Pesona Critical Eleven dari Ika Natasha

God, Damn it! It reminds me with my dream since I was a kid. I would be a writer, and remembered by many people in this country…

Saya memang habis membaca sebuah karya fiksi dari Ika Natasha yang berjudul Critical Eleven. Iya, memang sudah di-film-kan. Tokoh utamanya dimainkan oleh aktor terbaik Indonesia saat ini, Reza Rahadian sebagai Aldebaran Risjad (Ale). Sedangkan tandem main Reza adalah best actress too, who is she? indeed! Adinia Wirasti sebagai Tanya Bhaskoro (Anya).

Keduanya diperankan dengan baik. Pokoknya best deh akting mereka. Saya sangat mengagumi cara mereka memainkan tokoh dalam novel tersebut. Nol sampai sepuluh, saya kasih angka delapan untuk akting mereka. Kenapa tidak sepuluh? I don’t know, hanya menurut saya, cerita di seri novel lebih bagus daripada di film-nya. Itu yang memengaruhi penilaian saya — subjektif ya?  It is what it is, take it easy…

Ika Natasha

Novel Critical Eleven karya Ika Natasha

Ini bukan review Critical Eleven, toh kalau me-review juga tidak ada gunanya, lhawong film ini tayangnya sudah tahun lalu. Basi kalau bahas film itu. Udah banyak review di blog-blognya orang. Cari deh…

Entah mimpi saya untuk menulis novel terbangkitkan kembali. Sejak dulu, saya ingin sekali menulis karya fiksi: novel. Banyak ide yang bermunculan, namun di tengah jalan, selalu gagal dan gagal. Lagi pula, saya tidak memiliki banyak waktu untuk menggarapnya. Saya harus melakukan ini dan itu, sampai-sampai mimpi saya ini terpendam lama. Sampai-sampai saya putus asa dan bilang ke diri sendiri, “udahlah, enggak mungkin…. mending kamu melakukan sesuai alur hidupmu. Mimpi itu biarlah menguap seperti air pada siang hari dan mengembun bagai di pagi hari. Lenyap.”

Tapi, saya tidak bisa melepaskannya begitu saja. Sudah banyak hal-hal yang hilang dari hidup saya. Sudah sering saya merasakan kehilangan, dan sudah banyak hal-hal yang saya korbankan. Apakah impian ini juga harus saya korbankan? Berat! Sungguh berat! Sepertinya saya tidak akan mampu membuangnya begitu saja. Dalam hati kecil saya, “saya harus bisa jadi penulis!”

Ika Natasha, melalui karyanya telah membangkitkan spiritku lagi. Aku harus mampu membuat karya sebagus dirinya, bahkan melebihi karyanya yang best seller itu. Andrea Hirata? Belum, kejauhan. Mimpi harus dari yang sederhana. Hey Dude, don’t think you can run 10 kilometers  if you can’t outrun 5 kilometers. 

Setiap muncul karya baru, saya merasa seperti dihina, diejek, lantaran belum ada karya yang saya lahirkan. Baru satu, Jagat Kiai Tanjung, buku non fiksi yang terbit tahun lalu, Itu adalah buku pertama saya. Yaps, satu mimpi telah terpenuhi. I gotta move on from my first step, it has been a year since my first book. I must have two in 2018 … 

arifasatar.com

Buku pertama saya, menceritakan sosok luar biasa: Guru saya sendiri, Bapak Kiai Tanjung.

If you can’t move on from your first step, it means you never step at all, doesn’t it?

Oke, saya harus melakukan sesuatu mulai sekarang. Ide-ide yang dulu pernah ada, harus saya bangun lagi. Harus saya susun lagi. Menjadi sebuah cerita yang bagus, menarik, dan berkesan untuk para pembaca. Saya harus, sorry, I will make it..! It sounds crazy, right? Yet, I have good feeling, I have ambitions, I am fearless, I’ll make a rapid change on myself as soon as possible…. 

Satu lagi, menjadi penulis adalah mimpi awal. Saya ingin suatu saat saya juga main film saya sendiri — yang diangkat dari novel karya saya sendiri. Sudah menjadi mimpi lama, sejak masih kecil, saat bapak dan ibu suka nonton film bareng di rumah kecil saya dulu, ada keyakinan dalam hati saya, “suatu saat, saya akan bikin film saya sendiri, dengan cerita saya sendiri…!”

Beberapa kali saya mencoba memulai menulis novel saya sendiri, namun di tengah cerita, saya berhenti. “Kenapa cerita saya buruk sekali?” Itu yang saya rasakan. Namun, ketika saya membaca novel-novel yang saya punya, Dude, you’re only so idealist, and you make yourself more pathetic now, because you’ll never get the best if you don’t start from zero. Let’s start from suck story, and get the better one then… Let’s start from some tiny actions, and you’ll make it then.. 

Oke, saya akan mulai merangkai cerita saya. Semoga kali ini benar-benar berhasil……

Hmm… Saya tidak me-review bukunya, tapi saya ingin kasih alasan kenapa harus baca buku ini atau nonton film-nya.

#1 Mengangkat konflik sederhana yang realistis

Banyak sekali novel yang fiksinya kebangetan. Sebuah karya fiksi memang syarat akan imajinasi. Namun, bukan berarti menghilangkan sisi logis sebuah cerita. Maksud sisi logis?

Oke saya jelaskan bagi yang awam dengan karya fiksi. Seorang penulis fiksi atau karya sastra, menggabungkan antara imajinasi dan logika. Antara kenyataan dan fiktif. Antara masa depan dan masa lalu serta masa sekarang. Begitulah cara berpikir seorang penulis. Ada beberapa karya sastra yang bagus tapi illogical.

Illogical kayak bagaimana? Sorry to say, ada sebuah novel yang saya baca, kalau tidak salah judulnya Hujan — lupa pengarangnya hehe… Di novel itu diceritakan anak-anak SMA suka berantem karena merebutkan primadona di sekolahnya. Tujuh puluh persen cerita diisi sama berantem. Saat saya baca itu saya berpikir, how could a major publisher decided to publish this novel? Menurut kamu, apa mungkin seorang anak SMA kerjaannya berantem tanpa diketahui orang tuanya?

Hmm… agak rumit ternyata menjelaskannya, tapi semoga kamu bisa memahami maksud saya. Dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, sesuatu yang sulit dipercaya, pembaca bisa langsung percaya karena logis. Misal, si Lintang yang hampir 80 kilometer naik sepeda butut untuk sekolah tiap hari, itu kan insane banget! Anak SD naik sepeda butut segitu jauhnya. Orang naik mobil aja butuh dua jam perjalanan, kan?

Tapi orang-orang believe aja gitu. Kenapa? karena kita telah terbius dengan logika-logika cerita sebelumnya yang nyambung banget. Semua logis. Sangat-sangat logis, sehingga kita tidak merasa terbohongi, dan dalam batin, “wah hebat ya si Lintang… pahanya segotot apa ya?”

Dan, novel karya Ika Natasha ini — sumpah saya tidak bohong — syarat banget sama logika. Semuanya logis. Bahasanya ringan, dan alur ceritanya bikin penasaran.

#2 Konflik yang sederhana dan barangkali banyak yang mengalami

Satu lagi yang luar biasa dari karya Ika Natasha ini. Konflik yang dibangun sangat sederhana, namun agaknya memang terlalu didramatisir. Berhubung saya belum pernah mengalami apa yang dialami oleh pasangan Ale dan Anya (Reza rahadian dan Adinia Wirasti), saya cuma mengangguk-angguk dan sepakat kalau konflik ini memang bisa didramatisir abis.

Udah tahu konfliknya? Belum ya? Oke singkat cerita saja, kalau kamu malas di-spoiler mending langsung ke poin #3 saja.

Cerita berawal dari meninggalnya anak pertama Ale dan Anya. Namanya Aidan. Aidan meninggal dalam kandungan Anya. Sehingga Anya melahirkan dengan kerja keras, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melahirkan bayi yang tanpa nyawa. Dari situlah konflik mulai pecah. Sampai mereka berseberangan dalam hal apa pun.

Itu aja ya spoiler-nya…

#3 Bisa bikin senyum-senyum sendiri…

Senyum-senyum sendiri saat baca novel, kamu pernah seperti itu tidak? Saya sering sih.

Ika Natasha berhasil memperkosa imajinasi para pembaca dengan sangat kasar dan tanpa ampun. Sampai lemas — dan minta lagi. Ceritanya mesum!?

Bukaaan….. bukan itu maksud saya…. Ceritanya tentang rumah tangga. Dua sejoli yang bertemu di pesawat kala menuju Sydney. Tidak sengaja mereka berdua duduk sebelahan dan Anya tertidur di pundak Ale. Mulai dari situ, kamu akan berpikir, “gila! seandainya itu nyata, gue mau dong!”

Yes, the way Ika Natasha describes Ale and Anya is perfect. No comment…! 

Sang penulis bisa mendeskripsikan dua tokoh ini dengan sangat-sangat detil. Kece abis…. Eventhough they had anxious conflict, but they had romantic relationship tho….


Saran saya, sebelum baca novelnya, jangan nonton filmnya. Atau kalau mau imajinasinya tidak diganggu film, mending jangan pernah nonton filmnya. Baca aja bukunya, kalau udah, ya sudah. Jangan coba-coba nonton filmnya. Soalnya, film dan novel sangat berbeda. Di film, ceritanya agak dirubah sedikit — ini yang bikin saya kecewa sih.

Kalau kamu malas baca bukunya, ya sudah, sepertinya kamu adalah tipikal malas kerja keras untuk berimajinasi sendiri. Tonton deh filmnya… DVD-nya masih ada kok kalau mau beli, atau lewat Netflix juga bisa.

Penasaran sama ceritanya? Langsung aja tancap….!

Belum berlangganan blog saya? Masukkan e-mail kamu di bawah ini….

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering