Harapan Anak Terhadap Keluarganya

Apa impian yang paling ingin kamu capai? Menjadi kaya atau diterima di Stanford University?

Kalau aku, berangkat dari keinginan yang kecil: Menjaga keutuhan keluarga. Satu hal yang pasti menjadi impianku adalah memiliki keluarga yang utuh, harmonis, erat, dan hangat.

Aku bersyukur sekali memiliki keluarga yang demikian. Orangtuaku memperhatikan hubungannya dengan putra-putranya. Bapak dan Ibuk berkomitmen untuk berkomunikasi dengan putra-putranya setiap hari. Enggak pernah enggak. Selalu komunikasi. Mulai dari yang penting sampai enggak penting. Semua itu penting bagi kami, putra-putrinya. Keinginan kami adalah selalu hangat di dekapan Bapak dan Ibuk.

Dan sebenarnya, dalam postingan kali ini, aku ingin bercerita tentang liburanku hari Minggu kemarin di Malang. Satu keluarga berlibur di Jatim Park 3 Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sabar, keseruan liburan di sana akan aku ceritakan. Tapi sebelumnya, kamu harus tahu maksud dari liburan bareng keluarga.

Bagi anak-anak zaman sekarang, liburan bareng teman-teman mungkin lebih asyik ketimbang bareng keluarganya. Kalau bareng teman-teman berasa gaul dan bebas. Sedangkan kalau bareng keluarga kerasa terbatas dan jadul. Gitu enggak sih?

Teman-teman semua, liburan bareng keluarga itu penting banget. Kalau kamu baca bukunya John C. Maxwell yang judulnya Today Matters, keluarga adalah faktor kuat akan kesuksesan seseorang. Memperbaiki, memperkuat, dan menambah ikatan batin terhadap keluarga termasuk dalam Daily Dozen-nya John C. Maxwell.

Aku memang belum pernah menjadi orangtua, tapi aku sudah berumur 22 tahun — artinya aku sudah berpengalaman menjadi anak dari pasangan orangtuaku. Setelah aku memperhatikan diriku sendiri, membaca buku, mencermati orang lain, mendengarkan pengalaman orang lain, anak-anak ternyata memiliki beberapa keinginan terhadap keadaan keluarganya. Apa saja?

#1 Berkomunikasi setiap hari perihal yang penting atau yang enggak penting.

arifasatar.com

Komunikasi setiap hari akan membuat hubungan dalam keluarga semakin harmonis. percaya atau enggak, hal ini sangat diinginkan oleh anak-anak.

Beberapa waktu yang lalu, aku menulis sebuah cerita di Tumblr — yang sekarang kena blokir pemerintah — tentang temanku yang sedari kecil enggak pernah diajak komunikasi bapaknya. Bagaimana akibatnya? Kalau kamu pernah dengar istilah masa kecil kurang bahagia, temanku itu mengalaminya.

Kerjaannya enggak pernah lepas dari gaming, gaming, dan gaming. Arah hidupnya enggak jelas, meski dia punya kemampuan kognisi yang bagus. Masa-masanya selalu sulit hanya karena orangtuanya yang enggak mengenal temanku itu dengan sangat baik. Kasihan sekali dia. Aku dan teman-temanku sudah berusaha untuk mengajaknya berjuang melawan block-mentality yang dia miliki. Tapi terlalu sulit buatnya dan buat teman-temannya. Sekarang, entah bagaimana nasibnya.

Kesuksesan seseorang diawali dari hubungan dengan keluarga yang baik. Setidaknya dengan orang-orang yang kita anggap sebagai keluarga. Orang-orang terbaik kita. Mereka yang rela merawat kita saat sakit, meminjami uang kala butuh (hehehehe), mendoakan kita kala kesulitan, dan yang terpenting, berada di sisi kita kala dalam masa-masa sulit. Bagiku, keluarga adalah yang paling utama. Pertahankan komunikasi yang hangat antara keluarga kita sedari dini bahkan sedini mungkin.

#2 Membantu menemukan kejeniusan dirinya sendiri.

Baru saja aku membaca bukunya Robert T.Kiyosaki yang berjudul Rich Kid Smart Kid. Dalam buku tersebut dijelaskan kecerdasan manusia dibagi menjadi tujuh:

  • Linguistik-Verbal: Ini adalah kejeniusan yang diutamakan di sekolah kita. Sebuah kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata. Kecerdasan ini sangat penting, karena hal ini merupakan cara manusia dalam mengumpulkan dan menyebarkan informasi.
  • Numerik: Kejeniusan yang berhubungan dengan data yang diukur dalam angka-angka. Seorang ahli matematika dianugerahi kejeniusan ini. Kamu pernah kan membayangkan bagaimana bisa teman sebangku kamu itu tanpa belajar bisa mengerjakan semua soal matematika meski bahkan enggak hapal rumus sama sekali.
  • Spasial: Kejeniusan satu ini biasa dimiliki oleh para orang yang terlibat dalam bidang kreatif. Desainer, seniman, arsitek harus mengasah kemampuan ini.
  • Fisik: Ini dimiliki oleh orang-orang yang belajar sambil melakukan. Misalnya penari, koki, dan musisi. Mereka jenius dengan melihat, menyentuh, dan mengerjakan sesuatu.
  • Intrapersonal: Biasa disebut sebagai kecerdasan emosional. Sebuah pengendalian diri kuncinya ada pada ini. Seseorang yang enggak mudah larut dengan masalah atau apa pun yang membuat hati orang  biasanya bergejolak. Pemikiran emosial dalam buku ini disebut lebih besar 24 kali lipat dari pada pemikiran rasional. Misalnya begini, sudah tahu pacaran itu dilarang oleh syariat, tapi tetap saja dilakukan. Mengapa? Karena emosional dan rasional berbenturan. Kemungkinan rasional akan menang hanya 1:24.
  • Interpersonal: Sebuah kejeniusan yang dimiliki para entrepreneur, marketer, influencer, dan salesman. Empati, simpati, dan peduli adalah contoh dari kejeniusan interpersonal. Seseorang yang mampu mengasah cara berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain dengan sangat baik, peluangnya menjadi sukses ke depan lebih terbuka lebar.
  • Lingkungan: Ada orang-orang yang memiliki kepekaan luar biasa terhadap alam. Aku sendiri sering heran dengan salah satu kolegaku — Beliau lebih tua 20 tahun dariku — memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap lingkungan. Tanaman apa saja dihapal. Hewan bagaimana jenisnya banyak dihapal. Aku sering heran sendiri, kok bisa sih orang ini hapal dan tahu cara budidayanya?

Anak-anak ingin diarahkan sesuai dengan kejeniusannya masing-masing. Sekolah? Enggak usah berharap dengan sekolah. Pendidikan kita sudah hancur dan bobrok. Enggak ada cerah-cerahnya sama sekali. Aku suka salah satu kutipan dari buku ini, “sayang sekali sekolah hanya diperuntukkan bagi sebagian anak-anak saja, tidak seluruhnya.”

Maksud kutipan itu apa?

Maksudnya, sayang sekali sekolah hanya mengakomodir anak-anak yang condong pada kemampuan linguistik-verbal saja, anak-anak dengan kecerdasan yang lain kurang terwadahi. Sayang sekali…..

Hanya keluarga. It’s the only hope. Enggak ada harapan buat pendidikan kita bisa berubah drastis dalam waktu yang relatif singkat — melihat kisruh politik di negeri ini sekarang. Keluarga adalah satu-satunya harapan yang tersisa untuk membangun negeri ini menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur.

#3 Ada waktu khusus (privat) untuk keluarga.

Yang terakhir, anak-anak tentu mendambakan waktu privat untuk keluarga. Apa lagi yang diharapkan dari sebuah keluarga selain bercanda bareng, ngobrol bareng, foto bareng, makan bareng, musyawarah bareng?

Orangtua yang sibuk, biasa ke luar kota. Seminggu di rumah, dua bulan di luar negeri. Sejam di rumah, sisanya di kantor. Luangkanlah waktu privat untuk anak-anak. Anak-anak pasti sabar menunggu papanya pulang dari kantor, mengecup keningnya, memeluk tubuhnya, berbisik “bagaimana sekolah hari ini?” Lalu menggendong dan membawa masuk ke kamar anak-anak. Mematikan lampu, and say, “good night my dear….”

“Ah ngabisin duit berlibur-berlibur segala!”

Ternyata ada juga lho orangtua yang memiliki prinsip demikian. Aku termasuk orang yang kurang setuju dengan prinsip itu. Orangtuanya tampak egosentris dalam memutuskan. Menyeret imaji anak ke dunia yang sama sekali enggak pernah dibayangkannya: hidup yang membosankan.

Kalau ada waktu seminggu dalam setahun untuk keluargamu, ajaklah ke suatu tempat yang asyik dan berkesan. Ajak mereka ngobrol dari hati ke hati. Dengarkan anak-anak bercerita dengan tulus. Dengarkan istri atau suami bercerita. Keluarga kita adalah orang-orang pertama yang ada untuk kita. Bahkan sampai kapan pun, keluarga kita menjadi yang utama.

Liburan bareng keluarga bermaksud menambah keeratan antar anggota keluarga. Supaya rasa kasih sayang, cinta, keterbukaan, ikhlas, dan mengalah semakin subur tumbuh dalam dada masing-masing.


Nah itu tadi adalah beberapa hal yang diharapkan anak-anak dari keluarganya yang perlu kita ketahui bersama-sama supaya keluarga kita selalu ada untuk kita. Mereka selalu ada untuk kita sampai kita menghembuskan napas terakhir.

Pesan buat diriku sendiri dan teman-teman remaja atau dewasa yang belum menikah, yuk pikir-pikir dulu matang-matang hal-hal demikian demi kelanggengan dan keharmonisan keluarga kita masing-masing. Start from our own family, Bro! Baca juga 3 Rahasia Agar Anak Cerdas (Terbukti Ampuh!).

Belum berlangganan blog ini? Masukkan E-mail kamu di kolom bawah ini, untuk mendapatkan update-an artikel di blog ini. Jangan lupa share artikel ini supaya lebih banyak yang merasakan manfaatnya. 😉


Tonton dialog tentang membina keluarga harmonis yang mendukung karakter anak di bawah ini ya guys! 😉

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering