4 Alasan Kenapa Sekolah Harus berbenah

Lagi dan lagi, di era  informasi dapat tersebar secepat kecepatan cahaya, menerobos masuk ke otak saya. Dan, rasa geregetan yang udah lama kependam, sekarang muncul lagi. Apa itu? Geregetan sama sistem pendidikan Indonesia.

Tidak adakah solusi untuk memperbaiki keadaan negara yang udah kayak begini keadaannya? Pencuri enggak cuma yang berpakaian lusuh, tapi juga yang berjas, berdasi, dan juga wangi. Miris!

I just wonder, if we are able to do something, cutting the stupidity of this nation by create something different to the education. We must do a little thing that has a huge effect – tipping point.Education is our hope to make it, but this is unfortune of this country; goverment doesn’t have any longer brain to think about this.  

Kenapa saya ngebet banget supaya ada lebih banyak sekolah lagi – karena udah ada beberapa sekolah yang berani out of the box—mandiri dalam menentukan pendidikannya meski dirasa ilegal oleh pemerintah.

Anggap saja ini adalah bentuk protes kepada pemerintah yang seolah hanya sibuk ngurusi politik – status quo-nya masing-masing, berpikir bagaimana supaya parpolnya tetap menang dalam pagelaran demokrasi.

Setiap rakyat boleh koar-koar, protes, atau mengkritik kinerja pemerintah, bukan? Mari lakukan dengan cara yang bertanggungjawab. Bukan turun ke jalan, semata-mata mengadu, atau berbicara nyinyir di medsos. Dengan sebuah langkah nyata. Sebelum saya menulis gagasan untuk merevolusi pendidikan, saya ingin cerita sebabnya dulu kenapa pendidikan kita harus berbenah.

#1 Salah adalah dosa

4 Alasan Kenapa Sekolah Harus Berbenah

Banyak buku yang mengulas tentang ini, bukan? Robert T. Kiyosaki udah sering ngomongin sekolah yang bikin semakin banyak pecundang daripada kesatria dalam buku-bukunya: Bussiness School (2017), Why The Rich Are Getting Richer (2018), Cashflow Quadrant (2015), dan lain-lain. Tidak hanya Robert T. Kiyosaki, namun penulis-penulis termasyhur seperti W.Kim Chan & Renee Mauborgne, Lars Kolind, Jeff Sutherland, dan lain-lain juga mengkritisi sistem pendidikan tradisional yang ada sekarang.

Kurang apa lagi? Selama ini, sekolah bukanlah pendorong seseorang untuk kreatif, melainkan mencetak generasi yang phobia terhadap kesalahan. Dalam buku Business School (2017), Robert T.Kiyosaki bercerita, “suatu ketika saya mendengar teman saya dimarahi guru sekolahnya karena teman saya kurang berbakat di sekolah, bahkan guru saya bilang dia tidak akan pernah menjadi kaya dan menerima kehidupan yang dia inginkan karena kemampuannya di sekolah yang rendah. Kemudian, teman saya, Martha, keluar dua minggu sebelum ujian kelulusan.”

“Sekolah yang sekarang ini, bukan lagi rekayasa pembentuk akhlak dan adab, tapi penghancur kreatifitas dan moral.” Ujar Bapak Kiai Tanjung, guru[1] saya.

“Sekolah yang sekarang ini, bukan lagi rekayasa pembentuk akhlak dan adab, tapi penghancur kreatifitas dan moral.” Bapak Kiai Tanjung.

Setiap anak yang melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas atau tes, yang didapatkannya dari guru bukanlah dorongan untuk mencoba lagi, tapi justru sebaliknya: kapok dan jangan coba-coba lagi mengerjakan hal itu. Padahal, kebanyakan orang yang berhasil dan sukses sekarang, mereka adalah  pelaku kesalahan terbanyak dan akan tetap melakukan kesalahan-kesalahan di masa depan atau masa kini.

Bukankah ini paradoksal yang terlalu kontras? Tonton penjabaran-penjabaran dari Bapak Kiai Tanjung di sini!

Inilah sebab pertama kenapa sekolah harus berbenah dan merevolusi sistemnya. Baca juga 3 Rahasia Agar Anak Cerdas (Terbukti Ampuh!)

#2 Kurang relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh murid di luar sekolah

4 Alasan Sekolah Harus Berbenah

Sebab yang kedua ini pasti kamu juga tahu, kan? Saya sendiri sering ngerasa, “buat apa yang saya belajar khusus mengerjakan tentang hukum pidana di sekolah, padahal saya enggak membutuhkannya saat itu?”

“Ya jelas butuh! Kalau enggak tahu hukum, gimana mau berbangsa dan bernegara, kita aja hidup di negara hukum!” Langsung ada yang protes gini deh pasti setelah baca ini.

Ya, itu enggak salah sih, tapi belum dibutuhkan juga. Kode etik, hukum, dan segala tetek-bengek tentang peraturan-peraturan negara pasti dengan sendirinya akan dipelajari seiring kebutuhan.

Japo Chocolate

Misal, sekarang saya usaha cokelat kelor, ya sudah pasti saya harus belajar tentang hukum, etika berbisnis, dan lain sebagainya tanpa ada mata pelajarannya. Itu sudah kebutuhan. Tapi saya rasa, saya hanya buang-buang tenaga, uang, dan waktu jika selama 12 tahun lebih saya belajar tentang hukum di bangku sekolah saya dulu – malah harus hapal UUD segala, hadeeeh… capek deh!

Pendidikan yang manjur untuk para siswa adalah kesalahan-kesalahan dan keterlibatannya dalam dunia sehari-hari sungguhan. Bukan tes-tes tulis atau oral. Nih, ada sebuah cerita yang saya kutip dari buku Business School (2017) yang ditulis oleh Robert T.Kiyosaki.

Suatu ketika, beberapa akademisi yang pandai ingin membuktikan kecerdasan dari Henry Ford – pemilik Ford Company – dengan mendera berbagai pertanyaan teoritis. Sesampainya di kantor Henry Ford, mereka mulai mengajukan pertanyaan pertamanya.

“Berapa kekuatan daya regang dari besi gulung yang Anda gunakan?” Ford tidak mengetahuinya, maka dari itu, Ford mengangkat gagang telepon lalu memanggil wakil presidennya. Tak lama kemudian, sang wakil presiden datang dan menjawab pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua pun diajukan oleh para akademisi dan lagi-lagi, Ford menelepon staf ahlinya untuk menjawab pertanyaan para penelis. Hal tersebut berlangsung sampai semua pertanyaan habis.

“Tuh kan, Anda adalah orang yang bodoh, buktinya Anda tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kami tadi!” Teriak salah satu panelis.

Konon Hendry Ford menjawab, “saya tidak tahu jawabannya karena saya tidak perlu memenuhi otak saya dengan jawaban-jawaban yang Anda cari. Saya mempekerjakan anak-anak muda cerdas dari sekolah-sekolah Anda, yang hapal luar kepala jawaban dari pertanyaan Anda tadi. Tugas saya bukan hanya menghapal informasi yang Anda anggap informasi cerdas,. Tugas saya adalah mengosongkan otak saya dari fakta-fakta kecil dan tidak penting seperti itu agar saya bisa berpikir.” Setelah itu, dia meminta para akademisi pintar itu meninggalkan ruangannya.

Robert T. Kiyosaki pun bertahun-tahun mengingat perkataan yang menurutnya paling penting dari Henry Ford, “Berpikir adalah tugas tersulit. Itulah sebabnya, begitu sedikit orang yang melakukannya.”

“Berpikir adalah tugas tersulit. Itulah sebabnya, begitu sedikit orang yang melakukannya.” Henry Ford.

Sejak dulu sampai sekarang kayaknya permasalahan sekolah masih tetap itu-itu saja. Ketidaksesuaian pelajaran di sekolah dengan fakta yang dibutuhkan.

Menurut saya – sesuai dari yang saya dapatkan dari guru saya, sekolah tidak bertugas untuk mencerdaskan siswa, tapi untuk membentuk akhlak, adab, mental, spiritual, dan fisik supaya memiliki jiwa pembelajar yang ulung.  

#3 Membikin siswa skeptis dengan belajar

4 Alasan Sekolah Harus Berbenah

“Pekerjaan paling sulit adalah berpikir.” Kalimat itu sering ditulis dalam buku-buku best seller dunia.

Banyak orang sekolah untuk bekerja, sehingga setelah bekerja, belajar serasa tidak lagi dibutuhkan. Selesai saya mengungkap kalimat ini, langsung ada yang protes. “Enak aja, aku juga belajar kok!”

Oke, setiap manusia pasti belajar sesuatu yang baru setiap harinya. Namun, konteks yang saya maksud bukan begitu. Belajar memang luas sekali artinya. Anak kecil yang semula enggak bisa berdiri, juga belajar berdiri, dan lainnya. “Belajar enggak melulu membaca buku, kok!”

“Banyak orang sekolah untuk bekerja, sehingga setelah bekerja, belajar serasa tidak lagi dibutuhkan.” ~ Arif Asatar.

Iya saya sepakat dan itu memang benar. Saya tidak ingin bilang bahwa orang yang enggak suka baca buku itu bodoh atau dungu. Namun saya cenderung ingin bilang, cara berpikirnya lah yang sering dungu atau bodoh – bagi saya, bodoh bukan untuk subjek, tapi cara berpikirnya, saya pun sering bodoh atau dungu dalam berpikir.

Langsung contoh saja. Saat kita berada dalam tim yang enggak tahu apa-apa, misalnya, saya memiliki tim usaha, namun pada enggak tahu apa itu keuangan, promosi, planning, evaluasi, metodologi tertentu, maka berat untuk berlari.

Dan kondisi sekarang ini, penghobi membaca buku adalah minoritas. Ditambah lagi, banyak orang-orang yang terlanjur skeptis dengan para akademisi cerdas yang enggak mampu berbuat apa-apa – semakin mencoreng atau mengotori pendidikan yang hakiki.

“matematika integral, eksponensial, dan aljabar itu tidak sulit, hanya saja terlalu dini diberikan.” Teman baik saya.

Kalau sekolah sekarang menekan siswanya untuk membaca buku atau mempelajari sesuatu yang sama sekali belum dibutuhkan, itu semua hanya akan membuat mereka skeptis dengan belajar.

Teman saya berceletuk, “matematika integral, eksponensial, dan aljabar itu tidak sulit, hanya saja terlalu dini diberikan.”Saya memahami perkataan teman saya yang penuh makna itu. Anggapan matematika itu sulit di kalangan siswa sebenarnya bukan berarti mereka bodoh dalam matematika. Sejatinya mereka terlalu dini untuk dipaksa berpikir tentang sesuatu yang sulit dibayangkan atau dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

“Sekolah itu ibarat dua bilah mata pisau yang sama-sama tajam, kalau enggak bikin semangat belajar atau malah sebaliknya, kapok belajar.” Ungkap teman saya tersebut.

Saya memiliki  rekan kerja yang rata-rata tidak lulus pendidikan tinggi atau kurang berpendidikan. Namun kebanyakan masalah yang timbul bukan karena strata pendidikan mereka yang kurang, justru mereka kesulitan move on dari stuck malas membaca buku dan belajar.

Masalah-masalah teknis yang timbul di tengah-tengah kami – yang biasa menyebabkan konflik internal – sebenarnya bukanlah perihal yang serius, namun karena ketidaktahuannya menyebabkan miskin metodologi atau miskin pandangan terhadap perihal yang dihadapi. Kalau disuruh baca buku, biasanya ngeles, “biar kamu saja yang membaca buku, saya yang mendengar dari kamu!”

Bukannya bikin para pelajar semangat belajar, malah terlanjur skeptis dengan belajar. Saat terjun ke dunia profesional, akhirnya belajar enggak lagi dianggap relevan dengan mereka. Enggak heran kalau Indonesia adalah negara dengan tingkat minat baca terendah keempat di seluruh dunia.

#4 Ladang bisnis

4 Alasan Sekolah Harus Berbenah

Rasa-rasanya, pendidikan sekarang ini adalah ladang bisnis yang lagi trend. Semakin tahun, semakin banyak sekolah-sekolah bermunculan. Namun, tidak banyak pula yang menganggap bahwa mendirikan sekolah adalah bagian dari bisnis yang dijalaninya.

Aneh sekali memang. Sad, but it’s true…..

Bagaimana mungkin sekolah mampu mencetak generasi yang diharapkan kalau niatan mendirikan sekolah saja untuk bisnis.

Saya pikir, kamu bisa menjabarkan maksud poin terakhir sendiri berdasarkan pengalaman dan pengamatanmu sendiri. Baca juga Kelor, Pohon Ajaib untuk Keluarga Sehat!

Itulah 4 Alasan Kenapa Sekolah Harus Berbenah. Yang saya bilang di atas, enggak berarti semua sekolah sama, beberapa memiliki sistem pendidikan yang baik bahkan sangat baik, namun prosentasenya masih sangat sedikit di Indonesia.

Pemerintah memiliki tugas besar untuk mengendalikan pendidikan negeri ini supaya benar-benar bisa mencetak generasi yang berintegritas tinggi.

Silakan masukkan e-mail kamu di kolom berikut untuk mendapatkan update blog ini:

[1] Guru yang menunjukkan keberadaan Tuhan saya, semasa saya hidup sekarang ini.

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering