita adalah mandiri pangan. Kalau negara kita belum mampu mandiri pangan, maka jangan harap moral, mental, ekonomi negara ini dapat terangkat. Pasti ada yang “tertindih” dan “menindih”. Dalam hal ini kapitalis punya kehendak dan punya kuasa. Rakyat jelata hanya bisa berdoa, semoga para kapitalis masih punya hati nurani — hanya itu yang mampu dilakukan.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Ruum [30]: 41).

Allah berfirman,

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS.Huud:61)

Manusia diperintah oleh Allah untuk memakmurkan bumi-Nya, bukan mengeksploitasi bumi untuk kepentingan ego, nafsu, dan keakuan manusia. Sayangnya, masih sangat sedikit sekali masyarakat yang mau terjun langsung dengan aksi nyata memakmurkan bumi Allah. Anak muda sekarang malu dan bertani adalah hal yang paling dihindari oleh mereka. Kata mereka, hari gini bertani? Gak gaul lah yaw!

Untuk memulai langkah yang besar, seyogiannya dimulai dari langkah yang sederhana dan kecil. Mulai dulu dari rumah. Pikirkan kembali, apakah sayur yang setiap hari dimakan itu diproses dengan SOP budidaya yang sehat? Apakah bawang merah yang dimakan tiap hari tidak disemprot pestisida dan Round Up? Selama ini pernah berpikir hal ini tidak?

Kamu sudah membaca berita yang baru-baru ini muncul belum? Dilansir oleh Tempo, bahwa ada kasus di luar negeri, seseorang mengidap penyakit kanker setelah menghirup Round Up dengan intensitas cukup sering. Mengerikan, bukan? Sekarang, hati-hatilah dengan makanan yang kamu makan. Bisa jadi, dalam proses budidayanya, segala hal dilakukan oleh petani untuk memperoleh keuntungan. Klik di sini untuk membaca beritanya!

“Umat Islam dininabobokkan dengan perkara-perkara sepele: perbedaan syariat, bit’ah membit’ahkan, haram-mengharamkan, dan sebagainya sampai lupa bahwa ada segitu banyaknya perintah yang lain.” ~Bapak Kiai Tanjung.

Bercocok tanam bukanlah pekerjaan, tapi kewajiban. Sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setidaknya untuk mandiri rumah tangga. Kebutuhan sayur dipenuhi sendiri di rumah. Kebutuhan cabai dipenuhi sendiri di rumah. Sembari mengedukasi keluarga sendiri bahwa memakmurkan bumi Allah adalah perintah Allah. Bercocok tanam bernilai sama dengan menjalankan ibadah ritual.

Kompleksitas masalah pada pertanian memang seolah-olah tidak dapat dibenahi lagi. Semuanya menimbulkan efek domino. Pengusaha menjual pestisida, petani merasa bakal rugi kalau tidak pakai pestisida, pemerintah tidak tahu aplikasi teknis pertanian, yah ngalamat game over, kan?

Petani sudah tahu kalau pakai obat-obatan sintetis itu justru merusak tanah dan merugikan mereka sendiri dalam jangka panjangnya, tapi pengusaha lebih pintar membujuk petani supaya produknya laku. Sementara pemerintah, nurut -nurut aja didikte sama pengusaha. Pokoknya semuanya serba rancu.

Warga Jatayu saling membantu

Ampura dengan vertikultur di belakangnya

Tapi masih ada solusi. Bapak Kiai Tanjung memiliki solusi yang “membumi”. Jamaah Tatanan Wahyu (Jatayu) telah digerakkan oleh beliau mulai dari usia anak-anak, remaja, pemuda, dan tua untuk membumikan program Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit.

Kalau kamu penasaran dengan apa yang telah dilakukan Jatayu, silakan search di Google, dengan kata kunci “Pomosda” atau “Jatayu”. Dampak dari program Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit ini luar biasa. Tidak hanya lebih sehat, tapi juga masyarakat teredukasi (agama, moral, akhlak, mental, dan lain sebagainya).

Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit ini pula program dari Bapak Kiai Tanjung untuk membangunkan masyarakat Indonesia yang telah terlenakan dengan hal-hal non substantif dan non essensial.

#2 Pemuda yang Aktif dan Bermoral Mental Mulia

Tampaknya kalimat di atas terlalu klise buat anak-anak muda jaman sekarang. Di era informasi yang serba cepat ini pada akhirnya memberi dampak yang signifikan terhadap kepribadian anak-anak muda. Terlebih, dengan kondisi pendidikan yang menurut saya amburadul seperti sekarang ini.

Anak-anak muda hanya tahu atau hafal Pancasila. Sedikit yang bisa menjelaskan butir-butir Pancasila dalam tahap kontekstual kehidupan sehari-hari. Dan lebih sedikit lagi yang mampu mengamalkan butir-butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Zaman sekarang yang penting gaul. Urusan negara biar dipikir pemerintah. Batasan-batasan syariat tidak dihiraukan. Kenakalan remaja dianggap wajar. “Dosa mah enak!” Kata salah satu pemudi dalam video Youtube yang saya tonton — cek akun FD Haus untuk melihat kebobrokan moral dan mental pemuda Indonesia sekarang.

“Saat masih satu senti garis sudah bergeser satu derajat, derajat ujung garis itu sudah bergeser jauh dari titik nol.” Analogi yang dibuat oleh Bapak Kiai Tanjung.

Mau bagaimana lagi? Anak-anak muda pun mulai skeptis dengan urusan agama. “Kenapa harus beragama? Menjalankan ini itu segala? Lihat saja, banyak di berita yang bilang ulama, kiai, guru sekolah melanggar norma-norma agama sendiri. Guru sekolah banyak cabul. Ulama juga ada yang mesum kan?” Kalau sudah begini bagaimana lagi? Dasar mereka, “yang penting saya tidak meneror orang lain, tidak membunuh, tidak mencuri, dan sebagainya. Kalau zina, itu mah udah biasa.”

Tim Bina Kerabat Tani Jatayu sharing dengan peserta pelatihan kelor di Blora (2017)

 

Tidak hanya di pedesaan, di Jakarta pun program Kemandirian Pangan dapat diaplikasikan.

 

Sejak dini anak-anak SD Pomoda didekatkan dengan pertanian oleh Bapak Kiai Tanjung

Tri Jatmiko (Ampura) sedang melakukan perawatan tanaman di rumahnya.

Ampura bergotong royong aplikasi Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit

Agama lagi kan yang disalahkan?

Negara ini  utuh kader-kader yang siap berjuang. Bapak Kiai Tanjung mengajak anak-anak muda dengan wadah Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (Ampura) untuk bergerak secara aktif memberdayakan diri dan lingkungan. Program Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit dimotori oleh anak-anak muda yang dibina dan dibimbing oleh Bapak Kiai Tanjung. Termasuk saya.

Saya merasa sangat bersyukur karena ditempatkan oleh Allah di lingkungan yang kondusif. Batasan syariat ditegakkan, ibadah ritual dipelihara, nilai-nilai Pancasila diamalkan.

Bersama dengan teman-teman pemuda lainnya — bersinergi dengan tim yang lain — saya diperintah untuk menggerakkan masyarakat mengaplikasikan program Kemandirian Pangan dimulai dari rumah tangga sendiri. Berawal dari itu, alhamdulillah, sekarang program ini semakin membumi dan tersebar sampai hampir ke seluruh pulau di Indonesia.

Program ini dibuat oleh Bapak Kiai Tanjung bukan sebatas bertujuan mengangkat ekonomi semata. Tapi memurnikan nilai Pancasila dan yang tertuang dalam Al-Qur’an, surat Ali Imron (103):

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

……. Dan janganlah kamu bercerai-berai! Sebuah perintah dari Allah yang wajib diingat dan diamalkan oleh manusia khususnya umat muslim. “Semua kegiatan ini adalah alat untuk mempersatukan umat, tidak hanya untuk meningkatkan ekonomi saja. Nilai-nilai gotong royong terangkat, kebersamaan, kekeluargaan, dan musyawarahan.” Kata Bapak Kiai Tanjung.

Sekarang, kalau kamu sedang membaca artikel ini, mari bergabung dengan kami. Mari bergerak secara aktif untuk memakmurkan bumi Allah dan memajukan Nusantara ini biar bangkit!

#3 Memiliki Uswatun Hasanah (Imam)

Negara ini butuh sosok pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan. Bukan hanya mampu menata secara lahiriyah saja, tapi juga batiniyah. Kita ini sedang krisis kepemimpinan. Kita butuh sosok yang membawa uswah, budi, dan dharma.

Jujur saja, saya mengagumi Guru saya. Saya tidak berniat pamer atau gembar-gembor semata, tapi Bapak Kiai Tanjung adalah sosok yang menurut saya tepat dijadikan pemimpin.

Beliau tidak hanya concern pada pertanian, tapi pendidikan, sosial, ekonomi, dan teknologi. Beliau menegakkan shalat dan sangat waspada dengan batasan-batasan syariat. Program-programnya membumi dan dapat diaplikasikan oleh masyarakat. Tidak terkecuali, masyarakat atas sampai yang kere-kere (bahasa ektremnya) pun bisa.

arifasatar.com

Buku pertama saya, menceritakan sosok luar biasa: Guru saya sendiri, Bapak Kiai Tanjung.

Program beliau bukan retorika semata. Beliau bukanlah ulama yang cuma bisa ngomong tapi di belakang bejat, bangsat, dan kurang ajar. Saya rasa, sekarang kita butuh sosok yang punya dua nilai sekaligus. Cerdas dalam bersikap sekaligus suci dalam batin. Kalau pemimpinnya saja dengan batasan-batasan syariat tidak menghiraukan, shalat ditinggalkan, mana mungkin rakyatnya akan menjadi baik — mampu mengamalkan butiran-butiran Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?

Saya sudah pernah menulis buku yang mengulas tentang Guru saya ini. Judulnya Jagat Kiai Tanjung. Saya hanya menyampaikan atau bercerita bahwa di tengah-tengah kita ada sosok yang pantas kita jadikan panutan. Saya berani bersumpah, saya tidak pernah merasakan hawa negatif, niat-niat busuk, tindakan-tindakan buruk pada diri Bapak Kiai Tanjung. Beliau lebih dari sekadar low profile.

Mungkin kamu berpikir, “ah ya iya, kamu kan muridnya, pasti membangga-banggakan Gurumu dong!” Maaf, tapi saya hanya memberitakan saja. Saya pun tidak akan rugi kalau kamu tidak percaya dengan apa yang saya sebutkan di atas. Saya hanya hamba yang tidak bisa apa-apa, tempatnya salah dan dosa. Kalau saja Allah membuka semua aib-aib saya, pastilah saya tidak akan mampu menunjukkan batang hidung saya sampai saya mati.


Semuanya kembali kepada diri sendiri. Mau menjadi apa negara kita nanti juga ditentukan oleh usaha kita saat ini. Kalau tidak ada sama sekali upaya untuk memperbaiki, berapa tahun ke depan pun keadaan juga tidak akan pernah membaik.

Kalau kamu berminat gabung dengan kami (Ampura) silakan WA saya atau DM saya di Facebook, Instagram, atau mention saya di Twitter. Pasti saya balas.

Rakyat yang cerdas tentu berpikir dengan cermat sebelum memilih pemimpinnya. Doa saya ikut seperti doa Guru saya malam ini — saat kajian malam Jum’at, “Semoga Allah memilihkan yang terbaik untuk kita semua, entah tahun ini, tahun depan, atau di tahun-tahun berikutnya.” Saya mengamini doa Guru saya tersebut.

Monggo berkomentar jika dirasa ada yang kurang atau ingin sebatas berpendapat. Lalu, kalau belum berlangganan blog saya, silakan isi email kamu di kolom berikut!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering