Mencari Pemimpin yang Tepat untuk Nusantara Bangkit

Assalamualaikum, salam sejahtera semuanya…

Apa jadinya jika sebuah keluarga tidak saling mengetahui nilai-nilai fundamental yang diusung dalam keluarga tersebut? Apa jadinya jika sebuah perusahaan kehilangan nilai praktis visi, misi, tujuan, dan budaya? Akankah tetap harmonis atau justru sebaliknya?

Pertanyaan selanjutnya, apakah bangsa dan negara ini akan tenteram, damai, dan bersatu manakala nilai-nilai luhur dasar negara Pancasila kehilangan ruh dan bergeser dari sumbu asalnya? Sebenarnya, titik permasalahan negara Indonesia berada di mana? Moral, mental, kesejahteraan, infrastuktur, pangan, atau adakah sumber masalah dari semuanya itu?

Saat kita merasa bangsa ini masih dan akan tetap kokoh dengan jargon “NKRI Harga Mati!”, justru fakta berbicara sebaliknya. Berbicara tentang moral dan mental, justru dalam kurun waktu 6 bulan mulai 1 Januari hingga 30 Juni 2017, Indonesia Corupption Watch (ICW) mencatat ada 226 kasus korupsi. Kasus dengan jumlah tersangka 587 orang itu merugikan negara Rp 1,83 triliun dan nilai suap Rp 118,1 miliar (dilansir oleh Detik.com).

Krisis moral dan mental tidak hanya pada para pejabat atau orang-orang berumur, pelajar tingkat dasar sampai perguruan tinggi juga telah terjangkit virus negatif (NAPZA, sex bebas, terorisme, dan sebagainya).

Para pemuda tidak ada tajinya sama sekali, padahal ahli waris nilai-nilai Pancasila dan ke-Bhinnekaan. Apa musabab dari permasalahan yang kompleks ini?

Bias dalam memaknai nilai-nilai dalam butir Pancasila.

“Sila pertama ini tidak cukup jika hanya dimaknai yang penting punya Tuhan atau yang penting ikut agama siapa. Sila pertama menyangkut hal yang batin. Keimanan. Menyaksikan keberadaan Tuhan yang bersifat ahadiyat – satu bukan berarti di atas nol dan dan kurang dari dua, tapi maknanya wujud.” Dikutip dari Bapak Kiai Tanjung.

Fanatik atau mengabaikan, dua kata yang menginterpretasikan keadaan bangsa sekarang. Ada begitu banyak masyarakat – mulai dari yang muda sampai tua – yang tidak peduli dengan eksistensinya sebagai hamba yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan. Tidak sedikit pula masyarakat yang merasa paling dekat dan tahu tentang Tuhan – kemudian “merasa” berhak menghakimi orang lain yang dirasa “salah” dalam memilih keyakinan atau menjalankan keberagamaannya. Gejala sosial yang sekarang kita khawatirkan – termasuk moral, akhlak, dan mental – akarnya dari dua kata tersebut di atas.

Jika sila pertama dimaknai dengan tepat sesuai dengan posisinya, maka tidak mungkin gejolak sosial begitu dahsyatnya seperti dewasa sekarang ini. Jadi, kita semua belum tepat dalam memaknai sila pertama dan perlu ada yang menjabarkan tentang itu. Siapa pun yang bisa menjabarkan tentang itu, HAQ menjadi pemimpin masyarakat.

Kekeliruan pada butir pertama tentunya menimbulkan efek domino terhadap butir-butir yang lain. Masyarakat ramai-ramai melakukan unjuk rasa menuntut keadilan kepada pemerintah. Masing-masing pihak bahkan merasakan ketidakadilan dan merasa berhak menuntut. Tapi adil yang seperti apa yang diharapkan?

Menurut pemikiran manusia yang sempit, kata adil adalah tentang mendapatkan masing-masing haknya yang sesuai dengan kehendaknya. Adil identik dengan hal-hal kasat mata dan tentang materiil. Jika sila kedua digambarkan dalam imajinasi, kira-kira gambarannya akan seperti ini: semua masyarakat merasakan kesejahteraan dan memiliki harta yang sama banyaknya (adil). Kemudian tidak ada perampokan, pencurian, dan tindak kejahatan (beradab). Sesederhana itu. Pertanyaannya, apakah jika penggambaran adil dan beradab yang seperti dalam imaji tersebut benar-benar menjamin kebahagiaan? Tidakkah akan tetap ada yang merasa kurang adil? Mari kita pikirkan dalam-dalam.

www.arifasatar.com

Sumber gambar: https://3.bp.blogspot.com/-LsA1SR9s5bg/WaDnlIMxntI/AAAAAAAAGyU/4n-IJk2183gZmnwEob7uudZMl69q8x2VgCLcBGAs/s1600/islam%2Bnusantara.jpg

Sekarang ini, sulit sekali mencari bukti bangsa ini masih memiliki rasa persatuan. Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi jargon dan teori dalam kelas semata. Bukti praktisnya sama sekali nihil. Pertarungan antar kubu sudah menjadi wacana umum. Perselisihan antar wakil rakyat yang setiap hari disiarkan di televisi sudah lebih dari cukup sebagai refleksi keadaan sekarang. Perebutan kekuasaan, materi, jabatan, kehormatan, demi menuruti ego-keakuan masing-masing sudah dianggap biasa, lumrah, bahkan umum. Musyawarah menjadi tampak kuno dan usang. Keadilan dipandang hanya mimpi-mimpi dan mitos seperti neraka, dosa, dan siksa dari Tuhan. Baik dan buruk menjadi sebatas kosakata.

Peran pemuda sebagai ujung tombak bangsa sangat diharapkan. Namun, potensi tersebut akan mati jika tidak ada upaya dari semua pihak. Anak-anak muda sangatlah rentan tersusupi idealisme non-Pancasila. Sedari sekarang, perlu upaya yang masif untuk menyelamatkan generasi selanjutnya. Harapannya,bangsa kita sendiri (civil society) menjadi pinoneer perubahan. Kita harus mandiri dan berupaya demi kemerdekaan sejati (lahir dan baitn), negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur, tata titi tentrem karta raharja.

Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, perlu adanya sebuah diskusi-diskusi, perkumpulan-perkumpulan, gerakan-gerakan, sharing-sharing untuk menguatkan rasa nasionalisme. Saya mengundang Anda untuk bergabung di dalam sebuah group di Facebook Para Pencari Pemimpin dengan hashtag #CariPemimpinBaru.

Apakah kita tidak perduli dengan situasi negara kita sendiri? Ah masa bodo ah! Itu urusan pemerintah, bukan saya. Adakah hal-hal yang tidak terikat oleh pemerintah? Kita hidup di negara dengan segala tetek-bengek-nya. Kita tidak bisa terlepas dari situasi politik dan hukum di tanah air. Singkatnya, kita tidak bisa diam saja pasrah dengan semua yang akan terjadi kelak.

Saya mengajak teman-teman semua untuk tidak diam saja. Mari mencari pemimpin yang netral (tidak berpartai), jujur, bersih, taat dalam menjalankan ibadah sesuai agama, memiliki program-program yang baik dan bijaksana, serta terbukti mampu menyelesaikan permasalahan publik. Harapan saya, kita perlu berdiskusi, berbagi, dan berkumpul untuk menemukan pemimpin sejati untuk kita semua.

Jika benar sekarang adalah zaman akhir sesuai dengan semua kitab atau hadis, pasti di akhir zaman ini ada sosok yang disebutkan dalam kitab. Namun, sesuai dengan isi kitab dan hadis, sosok tersebut tidak akan muncul manakala tidak ada jalaran atau momentum untuk muncul. Karena sosok ini — jika sesuai dalam hadis — adalah sosok pemimpin yang dalam dirinya tidak ada motivasi untuk maju menjadi pemimpin. Yang bersangkutan hanya menjalankan sesuai dengan titah pindandita Ratu, siliring qudratullah, dan atau ngelampahi dhawuh Guru.

Oh iya ada beberapa peraturan yang dibuat untuk menjaga group tersebut tetap bersih dan kondusif:

  1. Bersikap sopan dan lembut dengan anggota lain.
  2. Tidak melempar kabar hoax atau kabar dengan niatan menipu.
  3. Tidak berkata kasar, jorok (pornografi), dan melecehkan (SARA).
  4. Tidak menulis wacana yang mengandung tendensi terhadap subjek tertentu, golongan tertentu, atau kelompok tertentu.
  5. Tidak untuk berjualan.

Bagaimana kalau melanggar aturan tersebut?

  1. Jika melanggar aturan tersebut, admin akan menegur.
  2. Jika pelanggaran dirasa berat, maka anggota tersebut akan dikeluargkan dari group.
  3. Kalau sampai merugikan anggota lain dan netizen yang lain (materiil,  moral, dll) maka bisa diadukan kepada pihak yang berwenang sesuai undang-undang ITE yang berlaku.

Jadi, bijaklah menjadi netizen ya teman-teman! 😉

Klik di sini untuk berkunjung ke group tersebut! #CariPemimpinBaru

Semoga dapat dipahami oleh semua anggota group ini. Demikian terima kasih. Wassalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua. #CariPemimpinBaru


Silakan berpendapat dan menanggapi di kolom komentar bawah ya…! Anda juga bisa bertanya atau sharing melalui kolom komentar di bawah …

Belum berlangganan blog? Masukkan e-mail di kolom bawah ini…!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering