Keracunan! (Hampir Mati)

“Keracunan atau Masuk Angin, yang Jelas Sakitnya Kayak Orang Mau Melahirkan!”

Janjian meeting masih sejam lagi. Tik tok tik tok, jarum pendek masih menunjuk angka dua. Mandi siang, pakai parfum, sikat!

Sesampainya di tempat meeting — gazebo depan SMA Pomosda — enggak ada lagi yang dipikir, langsung baca buku Gen Z karya Om Stillman dan Jonah (anaknya). Emang sedari awal udah niat banget mau baca buku di gazebo sembari menunggu teman-teman sejawat untuk meeting — tentang Japo Chocolate yang akan launching produk baru.

Kelor

Angin semilir dari arah timur menerpa rambut saya yang pendek dan leher saya. “Siang hari tapi anginnya lumayan bikin badan menggigil,” bisik batin saya. Sejenak saya menutup buku, melihat teman saya sedang bermain dengan dua anak kecil. Sebenarnya saya cukup terganggu dengan suara tawa mereka yang memecah konsentrasi saya yang sedang fokus dengan buku. Namun, yah, namanya juga anak-anak, wajar saja.

Berawal dari memerhatikan tingkah mereka, saya jadi terpikir akan isi buku yang sedang saya timang-timang. Buku yang mengulas tentang seluk-beluk Gen Z — lahir di tahun 1995-2012. Gen Z sudah tidak lagi kanak-kanak, mereka sudah masuk ke dunia kerja. Buku tersebut fokus membahas bagaimana Gen Z di dalam dunia kerja. Penasaran? Beli deh di Gramedia, masih ada kok!

#Kenapa saya baca buku tersebut? Enggak penting banget….!

Hmm… mungkin sekilas jika dipikir-pikir membaca buku adalah sebuah aktivitas diam yang enggak produktif dan enggak ada manfaatnya. Saya katakan, memang iya, membaca adalah kegiatan membosankan yang enggak produktif sama sekali.

Pertanyaannya, ngapain masih baca buku?

It’s so simple, Mamen! Karena, tujuan membaca buku dan bekerja itu beda jauh. Begini, berkonsentrasilah, karena saya akan menguraikan menggunakan logika.

– Kamu sekarang kuliah atau sekolah? Ngapain kamu kuliah atau sekolah?

+ Supaya pintar, mendapat wawasan, nalarnya berkembang, kemampuan kognisinya tajam!

–  Kenapa enggak kerja aja? Kan bisa dapat duit dan lebih produktif, kenapa?

Pertanyaan ini sering banget dilontarkan kepada saya. Dan jangan khawatir, saya memiliki sebuah jawaban yang sama sekali enggak menyinggung perasaan dan bijak — tenang, tenang, saya enggak akan bilang, “bodoh kamu gitu aja enggak ngerti!” Hehehe….

Oke biar saya jelaskan dengan logika — berkonsentrasilah! Belajar itu tujuannya emang bukan untuk dapat duit. Belajar itu untuk meningkatkan kualitas diri. Supaya akalnya tajam, kalau sudah begitu kreatifnya muncul, logikanya jalan, dan sebagainya. Kalau kerja beda lagi tujuannya. Kalau kamu kerja enggak dapat duit, nah itu baru dikata-katain enggak apa-apa — eits jangan, ntar dilaporin polisi lho!

maksud saya, dua aktivitas yang memiliki tujuan beda, kenapa indikatornya disamakan? Uang bukan indikator mutlak — seperti halnya tingkatan kemakmuran sebuah negara tidak melulu berindikator GNP dan GDP — apa itu GDP dan GNP? Klik di sini!

Sekarang jelas ya? Oke…

#Bosan, cari cemilan sebelum keracunan atau (mungkin) cuma masuk angin..

Oke, kronologinya begini. Karena emang waktu tadi itu angin semilir banget, akhirnya saya mengantuk. Membaca buku kalau mengantuk, itu kayak lagi di jalan tol, macet, terus kebelet pup, gimana tuh rasanya? (BTW, analoginya pas enggak sih? Ah bodo amat!).

Sekitar pukul 14. 45 saya ke toko Waserda Selamat, nyari-nyari cemilan. Lapar campur haus, siang-siang, enaknya makan es krim. Satu es krim saya lahap habis. Makannya sambil dengerin lagu Dusk Till Dawn-nya Zayn featuring SIA. Nikmatnya, es krimnya nampol banget!

Es krim habis, tapi masih lapar dan haus, karena bawa dompet, saya ambil kripik jamur dan Nutriboost rasa jeruk. Bayar, ambil, meluncur lagi ke lokasi meeting. Sesampainya di sana, saya buka langsung Nutriboost-nya, sambil kriuk-kriuk makan kripik jamur. Enggak ada masalah dengan perut saya.

Enggak lama kemudian, teman saya datang, nah, perut saya mulai bereaksi. Keringat dingin mengucur dari jidat, leher, punggung saya basah keringat. Rasanya perut seperti diplintir-plintir. Mual. Pusing. Mau muntah. Lemas. Wih, enggak kebayang sama sekali. Saat itu, rasanya seperti mau mati — lebay? Emang gitu kok rasanya.

“Aku pulang dulu, Sob!” Saya pamit ke kedua teman saya.

“Oke, istirahat saja dulu, Sob!” Kata mereka.

Saya pun beranjak dari tempat saya, mulai melangkahkan kaki perlahan. Dan, “hey, kenapa dunianya berputar, bola mata saya seperti nyangkut di atas. Aneh banget rasanya. 

Terhuyung badan ini, sampai menabrak pot bunga, paralon vertikultur dan benda-benda tak berdosa lainnya. “Apakah takdirku mati dengan cara begini?” Gila, pikiran saya semakin liar. Mulut berkomat-kamit minta ampunan kepada Guru saya, bersandar, dan mencoba untuk menafikan rasa sakit yang saya rasakan tadi.

Dari gazebo ke rumah jaraknya sekitar 100 meter lebih, dan perjalanan itu terasa lama banget. Saya hampir pingsan. “Brak!” Saya membuka pintu sekenanya. Masuk kamar, lalu perut kram. Benar-benar sakit banget, seperti orang mau melahirkan — meski saya pun enggak tahu rasanya ngelahirin gimana. At least, tahu rasanya sunat.

Ke kamar mandi, semua isi perut termuntahkan semua. Wuih, toping es krimnya masih kerasa. Nootriboost-nya juga kerasa. Pecel lele tadi pagi juga kerasa. Yang penting rasa sedih ditinggal mantan enggak kerasa lagi… LoL Wakakaka..

Sekitar sejam di kamar mandi, perut mulai bisa berkompromi. Saya keluar. Dan alhamdulillah, saya dikelilingi keluarga yang baik hati sekali dengan saya — meski bukan keluarga kandung, tapi mereka sudah saya anggap adik, kakak sendiri. Saya dirawat dengan sangat baik oleh mereka. Orang tua saya sedang dalam perjalanan pulang dari Sumatra sampai malam ini. Keempat adik kandung saya masih kecil-kecil, so it was impossible for them to feel what I’d felt, I was dying tho! 

Hal yang gila lagi adalah, ketika saya dying, adik-adik saya masih bisa menikmati main PES 2017, lho! *Gubrak!*

Teman saya buru-buru beli kelapa muda, saya sedot habis isinya, saya segera melahap degan ijo-nya. And…. lagi-lagi masuk kamar mandi. I give up with this stomachache.. Saya nyerah, segera teman saya tadi memanggil seorang perawat untuk memeriksa saya.

Perawat datang, memeriksa saya. “Bisa jadi dampak dari makanan yang dimakan seharian ini, bisa juga masuk angin.” Katanya, saya diberi obat dan dianjurkan segera makan.

#Pijat Refleksi Pak Yasmin

Siapa Pak Yasmin? Beliau adalah terapis yang menurut saya ahli di bidangnya. “Mas, gimana kalau mengundang Pak Yasmin untuk memijat?” Agus (teman saya) menawarkan.

Saya pikir-pikir agak lama — mikirin ada duit enggak ya buat bayar, secara Pak Yasmin adalah terapis andal, yang kedua mikirin, entar kalau sakit gimana ya? “Gimana, Mas? Mumpung orangnya ada di sekitar sini..” “Oke! Saya mau…!”

Setengah jam kemudian, Pak Yasmin datang dengan perlengkapan terapinya. “Silakan terlentang, Mas..” Begitu lembut suara beliau. Sentuhannya pun juga demikian. One, Two, Three, and…… “WOOOOOOOOOOO! IT’S HURT! SAKIT SAKIT!! HENTIKAAAN! SAYA MAU MATIIIIIII!” Sakitnya minta ampun…..”

“Enggak pernah dipijat begini?” Tanya beliau..

“Uh argh… BEE…. Ah uh…LUUM OUCH! Kaki saya PATAH..PATAH…!”

Beliau enggak peduli saya kesakitan kayak apa, terus melanjutkan pijatannya yang bombastis banget. Asli, tega banget.

“Yaa Allah, permohonan dari hamba-Mu ini, buat waktu lebih cepat dari biasanya, saya ingin sejam kemudian sekarang juga..!” Dalam benak saya. Saking sakitnya….

Penderitaan saya selesai sejam kemudian. Dan hasilnya? Badan saya jauh lebih baik setelah dipijat Pak Yasmin. Luar biasa! Sekarang saja, saya bisa menulis blog ini tiga jam kemudian.

#Poinnya apa?

 

Santri Pomosda memanen sayur dari lahan-lahan sempit

Oke, poin dari pengalaman saya adalah, jangan gampang jajan. Akhir-akhir ini saya emang suka makan di luar rumah, makan jajan-jajan, pokoknya beda jauh dengan pola hidup saya sebelumnya. Saya sekarang cenderung menyepelekan makanan yang saya makan, padahal, Guru saya sering memberi pesan kepada para muridnya, “kita adalah yang kita makan.”

“Kita adalah yang kita makan.” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Bahkan Guru saya menawarkan sebuah solusi untuk membentuk pola hidup sehat demi diri sendiri dan keluarga: Program Kemandirian pangan Nusantara Bangkit — saya akan uraikan ini di artikel berbeda.

Seenak apa pun makanannya, kalau berdampak di belakang, mending diubah. Memakan makanan yang kita tahu cara buatnya, dari mana asalnya, dan bagaimana proses budidayanya. Itu adalah cara efektif untuk hidup dengan sehat.

Saya mengalami hal buruk hari ini. Sudah lima kali saya mondar-mandir kamar mandi — and it is annoying very much, you know it, don’t you?

Saya ingin bertanya kepada kamu sekarang, mau mengalami hal buruk seperti saya? Xixixixi….


Mungkin judulnya agak lebay, emang iya.. hehehe… Baca juga artikel saya yang lain: Kelor, Pohon Ajaib untuk Keluarga Sehat atau 4 Sumber Penghasilan Hanya dari Rumah Saja yang Jarang Diketahui Orang ..

Kamu bisa pakai cerita saya untuk mengedukasi anak-anak, adik, kakak, teman, orang tua, siapa pun, rasanya sakit banget…! Gila!

Mau mendapatkan pemberitahuan setiap update artikel? Masukkan e-mail kamu di bawah ini!

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering