Yuk Mengenal Generasi Z Lebih Dekat ….

“Sebelum membuat metodologi, yang harus dilakukan adalah mengenali dengan sebenar-benarnya mengenal.” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Tampaknya sumbu kian memendek dan memendek. Sumbu yang berujung pada bom dengan ledakan yang ……. mungkin menghebohkan — setidaknya mengguncang seisi rumah kita sendiri.

Sahur ini, ibu saya memantik daya berpikir saya. Mau bagaimana lagi, sudah dipicu dan otak saya serasa mau meledak kalau saya memaksa untuk berhenti berpikir. Oke, saya cerita dulu, ibu saya adalah seorang guru di sekolah. Kamu pasti tahu, sekarang adalah masa-masa pendaftaran siswa baru. Baru kali ini, baru tahun ini, sebelum-sebelumnya ibu saya tidak pernah berkata seperti ini, “yang pertama kali ditanyakan oleh calon siswa baru adalah, ‘di sekolah diperbolehkan bawa HP tidak?'”

Hmm… Sangat menarik, itu yang saya pikirkan. Saya suka dengan tantangan. Saya suka masalah. Saya suka problematika. Saya kecanduan memecahkan masalah. ketika ibu saya bilang seperti itu, rasanya BOOM! I like it very much! If you question me, “why?” “Because my brain has been activated to think deeper and deeper, all of my nerves flow more swiftly, and I love it so much….”

Tampaknya dari nada bicara ibu saya, beliau menyayangkan generasi sekarang yang tergantung dengan gadget. Itu wajar sekali mengingat di zaman ibu saya dulu memang HP belum ada. Artinya, generasi X bukanlah digital native[1]. Sedangkan generasi Z kelahiran (1995-2012) adalah Digital Native[2].

Gen Z sangat dekat dan erat dengan kehadiran teknologi. Gadget tidak dianggap sebagai benda asing lagi bagi mereka. Mereka memiliki sudut pandang berbeda terhadap teknologi. Teknologi dan kehidupan mereka sangat terhubung (connected), sulit bagi Tarzan untuk lepas dari kawanan binatang, sama sulitnya bagi Gen Z untuk tidak menggunakan teknologi dalam kehidupan mereka.

Saya sangat memaklumi kekhawatiran ibu saya terhadap anak-anak zaman sekarang. Saya lahir tahun 1996, termasuk generasi peralihan antara Gen X dan Millenials (mayoritas) menuju Gen Z (minoritas). Penduduk  paling banyak di dunia sekarang adalah Gen X, kedua Millenials, yang tersedikit adalah Gen Z. Jadi, suara media atau penduduk bumi yang banyak khawatir, itu wajar saja, mengingat perbandingan penduduk bumi saat ini.

Mari kembali kepada topik pembahasan. Sekolah ibu saya polanya boarding school. Jadi, siswa yang jauh-jauh, akan berasrama. Yang rumahnya dekat, boleh tidak berasrama dan tanggung jawab penuh orang tua masing-masing. Bagi para pendaftar yang rumahnya jauh, tidak dapat menggunakan gadget merupakan hal yang besar.

It doesn’t matter if they get far away from their parents, except their gadget. Cool, isn’t it?

Saya akan mencoba memberi solusi di belakang tulisan ini. Namun, saya ingin kamu mengenal Gen Z lebih dekat. Seperti kata Sherina, “lihat segalanya… lebih dekat… dan kau, akan mengerti…. huo huo……”

Kembali ke plot saat sahur tadi pagi. Saya mengambil air dan saya bilang ke ibu saya, “sudut pandang anak-anak sekarang terhadap teknologi sudah berbeda dengan generasi sebelumnya.”

“Ibu sampaikan ke para calon siswa, ‘di sini ada lab komputer dan perpustakaan, silakan gunakan fasilitas tersebut semaksimal mungkin.’” Cerita ibu saya.

Sepakat! Itu adalah solusi yang cerdas dan adil – setidaknya menurut kita dan sesuai dengan sumber daya saat ini. Namun, ada sebuah temuan berdasar pernyataan ibu saya di atas, ternyata memang sudut pandang Gen Z terhadap teknologi sama sekali berbeda dengan generasi di atasnya (Gen X atau Millenials).

Saya yakin, Gen X yang lain seperti ibu saya, pasti merasa begitu juga. Bahwa Gen Z sangat sulit dikendalikan dan tergantung dengan gadget. Namun, bisa jadi sudut pandang Gen Z sama sekali berbeda — dan memang berbeda. Banyak penelitian mengungkapkan seperti itu — dan itu valid.

Sumber Gambar: https://mmc.tirto.id/image/2017/08/03/kenali-generasi-z-indonesia–mild–fuad.jpg

 

Sumber Gambar: https://pbs.twimg.com/media/C-d99CBVwAAyxZi.jpg

Sumber Gambar: https://pbs.twimg.com/media/DGQ8AtJUQAA_yLq.jpg

 

Apa saja saja yang menyebabkan sudut pandang Gen Z berbeda?

#1 Peristiwa dan Kondisi

Gen Z terlahir dalam kondisi krisis. Bahkan peristiwa ’98 adalah salah satu penanda kelahiran mereka. Bencana alam yang begitu dahsyat (Tsunami Banda Aceh 2004). Kasus terorisme (Bom Bali 1&2), dan banyak lagi. Krisis ekonomi yang begitu dahsyat. Sejak lahir, Gen Z telah termasuki kabar-kabar seperti itu.

Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersamaan dengan kabar-kabar mengerikan di luar sana. Pekerjaan yang semakin sulit dan ketat. Inflasi. Krisis alam. Efek rumah kaca. Kehancuran bumi. Hancurnya bursa saham pada tahun 2008. Korupsi gila-gilaan. Suasana politik yang terasa mengerikan. Gen Z mendengar hal-hal seperti itu sejak kecil. Salah satu pembeda antara Gen Z dan generasi di atasnya adalah peristiwa atau kondisi saat ini yang jauh berbeda dari sebelumnya.

“Belajarlah yang rajin supaya bisa jadi PNS dan hidupmu akan mulia!” Itu adalah saran Baby Boomers kepada Millenials. Namun, kini Gen Z sadar, bahwa menjadi PNS bukanlah satu-satunya solusi mencapai kesejahteraan dalam hidup. Tanyakan kepada PNS Gen Z, mereka memiliki rencana jangka panjang. “Setelah memiliki cukup modal, saya akan keluar dan mendirikan usaha sendiri.

“Saya tidak ingin masa tua saya ditanggung anak-anak saya, sementara anak-anak saya saja berjuang untuk survive akan lebih sulit daripada sekarang. Saya ingin dana saya abadi, maka saya akan menjadi seorang owner perusahaan saya sendiri.” Begitulah yang dipikirkan salah satu teman saya yang menjadi PNS.

Tidak valid, dong? Ya, memang itu pengamatan dan pengalaman subjektif. Tapi, kamu bisa baca bukunya David Stillman dan Jonah Stillman yang berjudul Generasi Z (2017). Mereka menguraikannya berdasar penelitian yang valid dengan sampel dari populasi Gen Z di seluruh dunia.

Karya David Stillman & Jonah Stillman, 2017

Gen Z sangat kritis. Mereka mengamati generasi sebelum mereka yang belajar rajin di sekolah, menjadi sarjana, lalu endingnya kehidupan tua mereka biasa-biasa saja. Mereka mengamati para PNS di daerah mereka. Ternyata, kehidupan mereka juga biasa-biasa saja, masa tua mereka akan banyak ditanggung oleh anak-anak mereka (ekonomi). Itu yang tidak diinginkan para Gen Z.

Gen Z tumbuh di era mandiri dengan teknologi. Gen Z terlahir saat taksi tidak lagi dicegat di halte atau trotoar, naik ojek harus ke pangkalan. Gen Z lahir di situasi ojek dan taksi bisa dipesan melalui gadget. Mereka terlahir di situasi beli baju tidak harus di toko, tapi dengan gadget. Seperti itulah kenyataannya.

Sehingga motivasi mereka jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Semangat entrepreneur lebih meningkat ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Mereka berlomba-lomba untuk eksis sebagai entrepreneur, bukan sekadar menjadi siswa berprestasi di sekolah atau pegawai – entah itu PNS, buruh pabrik, atau hal lainnya.

Smart phone tercipta memang di awal-awal 1990-an. Adanya seluler pintar tersebut yang membuat kesenjangan terhadap generasi sebelumnya tidak lagi linear, tapi eksponensial (berpangkat). Bayangkan deh….

Sampai sini, mulai kenal ya sama Gen Z?

Kita lanjut lagi ulasan berikutnya, semoga tidak terkaget-kaget…..

#2 Sumber Informasi

Kalau dulu semasa kecil, pahlawan tanpa tanda jasa adalah guru. Sekarang sepertinya agak sedikit meluas. Youtube juga sekarang bisa jadi pahlawan tanpa tanda jasa mereka. Google juga bisa.

Bukan lagi mustahil anak usia 4 tahun mengetikkan keyword dalam kolom pencarian Google atau Youtube. Mereka tahu apa yang sedang mereka cari. Mereka mengerti bagaimana cara memeroleh apa yang sedang mereka inginkan. Kini, Gen Z telah tumbuh dewasa, sebagian sudah masuk dunia kerja, sebagian lagi masih remaja. Bersiaplah dunia.

Sumber informasi mereka ada pada gadget. Gen Z terlahir di era informasi tersebar luas. Banyak open source yang mereka dapat akses dengan mudah. Mau tahu bagaimana dinosaurus punah? Kalau saya dulu harus naik kelas dulu sampai tingkat 5 SD, baru diberi tahu. Sekarang, usia 5 tahun pun bisa  tahu dari Youtube. Kemajuan atau kemunduran?

Informasi adalah makanan mereka sehari-hari. Keingintahuan mereka melebihi generasi-generasi sebelumnya. Ketika adik kembar saya ingin tahu bagaimana Persebaya dan Arema pertama kali bermusuhan, mereka langsung ketikkan keyword, asal mula Persebaya dan Arema bermusuhan, and? Boom! They had it then…

You have to know this, my twin brothers fell discomfort while their computer to access internet was limited by my parents… what did they say? “Why older guys can’t believe us? Don’t they know us so well? We need this stuff to search so many knowledges, and oh my God! They disallow us to study? What the hell is this?

Mereka protes karena orang dewasa mengambil hak mereka untuk mencari informasi yang mereka inginkan. “Kenapa orang dewasa tidak pernah percaya kepada kami? Kami butuh ini (komputer) untuk mencari informasi-informasi, kenapa kami dilarang sedangkan orang dewasa tidak?”

And, if your 9 year-old brother say it to you, what are you gonna do? Hahaha…..

Mereka itu terdorong untuk tidak tertinggal update. Sesuai dengan usianya. Misalnya, Gen Z seusia saya yang lahir tahun 1995-1998, saat usia-usia mereka mulai dewasa dan hendak masuk dunia profesional, maka mereka sangat terdorong untuk tidak ketinggalan informasi apa pun. Apalagi yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya.

Di era informasi sekarang ini yang gendeng-gendengan, “siapa pun yang memperoleh informasi lebih cepat, dia yang unggul.” Kebayang kan bagaimana tantangan Gen Z menghadapi dunia saat ini?

Saya tahu, orang dewasa bukan melarang mereka menggunakan gadget, tapi mengkhawatirkan pengendalian diri mereka yang kurang. Itu dia kelemahan Gen Z, pengendalian diri.

#3 Connectivity atau konektivitas …

Gen Z sangat terbiasa terhubung satu sama lain. Mereka suka berteman. Dan mereka menyukai berhubungan dengan banyak orang dengan segala kemajemukannya.

Facebook, Twitter, Google+, Youtube, dan sosial media yang lain telah menghubungkan mereka. Bahkan sejak usia mereka yang masih sangat belia. Saat akses mereka untuk terus terhubung tersita, sama seperti pecandu kopi yang kemudian dilarang mengopi. Ah tanpa perlu dijelaskan, kamu sudah tahu rasanya, kan?

Terhubung dengan keluarga, kerabat, sahabat, teman, kolega, relasi, siapa pun adalah bagian dari hidup Gen Z. Konektivitas adalah ekstensi hidup dari anak-anak Gen Z. Oleh karenanya, kenapa sudut pandang Gen Z terhadap gadget jauh berbeda daripada generasi X atau Millenials.

It’s so simple, because they are Digital Native, and older generation is immigrant…

Mereka akan menyesalkan saat kebutuhan mereka untuk terus terhubung terbatas. Misal saja, saat mereka harus bertanya kepada gurunya tentang mata pelajaran yang tidak dia mengerti, dia tidak harus jauh-jauh atau repot mencari ke rumah, lalu saat sudah sampai di rumah, ternyata gurunya masih pergi dengan keluarganya. Mereka bisa saja menanyakan sedang di mana gurunya, lalu kalau kosong baru bertemu.

Itulah contoh konektivitas yang telah menjadi bagian dari hidup Gen Z. Jika akses ini terbatas secara membabi-buta, maka hal demikian bisa menjadi boomerang. Dengan sudut pandang yang berbeda, mencari “irisan” solusi seperti dalam diagram Venn memang perlu. Perlu sekali!

**

Itulah penyebab kenapa sudut pandang Gen Z terhadap gadget jauh berbeda. Jadi wajar saja jika ibu saya saat sahur tadi bercerita dengan sedikit menyayangkan Gen Z sekarang yang terlalu tergantung dengan gadget. Demikian ini disebut dengan gap atau kesenjangan antara Gen Z dan generasi sebelumnya.

Lalu solusinya bagaimana?

Nah, setelah kita mengenal bagaimana kehidupan dan hidup anak-anak Gen Z, kita baru bisa bersiasat atau mencari metodologi yang tepat.

Kalau dhawuh Guru saya, Bapak Kiai Tanjung, “pertama harus mengenal, baru bisa membuat metodologi atau strategi menuju sebuah tujuan yang ditetapkan.” Sebelum membuat metodologi supaya Gen Z tetap terkendali, dan tetap berkembang sesuai dengan arus teknologi, kita harus kenal dulu dengan Gen Z. Ingat, benar-benar mengenali mereka, bukan sekadar tahu.

 #1 Sediakan perpustakaan yang informatif dan cozy

Meski para siswa tidak membawa gadget, bukan berarti akses mereka terhadap informasi yang dibutuhkan menjadi terbatas. Mereka harus tetap up to date. Kebutuhan kognitif, intelektual mereka harus terpenuhi dengan sajian buku-buku informatif dan relevan dengan mereka.

Perpustakaan yang nyaman dan proporsional adalah solusi pengganti gadget yang efektif. Pasti para siswa akan menerima dengan lapang dada manakala mereka memahami bahwa pembentukan akhlak dan adab lebih penting daripada sekadar pintar atau menjadi cerdas secara kognitif.

Mereka harus belajar mengendalikan diri. Mereka harus belajar dari Steve Jobs yang dulu saat dia masih muda juga belum ada internet tapi dia mendirikan Apple di usia 21 tahun. Artinya, gadget bukanlah harga mati untuk mendapatkan informasi yang informatif dan mereka butuhkan.

Dalam buku Generasi Z, disebutkan hasil penelitian pengaruh gadget terhadap proses belajar pelajar, 60%-nya bias dan 40%-nya menunjang belajar mereka. Artinya, lebih dari separuh populasi, proses belajar mereka justru terganggu dengan adanya gadget.  Hmm… Having cozy library is superb tho even without gadget….

Satu solusi belum cukup? Oke kita lanjut….

#2 Fasilitas Lab. Komputer dengan jaringan maksimal

Satu solusi konektivitas adalah menyediakan Lab. Komputer dengan kecepatan jaringan yang prima. Ini sebagai alternatif tidak adanya smartphone di tangan mereka. Sekolah bisa mengendalikan siswa-siswanya namun tetap memberi keleluasaan mereka untuk terhubung ke dunia luas.

Namun, biasanya yang menjadi kendala adalah kecepatan jaringan yang lemot. Sehingga perlu ditinjau kembali kecepatan jaringan yang ada tersedia di Lab. Komputer. Selama mereka mendapat value yang mereka inginkan, mereka akan tetap enjoy pakai Lab. Komputer untuk terhubung.

Kedua solusi tersebut sangat luar biasa. Tinggal pengelolaannya saja yang perlu diatur. Setiap sekolah tentu mengalami masalah yang sama, kan?

Semakin banyak beredarnya pornografi yang merusak pengguna teknologi, membuat kita semua khawatir terhadap putra-putri kita. Sebanyak apa pun polisi, sepertinya pencuri justru lebih banyak, dan setiap hari muncul pencuri-pencuri baru.

Setelah mengetahui sudut pandang Gen Z terhadap teknologi, sekolah bisa melakukan pendekatan terhadap Gen Z.

#3 Melakukan pendekatan terhadap siswa-siswi masa kini

Lakukan pendekatan terhadap siswa-siswi era kekinian. Sadarkan akan pentingnya belajar – dengan niat sebagai ibadah dan tujuan yang pasti, bukan sekadar supaya dapat rapor bagus. Sadarkan mereka bahwa masa depan mereka adalah di tangan mereka sendiri. Dunia sangat liquid, artinya sangat cair sekali. Setiap hari bergonta-ganti, berubah-ubah. Sungguh dinamis.

Percepatannya, eksponensial. Berpangkat. Gen Z mengalami perkembangan dua kali lipat dalam hal informasi. Oleh karenanya, perlu pengendalian diri yang kuat. Tugas sekolah dan orang tua adalah untuk memberikan kesadaran itu.

Sekaya dan seterhormatnya Kate Spade (desainer terhebat di Amerika) saja bunuh diri lantaran merasa hidupnya tertekan. Artinya, secanggih apa pun zaman ini, manusia tetaplah manusia. Tetap manusia lumrah. Jadi, tentu seperti dhawuh Guru saya bahwa lahir tanpa batin, kosong.

Mereka akan berusaha untuk sadar dan tahu maksud dari sekolah untuk tidak memberi mereka akses secara bebas untuk menggunakan gadget. Bukan berarti tidak percaya kepada mereka, tapi supaya lebih aman. Lagi pula, pendidikan pengendalian diri itu sangat diperlukan.

“Orang sukses mana pun, pasti modalnya adalah pengendalian diri.” Bapak Kiai Tanjung.

Bersyukurlah kalian yang mengalami pendidikan disiplin. Karena mengendalikan diri tanpa adanya proses rekayasa disiplin, sulit! Sulit sekali! Jika sekolah kamu melakukan itu, harusnya bersyukur. Jadikan ini kesempatan kamu untuk berproses. Bukan mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

“Orang sukses mana pun, pasti modalnya adalah pengendalian diri.” Bapak Kiai Tanjung.

“Seandainya saja dulu semasa sekolah saya bawa HP, pasti saya…. seandainya saja, seandainya saya seperti dia….bla bla bla…” Tidak ada rumusnya, keluhan berbuah kesuksesan.

Steve Jobs saja, harus merasakan kerasnya hidup. Dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri. Diangkat anak oleh orang lain. Untuk makan harus berjalan 7 kilometer dari kampusnya. Lalu keluar dari kampus karena beban biaya kuliah yang terlalu tinggi untuk orang tuanya. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Lihat, perusahaan paling bernilai sekarang adalah Apple. Inc..

And remember, While Steve Jobs was a kid, there wasn’t any smartphone… But see what he had done to the entire world? Superb!

Tidak ada istilah tertinggal. Yang harus disampaikan sekolah kepada siswa-siswi adalah, sadarkan kepada mereka bahwa kemudahan mengakses informasi bukan berarti paling kaya terhadap informasi. Bukan berarti tidak membawa HP di asrama atau sekolah, adalah kemunduran. Tapi itu semua sangat positif untuk pendidikan mereka.

***

Menurut kamu bagaimana ulasan di atas? Mari diskusi melalui kolom komentar di bawah ya….

Jika belum berlangganan blog ini, masukka e-mail kamu di bawah ini!


[1] Dalam artikelnya yang berjudul Digital Native and Digital Immigrant, Marc Prensky mendefinisikan Digital Native dengan manusia yang sejak bayi sampai remaja mengalami perkembangan digital: internet, gadgets, dsb.

[2] David Stillman dan Jonah Stillman dalam bukunya yang berjudul, Generasi Z (2017), mendefinisikan kelahiran 1995-2012 adalah generasi Z (Gen Z).

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering