Sudah Kaya, Terhormat, Kenapa Masih Bunuh Diri?

Kemarin (05/06), Kate Spade ditemukan meninggal di apartemennya sendiri, di kawasan elit Park Avenue, New York — yang mewah abis. Selendangnya melilit lehernya. Dan diduga oleh kepolisian New York, bahwa dia mengakhiri hidupnya sendiri.

Kamu belum tahu siapa Kate Spade? Kalau kamu pecinta fashion atau pengikut mode pasti tahu. Dia adalah salah satu tokoh mode terhebat di Amerika. Sekaligus menjadi business women yang sukses.

Kekayaannya bejibun. Kalau kamu ingin tahu siapa dia lebih dekat, silakan buka Wikipedia. Yang jelas, kamu akan bingung, bagaimana bisa orang kaya seperti dia – tidak hanya kaya, dia telah memiliki segalanya (keluarga, materi, kedudukan, ketenaran) – meregang nyawa menggunakan selendang buatannya sendiri. Miris!

Kejadian seperti ini jelas bukan yang pertama kali. Bulan Desember tahun lalu, anggota boyband SHINee asal Korea, Kim Jong-hyun, meninggal tragis karena menghirup gas beracun. Dibunuh? Bukan, menghirup racun on purpose. Heran? Me either….

How could there were guys kill themselves on purpose while they had had everything?  And we all know, not all guys could be so lucky like them. So many people feel jeolous with all stuffs they had. Insane!

Masih banyak orang di bawah kolong jembatan yang nasibnya seperti satu sisi mata koin. Terlempar, jatuh, angka atau garuda? Garuda! Good, let’s eat! Hidup kayak mereka pokoknya serba gambling. Bisa makan syukur, kalau tidak ya sudah, puasa.

Tentu dua berita duka di atas bukanlah kabar yang biasa. Keduanya sangat sensitif. Dan kita berusaha paham apa yang telah terjadi kepada mereka. Manusia hidup penuh tekanan, cobaan, ujian. Bisa saja saya mengalami depresi hebat kala jatuh dari hidup saya. Sekarang? Entahlah, mungkin besok atau tahun depan. Kita semua tidak pernah tahu.

Setiap orang mengalami masa-masa sulit. Kamu juga, kan? Belum? Oh belum ya… Tapi saya yakin akan mengalaminya – sedikit atau banyak setiap manusia mengalaminya, so get ready!

Sumber Gambar: https://www.thedailybeast.com/designer-kate-spade-found-dead-in-apparent-suicide

Namun, menurut hemat saya, Allah menjalankan segala skenarionya bukan tanpa maksud atau tujuan. Allah berkehendak supaya manusia membaca ayat-ayat atau tanda-tanda di depan mereka sendiri. Yaps, kematian, kehidupan, bernapas, tidur, tumbuh, jatuh, semuanya adalah tanda-tanda nyata adanya diri Tuhan. Tuhan itu benar-benar ada.

Dzatullah itu jauh tanpa jarak, dekat tanpa senggolan!” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Sesuai dengan judulnya, Hidup, Mati, dan Bunuh Diri, kita bahas satu per satu. Mulai dulu dari hidup.

Hidup

“Dzatullah itu jauh tanpa jarak, dekat tanpa senggolan!” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Pertanyaannya, kenapa manusia dilahirkan ke dunia? Pernah berpikir seperti saya tidak? Sejak pertama kali ustaz saya mengajari saya mengaji di TPA, saya selalu bertanya-tanya, mengapa manusia hidup di dunia?

Sepertinya, pertanyaan saya tersebut tidak ada jawabannya saat itu. Tidak ada yang menjawab pertanyaan saya kala itu. Okey, I’ll save it till somebody can tell me the reason why.

After figuring it out for many years, finally I got the answer from the one and only,  someone with the legitimate authority. Let’s begin…

#1 Hidup ini memang untuk ujian manusia…

Guru saya, Bapak Kiai Tanjung sering menjelaskan perihal asal mula hidup. Yang saya tangkap dari penjelasan beliau bahwa manusia di dunia ini memang untuk diuji. Biar apa? Biar suci lagi seperti asal usul fitrah manusia yang asalnya sebenarnya dari Allah sendiri.

Bingung ya?

Jadi gini, ternyata sebelum dilahirkan di dunia, ruh kita ditimbali oleh Sang Maha Kuasa. “Alastu bi Rabbikum?” artinya, apakah aku ini Tuhanmu?” Dan kita semua di alam sana menjawab dengan pasti, “Qaluu balaa syahidnaa!” “Benar, kami semua benar-benar bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami!”

Setelah menyatakan bersaksi, Allah meniupkan ruh kita ke dalam jasad. Jasad yang tidak bisa apa-apa ini akhirnya bisa bergerak, tumbuh, berpikir, dan akan ada masa habis pakainya.

Nah, berhubung jasad ini bakal habis dan seharusnya asal muasal kita yang asal fitrahnya dari fitrah Allah sendiri dapat kembali kepada muasalnya lagi, kita mengalami godaan-godaan, ujian-ujian di dunia.

#2 Hidup adalah untuk menepati amanah Tuhan

Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan punya tanggungan sejak lahir. Apa itu? Ya sesuai dengan perjanjian dengan Allah di alam ruh, “benar! Engkau adalah Tuhan kami.” Jawaban kita dulu yang dengan percaya diri dan sok itu harus dipertanggungjawabkan di dunia.

Ngomong apaan sih? Ribet amat.

Oke sederhananya begini, kita sudah janji dengan Tuhan bahwa kita nanti kalau dilahirkan di dunia, lalu mati, kita akan kembali kepada-Nya. Namun, ternyata, saat di dunia ini, kita lupa segalanya. Kita lupa siapa, apa, dan bagaimana Tuhan kita.

Kesucian fitrah manusia yang asalnya dari fitrah Allah sendiri, perlahan tertutupi oleh dinamika duniawi. Yang semula bersih, terkotori oleh berbagai macam kotoran hati dan perbuatan di dunia. Semakin kotor semakin menjauh dari Allah. Jika seseorang itu semakin jauh dari kehendak Allah, maka Allah akan membuat dirinya lupa terhadap dirinya sendiri. Ngeri, kan?

Mudahnya seperti ini, saat di rumah, bapak saya minta tolong ke saya untuk membelikannya rokok satu bungkus di warung agak jauh dari rumah. Beliau mewanti-wanti, “Le, ini yang minta tolong bapak kamu, kan?” “Iya, bapak.” “Nanti kembali ke rumah ya?” “Iya, Bapak.”

Nah, seandainya jika saya pergi ke luar rumah, lalu sesampainya di warung ada teman-teman saya main PS, bukannya pulang malah keasyikan main sama teman-teman. Padahal sudah ditunggu-tunggu bapak, dan malah pulang saat Shubuh. Sesampainya di rumah, pintu terkunci, dan terdapat tulisan di dinding pintu, “mending tidur di luar rumah aja ya.. Dan jangan pulang lagi.”

Saya melalaikan amanah yang bapak beri kepada saya, akibatnya saya kesasar di luar rumah selamanya. Itu penggambaran amanah di dunia. Bahwa hidup adalah amanah dari Allah supaya bisa kembali kepada-Nya lagi setelah meninggal dunia.

Mati

Mati adalah satu-satunya yang pasti di dunia ini – selain itu, tidak ada yang pasti sama sekali. Kamu punya pacar sampai 6 tahun? Belum pasti juga bakal nikah. Brazil yang punya pemain top markotop, belum pasti juga juara FIFA World Cup Russia 2018. Amazon yang raja ritel di seluruh dunia, belum pasti akan terus berjaya seperti sekarang. Pokoknya tidak ada yang pasti sama sekali, kecuali, death.

Steve Jobs had ever said in his speech at Stanford University before he died:

“When I was 17, I read a quote that went something like: ‘If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.’ It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: ‘If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?’ And whenever the answer has been ‘No’ for too many days in a row, I know I need to change something.”

“Ketika aku berusia 17 tahun, aku membaca sebuah ungkapan seperti ini: ‘jika kau menjalani harimu seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, kau mungkin benar suatu hari.’ Ungkapan itu sangat berkesan untukku, dan sejak saat itu, selama 33 tahun hidupku, aku selalu berkaca setiap pagi dan bertanya pada diriku: ‘jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku mau melakukan apa yang aku lakukan hari ini?’ dan ketika jawabannya adalah ‘Tidak’ dalam banyak hari dihidupku, aku tahu aku harus merubah sesuatu.”

Sumber Gambar: https://macpoin.com/wp-content/uploads/2017/02/Steve-jobs.jpg

Begitulah pidato Steve Jobs di universitas Stanford sebelum meninggal dunia. Sekuat apa pun manusia, sehebat apa pun manusia, sekaya apa pun, pokoknya sedewa-dewanya manusia, bakal tetap meninggal dunia.

“Meninggal saat masih bayi, tua, dewasa, remaja, alah kapan pun, pantas-pantas saja. Tidak ada yang tidak pantas bagi sebuah kematian.” Pesan Guru saya, Bapak Kiai Tanjung. “Jadi, bersiap-siap saja, saat masa pakai jasad habis, usahakan meninggal dalam keadaan beriman dan islam.” Imbuh beliau.

Steve Jobs meninggal beberapa tahun setelah pidato tersebut. Dan apa yang dikatakan dia betul, suatu hari saat kita berpikir bahwa bisa jadi hari ini adalah hari terakhir kita hidup, suatu saat pikiran itu bisa benar-benar terjadi. And Steve had proved it….

“Meninggal saat masih bayi, tua, dewasa, remaja, alah kapan pun, pantas-pantas saja. Tidak ada yang tidak pantas bagi sebuah kematian.”  ~ Bapak Kiai Tanjung.

Jasad yang semula dipakai untuk mengumbar ke-egoan, keakuan, ketamakan, kebencian, kefasikan, kedurhakaan, dan sebagainya, tiba-tiba masa pakainya habis – dengan caranya masing-masing. Jika meninggalnya tidak selamat sampai tujuan semula, maka ruhnya akan bergentayangan dan itu abadi-abadan, selama-lamanya tersesat. Ngeri…

Seperti perumpamaan saya di atas tadi. Saat pintu rumah saya terlanjur terkunci untuk saya karena telah ingkar kepada bapak saya, saya pun akan bergentayangan di luar rumah, sembari menangis tersedu-sedu minta ampun. Sedangkan, bapak saya menjawab dari dalam rumah, “sudah saya beri kamu kesempatan, dan kamu sudah benar-benar menyaksikan saya sebelum pergi dari rumah, kurang apalagi? Pergi dari sini!”

Begitulah kematian.

“If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” ~ Steve Jobs.

Bunuh Diri

“Kebanyakan manusia berpikir, mati adalah akhir dari segalanya. Penderitaan akan berakhir manakala sudah mati. Segala penat akan berakhir saat meninggal dunia. Padahal tidak!” Tegas Guru saya.

“Justru rasa benci, kecewa, sakit, iri, dan segala penyakit hati lainnya akan kekal menempel jika ketika meninggal membawa rasa-rasa demikian itu.” Salah besar kalau bunuh diri dianggap sebagai jalan keluar dari tekanan hidup. Karena, jika bunuh diri dilakukan, rasa-rasa negatif selama di dunia akan tetap melekat selamanya. Dan jasad terlanjur terkubur, tidak akan mungkin bertaubat lagi. Nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi abu.

Dalam salah satu ayat di Al-Quran, “jika kamu menghidupi satu manusia, sama saja menghidupi manusia seluruhnya, dan jika membunuh satu manusia, sama saja seperti membunuh manusia seluruhnya.” Dengan begini, bunuh diri sama sekali bukan jalan keluar dari masalah hidup. Seberat-beratnya permasalahan, Bunuh diri adalah cara meninggal yang paling konyol.

Hidup dan mati. Dua kata yang seharusnya benar-benar dihayati. Bukan justru takut untuk menyelaminya. “Ah, ngomong berat banget sih!? Ngomong yang santai-santai aja ngapa?” Manusia tidak akan bisa menghindar dari dua kata tersebut. Mau cari jalan keluar mana lagi untuk lolos? Pilihannya hanya satu, mempelajari tentang hidup dan mati.

Artis, pejabat, ilmuwan, guru, pedagang, pengemis, tentara, polisi, PSK, gigolo, pelayan, nelayan, pramugari, pilot, mahasiswa, bayi, dokter, semua akan mati, dan perihal mati tidak ada VIP, VVIP, atau reguler. Standarnya sama. Caranya mati yang benar hanya satu, ada pada utusan-Nya. Maka mari mencarinya sampai akhir hayat.

Bangsa ini menjadi porak poranda, hancur lebur, karena tidak adanya rasa takut jika meninggalnya tidak selamat. “Saat manusia masih takut akan mati tidak sampai kepada Tuhan, manusia tersebut memiliki peluang untuk beriman dan selamat. Tapi jika hidupnya bodo amat, artinya telah tenggelam dalam kuburnya sendiri.” Fatwa Guru saya.

Orang yang tenggelam dalam kubur maksudnya adalah orang yang telanjur kaku, keras, tertutup akan sebuah kebenaran yang hakiki. Penjelasan seperti apa pun tidak akan mampu tembus ke dalam hatinya.

Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Perihal keyakinan dan keimanan adalah privasi masing-masing. Hak masing-masing untuk menentukan. Kamu bagaimana, memilih abai dengan berita kematian atau justru takut dan mencari cara supaya mati dapat kembali kepada Tuhan dengan jalan yang benar dan “dibenarkan” oleh Allah?

Kita harus sama-sama ingat, dalam Al-Quran disebut, “carilah al-wasilah, seorang wakil Allah yang menunjukkan jalan pintunya mati selamat.”

Berita kematian memang sebuah duka, tapi itu adalah ayat-ayat yang nyata bagi kita semua yang masih bernapas. Bukan kah begitu?

Bahkan setenar artis juga masih bisa meninggall

Kalimat penutup untuk kita renungi bersama-sama, selama ini kita hanya mengira-ngira dan sok yakin bahwa meninggalnya kita nanti akan masuk surga, kita hanya menduga-duga, meninggalnya teman kita, tetangga kita, kolega kita, saudara kita, adalah selamat atau masuk surga. Tapi betulkah begitu? Adakah cara yang benar –tanpa keraguan sedikit pun–supaya kita meninggal dengan selamat? Mari kita cari bersama-sama.


Masukkan e-mail kamu di bawah ya untuk berlangganan blog ini… 😉

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering