Rahasia Menjadi Orang yang Disenangi Banyak Orang

“Salah satu modal kesuksesan di era now, adalah menjadi pribadi yang menyenangkan!”

Sudah banyak buku yang mengulas bahwa kepribadian sangat erat kaitannya dengan kesuksesan. Banyak buku self-improvement favorit saya yang memberi bocoran, bagaimana menjadi pribadi yang disenangi banyak orang.

Menjadi pribadi yang menyenangkan bukanlah bawaan lahir. Kepribadian seseorang terbentuk secara alamiah atau terekayasa melalui budaya, pendidikan, dan nilai yang diterima dalam kandungan, keluarga, lingkungan, dan sekolah. Dan begitulah kenapa manusia tidak ada yang sama.

Mengapa perlu menjadi orang yang menyenangkan untuk orang lain? Pertanyaan yang bagus! Kalau menurut hemat saya pribadi, alasan saya harus menjadi pribadi yang menyenangkan adalah keinginan memperbaiki dan terus memperbaiki komunitas, lingkungan, dan keluarga saya sendiri.

“Mengubah seseorang adalah pekerjaan mustahil setelah menguras laut menggunakan sendok.”

Saya tahu hal itu, dan saya memang tidak ingin mengubah orang lain, kok! Saya sekadar melakukan sesuatu yang kiranya bisa membangun lingkungan yang kondusif untuk maju dan berkembang. Yang pertama harus saya lakukan adalah mengubah diri sendiri menjadi pribadi yang menyenangkan. Dan berikut adalah cara-cara menjadi pribadi yang menyenangkan untuk orang lain:

#1 Suka mendengarkan orang lain.

Percaya, manusia condong ingin diperhatikan dan didengarkan. Nilai ini sebenarnya telah tertuang dalam ayat Al-Qur’an. “Maksimalkan pendengaran, pengelihatan, dan pikiran ….”

“Pandai mendengarkan adalah modal seseorang menjadi cerdas, bahkan sukses!” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Serupa juga tertulis dalam buku How to Win Friends and Influence People (Dale Carniege & Assosiations). Sebuah kisah inspiratif dari buku tersebut, saya akan ceritakan. Suatu hari, ada dua pemuda sedang berbincang-bincang. Namanya John dan Max.

“Saya ingin menceritakan ini, tapi sepertinya saya pernah cerita dengan seseorang tentang ini! Apakah itu kamu?” Tanya Max.

“Bukan, Max, kamu belum pernah cerita, kok!” jawab John.

“Oke, jadi begini……………. bla bla bla….” Max mulai bercerita, namun ia ragu, apakah John benar-benar belum mendengar ceritanya tersebut.

“Sebentar, sebentar, apa benar kamu belum pernah mendengar cerita itu?” Tanya Max lagi.

“Belum, teruskan saja ceritanya, saya mendengarkan, kok!” Jawab John dengan tersenyum simpul.

“Oke, saya lanjutkan lagi…” Saat Max hendak melanjutkan ceritanya, ia lagi-lagi ragu. “Apa benar kamu belum pernah dengar cerita ini?”

“Oke, karena kamu sudah tiga kali bertanya demikian, padahal saya sudah membiarkan kamu melanjutkan ceritanya, saya akan terus terang. Sebenarnya, cerita yang sedang kamu ceritakan adalah cerita dari aku.” Jawab John dengan tidak melukai perasaan Max.

Bisa kebayang tidak kalau kamu adalah John? Mungkin kalau saya, sejak awal dia ingin bercerita udah saya potong. “Oops.. itu kan cerita dari saya!” Namun, John sangat bijaksana, dia tetap membiarkan Max bercerita, meski ceritanya dari dirinya.

Dalam bukunya John Maxwell, dikatakan bahwa seorang atasan yang suka mendengarkan bawahannya cenderung mendapatkan reaksi yang maksimal dari bawahannya. Mereka cenderung menjadi anggota tim yang solid dan kuat. Bahkan, dalam catatannya, tim tersebut mampu melakukan lebih banyak pekerjaan dalam waktu yang lebih cepat dari yang lainnya.

Jadi, kamu bisa menyimpulkan sendiri, kan?

#2 Membuat orang lain merasa lebih baik.

Dua hari lalu, selepas salat Tarawih di masjid, salah satu teman saya mendekati saya dengan lalu bercerita pengalamannya saat direndahkan orang lain.

Saya mendengarkan setiap kata, kalimat, dan topik yang dibahasnya. Saya memang suka mendengarkan ceritanya. Ceritanya selalu menghibur dan membuat saya jauh lebih baik. Teman saya tersebut memang pribadi yang cukup menyenangkan.

Dia bilang kepada saya, “saya diremehkan oleh orang lain, katanya, ‘kamu bisa apa?’ dan spontan aku membalasnya, ‘lihat saja 5 tahun sampai 10 tahu lagi, kalau aku sukses, kamu aku banting!’” Raut mukanya berubah yang semula datar jadi sedikit eksplosif.

Saya menenangkan dirinya. “Sudah, tenang saja, orang lain tidak pengaruh kok sama kita.” Dia mengangguk setuju.

Saya merasa agak kecewa dengan orang yang merendahkan dirinya. Zaman sekarang masih ada aja saling merendahkan satu sama lain… hadeh…

Oke, saya akan terus terang. Teman yang bercerita kepada saya memang terplot sulit dipercaya oleh lingkungannya. Saya tahu betul itu. Karena dia adalah teman saya sejak SMP sampai kuliah.

Setiap perkataannya, sulit dibedakan mana yang hiperbolis dan mana yang realitas. Saya akui memang begitu sejak dulu. Tapi, saya tidak menanam keyakinan dirinya tidak akan berubah. Saya mengamati perkembangan kedewasaan dalam dirinya. Bertambahnya usia, membuat dirinya sadar dan mulai mengubah dirinya secara perlahan.

Bagi saya, menanamkan keyakinan bahwa orang lain buruk sama saja seperti tidak memberi kesempatan dirinya untuk berbenah. Bayangkan saja kalau itu kita, rasanya bagaimana ketika orang lain skeptis dan memplot kita tidak akan mampu menjadi lebih baik? Pedih…..

Mendengarkan dirinya bercerita, memberi perhatian penuh, dan memberi sedikit pujian menurut saya bisa menjadi dirinya merasa penting. Kalau dia merasa dirinya penting, otomatis hari-harinya menjadi lebih baik. Membuat orang lain merasa lebih baik, adalah pahala, bukan?

Daripada mengeluarkan kalimat-kalimat menjatuhkan, mending mengeluarkan pujian, pertanyaan, atau sama sekali diam. Melontarkan kalimat tidak baik, justru membuat orang lain merasa lebih terpuruk dan tertekan. That is so rude, isn’t it?

#3 Fokus pada kelebihan, bukan orangnya.

“Kalau aku enggak cocok sama dia, dia enggak enak diajak bicara!” Kamu bilang seperti itu karena kamu berharap segala sesuatunya sesuai dengan arus yang terbayang di kepalamu, kan?

Baru saja saya membaca buku The Awakened Family, Tsefaly Tsabari (2017), bahwa terkadang terhadap anak sendiri pun fokus kita adalah pada subjeknya, bukan pada kelebihannya. Sehingga kita sering menuntut  banyak kepada dia, sampai-sampai dia tidak menjadi pribadi sejatinya.

Dale Carniege juga berpendapat demikian. “Keburukan seseorang akan sangat mudah sekali diingat, sedangkan kelebihan seseorang atau kebaikan seseorang akan dengan mudah hilang dari ingatan.” Begitulah dasarnya hal negatif dengan mudah menyebar dan membekas di otak.

Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing. Tidak ada orang yang mampu melakukan segala hal dengan luar biasa sekaligus, tanpa cacat sama sekali. Dalam sebuah korporasi, dibutuhkan kemampuan atau kelebihan setiap tim, bukan bentuk fisik orangnya belaka.

Terkadang secara emosional, berat untuk mengakui kelebihan orang lain, namun itu yang dibutuhkan. “Puji-pinuji kui pancen abot, hananging selagi pengin guyub rukun, yo kudu latihan puji-pinuji dulure..”[1] Begitu dari Guru saya, Bapak Kiai Tanjung.

Membangun tim yang solid adalah kunci keberhasilan sebuah tim. Saat antar anggota tidak dapat menyisihkan ego untuk melihat setiap kelebihan anggota yang lainnya, maka yang ada adalah sikut-sikutan satu sama lainnya dan tim tidak akan mampu menghasilkan kinerja yang optimal.

Fokus pada kelebihan seseorang menjadi pengemudi pikiran kita. Bawaan dari pikiran itu adalah perilaku ramah, hangat, dan menyenangkan. Kita akan disenangi banyak orang kala kita mampu seperti itu.

#4 Gali keinginan inti mereka.

https://pixabay.com/id/users/dagon_-1155171/

https://pixabay.com/id/users/dagon_-1155171/

Melakukan monolog dengan orang lain, ibarat kita menghujam seseorang dengan jarum dan meteor.

Selama puasa, saya terlibat di dalam kelas di salah satu sekolah menengah di Nganjuk. Manajemen meminta saya dan tim untuk memberi motivasi kepada para siswa. Dan banyak hal telah saya temukan di sana.

Keinginan inti mereka belum benar-benar tersentuh. Hal ini sangat wajar. Saya kira banyak sekolah lainnya juga begitu.

Sudah menjadi budaya dari arusnya memang sejak dulu demikian. Sekolah bertugas mencerdaskan anak bangsa dengan memberi mata pelajaran sesuai dengan kurikulum. Namun, keinginan inti dari peserta didik tidak pernah tersentuh. Tidak peduli si siswa sedang dalam masa-masa sulit atau tidak, yang penting materi terus berlanjut. Begitulah aturannya….

Ya Tuhan, ternyata zaman sudah jauh berbeda! Angka perceraian yang semakin meningkat, memengaruhi pribadi mereka. Para siswa/i yang menjadi korban perceraian orang tuanya rata-rata menginginkan perhatian dari orang lain. Mereka ingin didengar, dipeluk, dan diperhatikan.

“Rasanya hancur sekali, aku enggak nyangka kalau orang tuaku begitu di belakangku selama ini…” Dengan terisak salah satu siswi mendekat kepada saya dengan memegangi jilbabnya. Air matanya mengucur deras. Saya sangat bersimpati dengan dia.

“Segala semangat hidupku porak-poranda, Mas. Kalau aku mati kayaknya juga enggak ada yang nyariin.” Katanya dengan pelan.

Saya mencoba menenangkan dirinya. Saya dengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Selama lebih dari sejam kemudian. Saya baru menguatkan dirinya.

“Saya sangat bersimpati dengan kejadian yang menimpa kamu. Saya minta maaf, saya juga merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu adalah anak yang tangguh, belum tentu ketika saya berada di posisimu, saya bisa menghadapi sekuat kamu.

“Saya yakin, yang membuat kamu sekuat ini karena skill dan pikiran yang kamu miliki. Saya sering memerhatikan karya-karyamu di blogmu, kamu juga kemarin main basketnya bagus, saya memilki keyakinan, kamu sebentar lagi akan keluar dari masa-masa sulit ini, dan menjadi pribadi yang sukses di masa depan!”

Dia menatap saya, lalu dia bilang, “terima kasih, Mas.” Dia melanjutkan menangisnya – kalau di FTV mungkin kami sudah berpelukan, tapi saya sadar kalau ini bukan FTV, hehehe….

Biasanya, orang yang lebih tua, merasakan egonya memberontak manakala ada yang lebih muda meminta sesuatu kepada mereka. Rasanya seperti menjadi pembantunya saja kalau menuruti permintaan mereka, begitu kan?

Sehingga saat kita mengetahui keinginan anak-anak adalah diperhatikan, kita menolaknya. Kita tidak ingin mengabulkan permintaan mereka karena kita tidak ingin kalah. Seharusnya yang mengikuti arus adalah mereka (yang lebih muda) bukan kita.

Menggali keinginan inti orang lain akan membantu kita menjadi orang yang disenangi orang lain.

Begitulah empat poin menjadi pribadi yang menyenangkan orang lain dan disenangi banyak orang. Menruut kamu bagaimana? Baca juga artikel saya yang berjudul 4 Sumber Penghasilan Hanya dari Rumah Saja yang Jarang Diketahui Orang!

Kalau ada komentar atau ingin menambahkan, silakan isi di kolom komentar bawah ya…

Please subscribe to get more article ….

[1] “Saling memuji itu memang berat, tapi kalau ingin guyub rukun ya harus berlatih saling memuji terhadap saudaranya sendiri.”

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering