Teman-temannya Sedang Belajar, Anak ini Malah Menggambar Spiderman | Pengalaman Masuk Kelas 1 SD Pomosda

Mengenal anak-anak lebih dekat.

Hari ini, saya akan menghadapi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Pertama kalinya saya masuk kelas sekolah dasar. Menghadapi anak-anak usia tujuh tahun.

Entah kenapa, saya lebih merasakan getaran yang kuat pada diri saya ketimbang masuk ke kelas mahasiswa atau SMA. Bisa jadi saya sangat menyukai anak-anak. Benar, saya memang suka sekali dengan anak kecil. Menurut saya, anak kecil itu unik dan saya suka mengamati mereka. And, this morning, I faced them for the first time…

“Mas, Sabtu masuk ikut menemani adik-adik tahun pertama ya?” Chat Kepala Sekolah Dasar Pomosda.

“Oke, siap!”

Saya membalas dengan tanpa pikir panjang. “I must take this chance and make it perfect!” Kesempatan ini enggak akan datang dua kali. “Tapi, apa yang akan saya lakukan nanti?” Tanyaku kepada Bu Kepala Sekolah.

“Mengajarkan cara membuat buku harian, Mas!”

“Oke, siap!”

Selama tiga hari, saya mempersiapkan segalanya. Saya baca-baca buku referensi tentang psikologi anak, permainan-permainan anak, dongeng-dongeng anak, sampai saya baca novel Totto-Chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Semua itu saya baca dan saya analisa, kira-kira saya harus menampilkan persona seperti apa di depan adik-adik tahun pertama ya? Saya berpikir akan memakai kostum badut, tapi sepertinya mereka akan takut kepada saya. Bagaimana jika ada anak-anak yang tidak memperhatikan saya? Apa yang harus saya lakukan? 

Saya meriset semuanya. Saya menganalisa anak-anak selama tiga hari dengan intens. Bagi saya, anak-anak adalah kaca yang mudah sekali pecah. Salah bicara saja, saya bisa membuat cacat (mental, karakter, mindset) mereka. Saya harus benar-benar mengenal mereka dan berhati-hati dengan mereka.

Setelah membaca beberapa buku tersebut, menonton beberapa tayangan tentang anak-anak di Youtube, saya mulai ada gambaran tentang saya akan berbuat apa di hadapan anak-anak pagi ini tadi (Sabtu, 14/07/2018).

Yang tidak diharapkan terjadi.

Kehidupan memang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Imajinasi selalu terlampau ideal untuk sebuah kenyataan di dunia. Akhir-akhir ini, pikiran saya sedang mengalami destruction, atau gangguan. Banyak sisi kehidupan saya yang tidak bisa pergi dari pikiran dengan mudah: pekerjaan, keluarga, keuangan, dan asmara (etdaaah)….

Bagian Accountant di perusahaan saya pamit untuk resignFacebook holder juga resign dalam waktu yang sama. Hanya berjarak sehari,  dua teman kreatif juga pamit resign. Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Jujur saja, secara pribadi saya cukup terguncang dengan keputusan mereka. Namun, apa daya? Hal tersebut di luar kendali saya, bukan?

Seminggu belakangan, saya merekrut tenaga accountant, creative, dan Facebook holder baru. Kami sedang men-training mereka di waktu yang sama dengan jadwal masuk ke kelas sekolah dasar Pomosda dan SMA Pomosda. Hal ini yang membuat kepala saya pribadi berasa mau pecah.

Cokelat Kelor, produk kami.

Itu dari sisi pekerjaan. Kemudian pagi ini tadi, dua adik saya jatuh sakit. Mereka demam tinggi. kedua orangtua saya sedang dalam perjalanan menuju Banyuwangi — ada acara penting yang tidak dapat ditinggal. Otomatis saya harus merawat mereka mengganti ibu saya. Ini adalah hal yang tidak diharapkan sama sekali, tapi malah datang.

Bayangan atau imaji yang telah saya buat jauh-jauh hari, tiba-tiba saja berantakan. Saya tidak punya banyak waktu untuk membuat ini-itu, segala perlengkapan dan tidak ada latihan sama sekali. Rencana saya, di awal pertemuan dengan adik-adik, saya ingin bercerita sebuah dongeng, namun, saya belum menemukan dongeng apa yang pas untuk diceritakan kepada mereka. Damn!

It is time…!

www.arifasatar.com

Sudah waktunya saya masuk kelas dan berbaur dengan adik-adik. Saya kosongkan segala kegundahan dan kebisingan dalam pikiran saya. “Come on, boy! Unfuck yourself with belief..! You’ll make it!”  Tak henti-hentinya saya bergumam dalam batin. Setelah saya baca buku Unfu*k Yourself karya Gary John Bishop, berbicara sendiri yang positif dalam batin dapat memperbesar prosentase keberhasilan atas kegiatan atau bidang yang dihadapi.

Meski apa yang telah saya persiapkan telah terkikis oleh hal-hal yang tidak diharapkan di atas, saya tetap tidak kehilangan semuanya. Apa yang telah saya pelajari telah melekat di dalam pikiran saya. Saya benar-benar siap menghadapi anak-anak itu sekarang.

Sesampainya di SD Pomosda, saya melihat anak-anak sedang senam bersama para gurunya. Mereka sangat bersemangat sekali. Semburat senyum di wajah anak-anak membuat hati saya semakin cerah dan bersemangat. Senyum mereka memancarkan ide-ide kreatif di kepala saya. “Saya menemukan dongeng untuk mereka!”

Senam selesai. Saya diperkenalkan kepada semua adik-adik kelas pertama oleh ibu Kepala Sekolah. “Perkenalkan, ini adalah Kak Arif.” “Hai… salam kenal semua…!” Sapa saya. Mereka membalas sapaan saya, ada yang maju ke depan, memeluk saya sambil berbisik, “selamat datang di sini, Kita akan bersenang-senang, kan?” Saya menjawab, “kita akan bersenang-senang, kita buat hari ini menyenangkan, oke?” “Sip!” Kata dia.

Saya mengajak anak-anak ke lapangan. Kami duduk melingkar. Saya berdiri di depan mereka. “Dengarkan adik-adik, saya akan bercerita.” Mereka memandang wajah saya dengan sangat antusias. Ketika saya menceritakan bagian-bagian yang lucu, mereka pun tertawa. Tawa mereka membuat mood saya menjadi bagus sekali. Dongeng yang saya ceritakan berjudul, “Tiga Serigala Pembohong!”

 Kenapa saya Berdongeng?

Menurut apa yang saya alami dan dari buku yang saya baca. Nasihat orang dewasa yang diberikan oleh orangtua atau orang dewasa kepada anak-anak ditangkap sebatas doktrin. “Kalian jangan suka berbohong, karena berbohong itu dosa!” Satu kalimat yang terlihat mendidik, tapi sebenarnya hanya memberi sebuah doktrin. Anak akan diam saja, mengangguk, seolah-olah mengerti tapi sebenarnya mereka tidak tahu apa itu dosa. Berbohong yang seperti apa yang tidak diperbolehkan?

“Kalian harus menjadi anak yang adil!” Sebuah kalimat yang sering saya dengar ketika saya masih SD. Saya sekarang paham kenapa dulu sulit sekali menerima maksud nasihat tersebut. Yang saya pahami dulu, adil adalah saat saya punya satu roti, lalu adik saya minta, saya harus membaginya setengah. Itu namanya adil.

“Tujuan adanya pendidikan adalah membangun adab dan akhlak supaya imannya subur.” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Ternyata pengertian adil yang sebatas membagi sama rata, sama besar, sama banyak, bukanlah adil yang hakiki. Mengubah doktrin itu sulit sekali karena sejak kecil, kata adil hanya dibatasi dengan makna sama besar, sama kecil, sama tinggi, sama rata, sama besar, dan sama banyak.

Dongeng adalah alat untuk mentransfer sebuah nilai kepada anak-anak tanpa menggurui dan mendoktrin. Dongeng bersifat kontekstual. Dongen melekat dengan sebuah kondisi, keadaan, dan situasi. Anak-anak sebenarnya mampu menerima setiap nilai dalam dongeng itu sendiri. Anak-anak akan menangkap nilai dalam sebuah dongeng sesuai dengan konteks mereka dan sesuai dengan kemampuan mereka.

Jangan salah, dongeng adalah senjata yang ampuh sekali untuk membentuk karakter, mental, dan perilaku anak. Itu sebab kenapa ibu saya setiap malam selalu membacakan dongeng sebelum tidur untuk saya semasa saya kecil. Orangtua saya percaya kepada saya seutuhnya, bahwa saya mampu mengambil nilai yang terkandung dalam setiap cerita yang dibacakannya — sesuai dengan kemampuan dan konteks saya sendiri tentunya.

Itulah alasan kenapa saya berdongeng.

Menyusun nama dengan kerikil

Setelah mendongeng, saya bilang kepada mereka, “Kakak ingin mengenal semua adik-adik, bolehkah Kakak berkenalan?” tanyaku kepada mereka. “Boleh!!” Dengan suka cita mereka menjawab.

Semilir angin ikut membuat suasana pagi itu yang cerah menjadi sejuk. “Tapi, Kakak punya sebuah cara yang seru untuk berkenalan. Mau tahu?” Tanya saya lagi. “Mauuuuu!” Jawaban mereka sungguh singkat. Wajah mereka lucu sekali.

Saya bergegas mencari kerikil, lalu menyusun kerikil tersebut membentuk nama saya. “Oke, sekarang silakan kalian berdiri di samping saya, lalu baca kerikil-kerikil ini!” Pinta saya kepada mereka. Dengan sangat sigap, mereka bergegas berdiri di samping saya. “A…R..I..F” Eja salah satu anak bernama Nanda. “Itu nama Kakak ya?” Tanyanya. “Iya, sekarang Kakak minta, kalian semua menuliskan nama kalian masing-masing menggunakan kerikil yang ada di sekitar kalian. Go!

www.arifasatar.com

Adik-adik kelas satu SD Pomosda menyusun nama dengan menggunakan kerikil

 

www.arifasatar.com

Bagi yang telah selesai menyelesaikan namanya sendiri, mereka langsung membantu temannya.

www.arifasatar.com

www.arifasatar.com

Mereka terlihat sangat senang. Ada yang berjalan dengan melompat-lompat. Ada yang berjalan dengan bersenandung pelan. Mereka semua mencari kerikil-kerikil, lalu menyusunnya menjadi nama mereka sendiri.

Tangan mereka yang mungil, tidak cukup membawa kerikil-kerikil tersebut. Ada satu anak yang kehilangan semua kerikilnya karena kerikilnya terjatuh semua. Tangannya tidak mampu menampung sekian banyak kerikil yang dibawanya. Sangat menggemaskan…

Setelah mereka semua berhasil mendapatkan cukup kerikil untuk nama mereka sendiri, mereka segera menyusunnya.

“Doktrin tidak membuat kreatif dan mematikan rasional anak. Berikan nilai-nilai positif melalui dongeng atau cerita.” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Mereka memiliki kecepatan masing-masing mengerjakan hal itu. Ada yang pelan-pelan, ada yang menggebu-gebu mengerjakannya dengan cepat lalu membantu teman yang belum selesai. Kelakuan mereka sangat unik dan menarik untuk dicermati.

Saya meminta mereka melakukan hal itu untuk tes. Yaps.. sebenarnya saya sengaja mengetes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung mereka. Bisakah mereka menghitung jumlah kerikil yang dibutuhkan supaya tersusun menjadi nama mereka sendiri? Bisakah mereka menyusunnya menjadi nama mereka sendiri? Tes tanpa terasa dites. Bukankah ujian atau tes selama ini selalu menyebalkan bagi kita? Apalagi anak-anak?   Hehehe…. Tes tersebut saya pakai untuk mengidentifikasi kompetensi setiap anak yang pasti berbeda-beda. Saya pun akhirnya tahu dan memiliki kesimpulan, anak-anak belum siap untuk diminta menulis buku hariannya.

“Bu, anak-anak masih belum siap kalau dibekali materi menulis buku harian. Biarkan mengalir apa adanya dulu. Kita agendakan berkumpul dengan wali muridnya saja, kita dorong ibu mereka untuk mendongeng dan membantu membuat buku hariannya di rumah.” Usul saya kepada Kepala Sekolah. “Sepakat…!” Singkat, padat, jelas.

Selain membaca, berhitung, dan menulis, mereka juga belajar saling menghargai, membantu, dan membangun hubungan yang baik antar teman.

Ada anak yang unik, ketika teman-temannya mencari kerikil dan menyusunnya menjadi nama, ada yang justru menggambar Spiderman.

Saya memperhatikan satu anak yang menurut saya unik. Ketika teman-temannya berhamburan mencari kerikil sesuai perintah saya, ada satu anak yang enggan melakukan hal itu. Dia asyik menggambar Spiderman.

Saya dekati dia. Katakanlah namanya Jerry. “Jerry, kamu sedang apa?” Tanya saya. “Menggambar Spiderman.” “Kakak boleh minta diceritakan tentang gambaranmu itu? Kakak sangat tertarik dengan gambaranmu itu.”

Jerry menatap mata saya, dia berpikir sebentar, lalu mulai bercerita tentang gambarannya. Gambarannya sungguh tidak berbentuk. Acak-acakan, ya, sama seperti gambaran saya pas masih SD dulu. Namun, sesuai dengan buku yang saya baca,sebaiknya saya tidak melarang, berkomentar, apalagi menasihati Jerry karena enggan menuruti perintah saya.

Saat saya masih SD dulu, guru saya pasti sudah memarahi saya karena saya menggambar sendiri, tidak memperhatikan guru saya, dan enggan menuruti perintahnya. Tapi saya tidak melakukan hal yang sama terhadap Jerry. Saya senang dan suka dengan gambaran si Jerry. Saya suka dengan apa yang dilakukan Jerry. Saya tidak menganggap Jerry tidak menghargai saya.

Jerry bercerita panjang lebar tentang gambarannya. Karena terlalu asyik bercerita, tanpa sadar, dia duduk di pangkuan saya lalu lanjut bercerita tentang gambarannya. Setelah selesai bercerita, saya bertanya, “Jerry ingin menjadi Spiderman?” Dia mengangguk.

“Jerry, lihat Kakak, kamu adalah pahlawan Kakak mulai sekarang dan seterusnya. Maukah Jerry membantu Kakak melindungi semua teman-teman kamu, membantu teman-teman kamu, dan membantu guru-guru Jerry di sekolah ini demi Kakak?” Dia berpikir sejenak, matanya berbinar. Ia mengangguk dengan sangat pasti. “Oke, sekarang, Kakak sedang minta bantuan kepadamu.” Dia memperhatikan saya. “Kakak minta tolong sama Jerry untuk membantu teman-teman Jerry menyusun kerikil-kerikil itu, paham?” Ia mengangguk lagi dan langsung meluncur membantu teman-temannya.

Fungsi Pendidik

Kamu pernah membaca novel Totto-Chan? Belum ya? Novel itu sangat bagus. Saya sarankan kepada semua pendidik untuk membaca novel tersebut. Isi dari novel itu sangat relevan dengan profesi pendidik. Bisa untuk nambah referensi.

Dalam novel tersebut, ada sebuah tokoh guru yang menarik perhatian saya. Tokoh utama, Totto-Chan, adalah murid kelas satu SD. Di sekolah pertamanya, dia dikeluarkan oleh gurunya karena dianggap tidak pernah mau patuh dan mengacaukan kelas.

www.arifasatar.com

Sampul Novel Totto-Chan

Terpaksa ibu Totto-Chan mencarikan sekolah lain meski baru dua hari bersekolah di sekolah yang lama. Kasihan sekali. Kalau kamu baca novelnya, kamu akan terkesima dengan perlakuan kepala sekolah dan guru di sekolah Totto-Chan yang baru. Di sekolah yang baru, Totto-Chan tidak dianggap berbeda dengan anak-anak yang lain. Justru dia memiliki keunikan.

Di sekolah pertama, Totto-Chan memang melakukan hal yang bisa dikata di luar kendali. Dia mengeluarkan pensil dari dalam mejanya berulang kali. Kata gurunya kepada ibu Totto-Chan, “Dia membuka pintu di mejanya, mengeluarkan pensil, lalu membantingnya dengan keras. Tak lama kemudian, dia membukanya lagi, mengeluarkan penghapus, lalu membantingnya lagi seperti sebelumnya. Setelah pensil dan penghapus dikeluarkan, dia membuka pintunya lagi, lalu memasukkan keduanya dan membanting pintu mejanya. Semua itu dilakukan berulangkali dan cepat sekali terjadinya.” Ibu Totto-Chan hanya mendengarkan semua keluhan guru tersebut.

Dalam benak si ibu, Oh ini sebabnya Totto-Chan pulang ke sekolah lalu bercerita dengan sangat semangat bahwa di sekolah dia memiliki meja yang bagus. Di bawah meja ada pintunya sebagai wadah tas dan alat tulis. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah, dan ibu mulai menerka-nerka harus berbohong seperti apa untuk putri tercintanya tersebut supaya putrinya tidak sedih harus mencari sekolah baru.

Guru di sekolah pertama dan kedua Totto-Chan sangat kontras. Totto-Chan yang kecil bertemu pertama kali dengan kepala sekolah di sekolah yang baru. Gedung sekolah barunya berupa gerbong-gerbong bekas yang disusun dan ditata menjadi ruang kelas. Ruang kepala sekolahnya juga berupa gerbong.

“Selamat pagi..” Sapa Kepala Sekolah. “Pagi juga…” Sapa Totto-Chan. Kepala sekolah meminta ibu Totto-Chan untuk pergi dari ruangan supaya Kepala Sekolah bisa ngobrol bebas dengan putrinya.

“Pak, Anda kepala stasiun atau kepala sekolah?” Tanya Totto-Chan. Kepala sekolah tersenyum. “Saya kepala sekolah di sini.” Jawabnya.

“Apakah kereta ini akan menuju ke suatu tempat?” Tanya Totto-Chan lagi.

“Tidak, gerbong-gerbong ini telah menjadi ruang belajar untuk semua murid-murid di sini.” Totto-Chan menghela napas. “Syukurlah, aku pikir, aku akan pusing kalau membaca papan tulis sambil kereta ini berjalan.” Kepala Sekolah tertawa mendengar kata-kata Totto-Chan.

“Totto-Chan, adakah cerita yang ingin kamu ceritakan kepada saya?” Tanya Kepala Sekolah.

“Banyaaak sekali…!” Totto-Chan mulai bercerita panjang lebar sekali.

Oke, kurang lebih cuplikan novel Totto-Chan adalah seperti itu. Saya ingin menunjukkan perbedaan antara pendidik satu dengan yang satunya lagi. Maksud saya, guru di sekolah yang pertama memiliki sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan guru di sekolah yang kedua.

Pendidik bukanlah seorang juragan atau bos. Pendidik ya pendidik. Seseorang yang berkewajiban untuk membantu anak-anak menemukan potensi terbaik mereka. Bukan sebagai bos yang berhak menjadi pesuruh atas murid-muridnya.

Saya menyayangi Jerry seperti menyayangi adik-adik kandung saya. Jerry itu hampir sama dengan Totto-Chan. Dia melakukan apa yang sedang dilakukannya dengan sebuah alasan yang sulit diceritakan. Toh kalau diceritakan, orang dewasa sulit mengerti. Saya sebagai pendamping kelasnya, hanya bisa membantu Jerry melakukan yang terbaik sesuai dengan keinginannya.

Waktu tidak terasa telah habis. Saya harus pamit kepada mereka. “Adik-adik sekalian, saya harus pamit karena Kakak harus bekerja dan waktu kalian bersama Kakak telah selesai. Kakak minta maaf kepada kalian kalau Kakak ada salahnya, ya?” Mereka menjawab, “sama-sama….!” “Terima kasih adik-adik… Kakak sangat menghargai itu. Sekarang Kakak pergi dulu dan salam dari Kakak untuk orangtua kalian nanti ya..! Wassalamualaikum, daaaaah….!”

Tangan mungil Jerry memegang tangan saya, “Kakak mau bekerja?” Saya mengangguk dan mengusap kepalanya. “Sekarang Kakak minta bantuan kamu lagi ya wahai Spiderman, tolong buat guru kamu nyaman mengajar di kelas ini, dan bantu semua temanmu kalau ada yang membutuhkannya. Oke?” Jerry menatap saya, lalu mengangguk. Saya pergi meninggalkan kelas dengan hati yang bersuka cita.


Itu dia cerita saya pagi ini. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Kamu juga punya pengalaman serupa tidak? Kalau ada silakan tambahkan di kolom komentar ya…!

Penasaran dengan sekolah yang saya datangi pagi ini? Cek Instagramnya ya  di sini!

Belum berlangganan blog saya? Silakan masukkan e-mail kamu di kolom bawah ini…!

Di bawah ini adalah video dialog saya tentang pendidikan bersama dengan Bapak Kiai Tanjung. Cekidot di bawah ya…!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering