Award For Amin Maulani, Sahabatku

Ingatkah pertama kali kita kenal akrab? Yaps.. saat itu aku menulis blog di Kompasiana, lalu kamu menanggapi. “Aku ingin belajar nulis, Mas!” Saat itu, kita mulai sering komunikasi. Kita sering bareng-bareng.

Hampir setiap hari kita bertemu di Wartel. Untuk apa? Sekadar pamer artikel siapa yang masuk nominasi baik di Kompasiana. Seperti biasa, artikelmu tidak pernah masuk ke 5 besar. Boro-boro 5 besar, 20 aja enggak pernah..! Kamu selalu bertanya, “kenapa bisa sih?”

Saat itu aku enggak kasih jawaban apa-apa. “Suatu saat, kamu pasti tahu cara menulis yang mengalir… saya yakin itu, lhawong aku aja juga masih belajar, kok…!” Kataku. “Selama kita belajar terus, pasti kita bisa!” Semangatku.

Aku sarankan kamu untuk banyak membaca dan menulis. Karena menjadi seorang penulis bukan dengan cara ikut seminar ini-itu, tapi dengan sering membaca dan praktik menulis. Itu satu-satunya kunci menjadi seorang penulis.

Kamu mempercayainya, meski aku bukan penulis handal. Aku bukan siapa-siapa. Aku sama sepertimu, dewasa baru yang sedang belajar menulis. Pagi itu aku membawa buku kiat-kiat menulis cerpen. Kamu ikut-ikutan tertarik. Setiap hari, kamu membaca dan belajar membuat karya fiksi. Benar-benar di luar pradugaku. Aku ingat sekali, tepat setahun lalu, kamu menulis selama 25 hari tanpa henti. Kamu namakan program #OneDayOneArticel …

Awalnya aku meragukannya. Mana mungkin kamu akan betah? Tapi ternyata aku salah. Kamu bahkan melakukannya dengan sangat baik. Aku suka cerpen-cerpenmu. Banyak cerpen favoritku, termasuk yang berjudul Mia — yang aku bacakan di acara Relax Night Campus beberapa waktu yang lalu.

Oke, aku tidak akan menceritakan dengan detil bagaimana hubungan kita selama ini secara berurutan. aku ingin orang lain yang pernah mengenalmu, atau belum benar-benar mengenalmu, lebih mengenalmu sekarang melalui tulisan ini.

#1 Pantang Gengsi atau Minder

Sebelum akhirnya kamu dikenal sebagai persona yang memiliki masa depan cerah, dulunya kamu dianggap orang cupu dan kurang ada bakat. Kamu bercerita, “aku dulu enggak bisa menyalakan komputer sejak datang dari Sumatera untuk sekolah di STT Pomosda.”

“Lha terus bagaimana?”

“Ya, aku berusaha semaksimal mungkin. Aku tanya-tanya ke teman yang bisa sambil sembunyi-sembunyi. Malu lah sama teman yang lain. Tapi endingnya, tetap ketahuan dan kena bully. Hehehe….” Suata tawamu yang renyah itu, aku masih ingat.

“Kebetulan aku juga bekerja di Wartel, aku harus bisa mengoperasikan komputer. Dulu saja aku enggak bisa sama sekali menyalakan komputer!” Katamu begitu. Aku spontan tertawa. Kamu ngerasa enjoy meski ditertawai.

Pokoknya, Amin telah berhasil berubah dari yang semula enggak bisa apa-apa menjadi sosok yang kalian kenal sampai meninggalnya. Dia telah hampir menerbitkan buku. Hampir? Ya… memang hampir. Karena rencananya, setelah lebaran ini, saya menemani dia ke Jakarta untuk menerbitkan bukunya. Tapi, ini hanya sebuah khayalan sekarang….

Amin bukanlah orang yang pintar secara kognisi. Bahkan, kalau kami kongko-kongko bareng, diskusi bareng, meski dia yang paling tua, dia bukan yang paling pintar. Aku blak-blakan aja ya… toh almarhum sudah selamat di sana, jadi enggak bakal tersinggung, hehehe…

Tapi lihat sekarang, sepeninggalnya, banyak yang menangis, merasa kehilangan sosoknya. Ternyata banyak sekali dampak yang telah dibuatnya untuk lingkungan. Aku saja sampai terkejut. Apa yang telah dilakukannya sampai semua orang menyayangi dia?

Dia tidak pernah sekalipun minder atau malu dengan teman-teman sekongkonya. Kami membentuk forum membaca, diskusi, dan musyawarah, namanya Komupedia. Siapa yang kasih nama? Almarhum sendiri. Anggota awal yang ikut adalah aku, almarhum Amin, Amirul Irsyad, dan Rouf. Dia yang paling ndeso, tapi sekali lagi enggak pernah minder.

Kalau istilah Guru kami, Bapak Kiai Tanjung, menamai watak ini dengan ora wedi ingah-ingih, dalam bahasa Indonesia, enggak takut plonga-plongo. Dia enggak khawatir sama sekali jika lawan diskusinya menganggap dia enggak pintar. Dia enjoy saja berpendapat. Enjoy menerima masukan, dan enjoy jika ditertawai. Malah dia menertawai dirinya sendiri.

Intinya, dia adalah orang yang enggak mudah kecil hati atau rendah diri. Justru karena dia merasa butuh belajar, dia enjoy berhadapan dengan siapa pun yang menurutnya lebih pintar darinya. “Justru itu biar aku juga belajar!” Kata almarhum. “Kalau aku ambil aman terus, ya enggak bakal berkembang!”

Satu pelajaran berarti darinya. Enggak takut kelihatan bodoh dari orang lain. Menjadi diri sendiri dan terus belajar.

#2 Giat Belajar

Dia terlahir dari keluarga biasa saja, malah kurang mampu. Pertama kali dia bikin blog, dia nulis di kertas. Dia enggak punya laptop, HP-nya saja masih jadul. Tapi semangat belajarnya luar biasa!

“Mas, sebutkan buku apa saja yang harus aku baca supaya bisa menulis!” Tanyanya.

Aku sebutkan satu per satu. Dan dia semangat sekali mencatatnya di atas selembar kertas. “Mau kamu apakan?”

“Aku mau beli satu per satu mulai bulan depan.” Katanya.

“Kenapa enggak pinjam punyaku aja?”

“Aku sungguh-sungguh ingin belajar, aku harus menunjukkan sikap ingin belajar sungguh-sungguh.” Jawabnya dengan santai.

Ternyata benar. Bulan depannya, kami pergi bareng ke Gramedia. Dia terlihat sangat senang sekali. Aku juga ikut senang. Dia memilih-milih bukunya sendiri.

Setiap kali kami bertemu kemudian harinya, dia selalu bercerita tentang perkembangannya dalam membaca dan menulis. “Benar, Mas! Membaca membuat aku menemukan diriku. Aku berasa bukan diriku yang dulu. Aku lebih berkembang dan terus berkembang sekarang!”

Aku sangat terharu mendengarnya. Malam hari aku ke kamarnya, dan aku lihat dia membaca buku sembari memegang bolpoin untuk menulis resume. Aku tunggu sampai dia selesai, baru kami diskusi. Biasanya sampai mau Shubuh.

Sejak itu, dia tahu bagaimana caranya belajar. “Sejak itu, aku tahu caranya mencapai potensi terbaikku!” Kata almarhum Amin.

Perlahan tapi pasti, Amin enggak lagi dikenal seperti bocah tanpa ide-ide cemerlang. Dia berubah menjadi sosok yang berpengetahuan, vokal, dan ahli di bidangnya. Lingkungannya perlahan mengakui kemampuannya di bidangnya. Aku perlahan tertinggal darinya. Dia sangat luar biasa!

Yang paling sering dia gaungkan saat saya, dia, dan teman-teman yang lain berdiskusi adalah, “yang bahaya itu bukannya memasang cita-cita terlalu tinggi dan tidak tercapai. Yang bahaya itu memasang cita-cita rendah dan tercapai. – Michelangelo.”

Dia sama sekali enggak peduli dengan anggapan orang lain yang merendahkannya dulu. Tentu banyak pula yang meragukan kemampuannya. Namun, akhirnya semua tahu bahwa dia adalah sosok yang pantas untuk diapresiasi dan dikenang sekarang. Pengaruh almarhum untuk kami sungguh luar biasa!

Pelajaran untuk aku, bahwa belajar adalah kebutuhanku sendiri. Enggak ada alasan apa pun untuk enggak belajar dan terus bertumbuh. Dulu kamu enggak punya laptop malah bisa bikin buku sendiri. Dulu HP-mu jadul saja tetap bisa berekspresi dan mengembangkan bakatmu. Kamu tidak seberuntung diriku, tapi sikapmu benar-benar berkelas. Kamu berubah menjadi orang yang cerdas di mataku. Bukan karena ijazah sekolahmu, tapi dari caramu berpikir, berpendapat, bersosial, memimpin, dan menyelesaikan masalah. Salut!

#3 Emang Gue Pikirin

Amin Maulani Syafaat, sebuah nama yang ketika disebutkan oleh teman-temanmu, terdengar direndahkan. Itu yang aku rasakan dulu. Itu kenapa aku mau berteman denganmu. Aku percaya, aku yakin sekali, bahwa suatu saat, kamu akan membuktikan siapa kamu sebenarnya. And, you had made it!

Kamu enggak risau dengan cara temanmu memandang dirimu. Sekali pun kamu enggak pernah mengeluhkan keadaan, seandainya aku orang kaya, seandainya keluargaku terhormat, dan lain sebagainya, kamu hidup dengan caramu dan dengan apa yang menempel pada dirimu. Tapi, kamu bisa hidup layaknya anak orang kaya, konglomerat, dan terpandang di lingkungan. Kamu enggak pernah sama sekali memikirkan anggapan orang lain terhadapmu.

Akhir-akhir ini, kamu diandalkan oleh banyak orang termasuk diriku. Aku sangat mengandalkanmu. Aku sangat bergantung padamu. Tapi, kini kamu udah enggak ada lagi untuk kami semua. Doaku untukmu, brother. Kami enggak akan lupa sama kamu.

Enggak usah tanya lagi, kualitas tulisanmu emang enggak bagus-bagus amat. Aku sering menyerang dengan kritikku yang tajam dan tanpa ampun. “Tulisamu masih jelek di bagian ini, ini, ini…” kataku. Kamu pasti sudah terbiasa mendengar itu. Sampai akhirnya, justru aku kagum dengan setiap karya yang kamu hasilkan. Semua cerpen —  kumpulan cerpen yang sejatinya ingin kamu terbitkan habis lebaran — bagus. Semuanya bagus. Aku suka semua cerpenmu. Karya fiksimu membuat aku iri. Luar biasa!

Pelajaran buatku, Emang Gue Pikirin dari kamu. Aku belajar untuk melakukan hal itu.

#4 Menginspirasi banyak orang

Guru yang bijak bukanlah guru yang banyak bicara dan banyak wawasan. Tapi guru yang dalam kesehariannya memang pembelajar yang baik dan tekun. Guru terbaik adalah uswah.

Amin bukanlah guru di kelas. Tapi justru ia dekat dengan banyak siswa-siswi, pelajar, mahasiswa dan mahasiswi berkat kemampuannya. Dia ibarat magnet yang kuat dan memiliki daya pikat bagi siapa pun.

Aku sendiri sebagai saksinya. Beberapa siswa datang kepadamu minta diajari bikin buku. Ada yang minta diantar ke Gramedia. Tak terhitung orang yang merasa berutang budi padamu, kawanku. Termasuk diriku.

Aku belajar dari kamu, bahwa untuk menjadi guru atau pengajar enggak perlu masuk ke kelas menggunakan seragam. Cukup dengan kita menjadikan diri kita pembelajar yang ulung, diri yang tanpa pantang menyerah ingin lebih baik dan lebih baik, ingin lebih maju dan lebih maju lagi tiap waktunya. Dengan sendirinya, kita menjadi guru bagi para pelajar.

Aku pegang semua prinsip yang telah berhasil kamu lakukan sampai akhir hayatmu. Terima kasih atas segalanya: kenangan, emosi, ide, pemikiran, prinsip, idealis, dan semuanya. Semua kebaikanmu selalu terkenang di hati, kawan. We love you……


Forum Komupedia

Kopdar Satria Japo di kediri

RSN Blora Oktober 2017

 

Mari berlangganan blog ini dengan cara mengisi e-mail di kolom bawah ini!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering