Jangan Percaya Dosa Kalau Mau Dirimu Rusak!

“Dosa adalah sesuatu yang sering disebut orang tapi tak tahu betul ada atau tidak.”

Setiap orang pasti pernah ngerasa berdosa setelah ngelakuin kesalahan, begitu juga kamu (mungkin), atau saya sendiri.

Simpel saja, pernah suatu ketika saya menyakiti perasaan teman saya tanpa sengaja. Tanpa sengaja? Yups, tanpa sengaja. Sadar atau enggak, kadangkala sifat buruk kita yang udah mendarah daging itu enggak disadari bisa menyakiti orang lain. Begitu pula saya. Dan setelah itu, saya selalu ngerasa berdosa, tanda-tandanya, saya kepikiran terus dan rasanya ingin datang ke dia dan minta maaf — itu saya, kamu bagimana?

Minggu pagi ini, badan saya agak kurang fit, dan menghabiskan waktu hanya di kasur — feel bored aja — makanya saya nulis ini. Saat badan saya lack of movement, otak saya berpikir lebih kencang dari biasanya. Ternyata, saat berdiam diri itu, pikiran menjadi lebih dominan. Dan ini yang saya tak bisa berhenti pikirkan; dosa.

Singkat cerita, kemarin malam setelah Maghrib, saya dipijat oleh tukang pijat tetangga dusun. Enak banget — eh, tukang pijatnya laki-laki ya (jangan mikir macam-macam) — dan tidur saya akhirnya lelap sekali. Namun, tiba-tiba jam tiga pagi, saya terbangun dengan gelagepan (jawa: kaget), saya teringat belum salat Isyak. Beruntung, masih dalam waktu salat Isyak, tapi di hati rasanya malu dengan Allah.

Setelah salat Isyak, hati saya terus bergumam, kenapa bodoh sekali sampai-sampai salat Isyak saja hampir ketinggal. Bodohnya….! Perasaan malu itu terus menghantui pikiran saya, sampai akhirnya tenggelam dalam tidur lagi. Percaya atau enggak, saat tidur, saya masih bisa berpikir, lho! Saya masih saja bergumam, bodohnya saya hampir lupa salat Isyak.

Sebab itu, saya ingin menulis pendapat dan pengalaman saya tentang dosa. Karena, dosa itu sesuatu yang kita tidak pernah tahu bentuknya, buktinya, atau bahkan fisiknya, namun bisa dirasakan oleh hati — pun bisa dipikir dengan rasional.

Di sekolah diajarkan tentang dosa

Kamu pasti masih ingat juga saat gurumu menerangkan dosa itu apa. Di soal-soal ujian pasti juga ada, kan? Kalau kita mencuri, maka mendapat ………., jawabannya DOSA. Itu pelajaran kelas berapa ya? Seingat saya di tahun pertama atau kedua.

Bukan di situ masalahnya, tapi kenapa meski telah diajarkan di sekolah, masih banyak kasus pencurian? Atau pencurian bermilyar-milyar masih saja terjadi (baca: korupsi). Apakah dosa itu benar-benar ada? Kalau masih, memang dosa itu seperti apa sih? Hehehe….

Kamu pernah mikir seperti saya enggak? Betulkah? Wow! Kalau benar-beanr iya, ceritakan dong di kolom komentar bawah ya….!

Di era informasi ini semakin tampak jelas bahwa semakin sedikit orang yang menegur orang yang berbuat salah dengan, “eh jangan gitu, dosa!” Iya kan? Sekarang sedikit atau malah hampir tidak pernah lagi. Semua orang menganggap seolah-olah dosa itu enggak ada. Malah-malah, menjadi kata yang sekarang tabu. Aneh kan?

Lihat saja kehidupan di Jakarta atau kota-kota besar. Ngomongin batasan-batasan syariat berpakaian, atau menegaskan hal-hal yang tidak senonoh dengan dosa itu menjadi sesuatu yang tabu. Bahkan, (mungkin) semakin ke sini, surga dan neraka terasa enggak ada.

Eh, sekarang masih ada enggak sih pengajaran tentang dosa di sekolah? Masih ada enggak? Kamu tahu? Jangan-jangan sekarang guru juga udah enggak mengajarkan tentang dosa. Kalau iya, parah banget dah.

Menganggap dosa adalah mitos

Kira-kira orang-orang udah skeptis dengan dosa kali ya? Karena tidak tampak bentuknya, dosa rasanya udah seperti enggak ada gitu. Begitu enggak sih?

Sekarang ini, semakin banyak yang skeptis dengan surga dan neraka. Banyak banget orang yang (mungkin) menganggap semua orang “baik”: pasti masuk surga. Pokoknya orang-orang yang berbuat baik, sudah pasti masuk surga. Entah semasa hidupnya perkataannya seperti apa, sikapnya seperti apa, cara berpakaiannya seperti apa, dan lainnya, yang penting baik aja, pasti masuk surga. Benar gitu enggak sih?

Sayangnya saya sendiri juga enggak tahu pasti tentang dosa. Namun, saya mendapat penjelasan tentang dosa dari Guru saya: Bapak Kiai Tanjung.

Setiap dosa yang kita lakukan pasti tercatat dalam memori berupa syaraf dalam otak

Ini sangat rasional. Saat setelah saya melakukan dosa, pasti akan teringat di kepala sampai kapan pun. Bahkan apa yang saya lakukan memiliki dampak terhadap diri saya sendiri dan lingkungan. Yang terpengaruh oleh tindakan saya sendiri itu adalah jiwa, mental, dan akal saya.

Saat saya melakukan hal buruk, sebenarnya saya merusak diri saya sendiri: mental, akal, dan jiwa. “Dosa dengan rapi direkam oleh syaraf-syaraf otak kita, itulah bentuk fisik dari dosa!” Jelas Guru saya tersebut.

“Dosa dengan rapi direkam oleh syaraf-syaraf otak kita, itulah bentuk fisik dari dosa!” ~ Kiai Tanjung.

Saya setuju sekali dengan penjelasan tersebut. Ukuran dosa menurut saya juga sangat jelas. Semakin memiliki daya rusak yang besar terhadap lingkungan dan diri sendiri, maka dosanya semakin besar. Misal membunuh, tahu psikopat kan? Orang-orang yang jiwanya terganggu dan membunuh orang itu hal biasa untuk mereka. Jelaslah jiwa mereka terganggu — mereka itu orang-orang yang benar-benar sakit.

Saya yakin, enggak mungkin manusia diciptakan Allah dengan cacat yang seperti itu. Kalau difabel iya, tapi kalau terlahir dengan jiwa yang cacat saya rasa enggak. Allah menciptakan bayi dalam keadaan fitrah. Mana mungkin terlahir langsung psikopat? Menurut saya enggak banget ah!  Baca juga Rahasia Agar Anak Cerdas.

Ada sebuah sebab yang menyebabkan jiwanya rusak: dosa-dosa kecil yang dilakukan secara berulang-ulang. Logika saya seperti ini, bagi saya kebanyakan main game itu dosa. Kok bisa? Begini logikanya. Saat kita main game, lalu kita lupa sembahyang, jelas itu akan merusak diri kita. Mungkin pertama-tama rasanya takut karena telah lupa sembahyang. Tapi kalau berulang-ulang dilakukan, hati enggak ngerasa bersalah lagi. Lama-lama kebal.

Ada lagi, semisal saat harusnya belajar tapi malah main game terus, itu juga dosa lho! Banyak remaja berdosa karena main game — itu pendapat saya. Sebenarnya ini ngomongin saya sendiri — dulu saya suka banget main game. Saya suka lupa belajar atau jadi malas belajar. Mengapa demikian? Karena akal saya telah rusak dan membatu akibat game yang saya mainin. Lebih asyik main game, iya enggak sih? Xixixi….

Dosa itu ada dan bisa dibuktikan. Setidaknya bisa dirasakan — itu pendapat saya. Dosa itu masih relevan lho untuk dijadikan batasan-batasan dalam hidup. Orang tua saya melarang adik perempuan saya untuk pakai rok mini atau celana ketat, why? Karena itu dosa.

Dosanya di mana? Dosanya, karena memiliki daya rusak terhadap diri sendiri dan lingkungan. Mana ada mata laki-laki yang enggak menyoroti pakaian ketat atau paha perempuan yang putih, mulus, bersih seperti susu? Ada! laki-laki yang tertarik dengan paha laki-laki. Wakakaka…!!

Saat perempuan terbiasa dengan pakaian ketat atau rok mini misalnya, pasti pola pikirnya terbawa dengan budaya barat — yang menurut saya tidak pas dengan Pancasila. Lama-lama akan menyepelekan syariat-syariat agama dan bisa keluar batas juga.

Keluar batas yang seperti apa? Misalnya, ingin diperhatikan, ingin dibilang cantik, ingin terus dipandang, lalu pacaran sampai kebablasan (ciuman, sampai sex), dan lama-lama hal begitu sudah biasa. Padahal sebabnya dari yang kecil sekali: pakai rok mini dan celana ketat. Itulah bukti adanya dosa di hidup ini.

Saya masih percaya dosa. Saya tidak setuju bila dosa dianggap tidak ada, karena setiap akal bisa menerimanya. Hanya saja, sedikit sekali orang yang “mau tahu” meski “tahu” dosa itu ada. Kamu gimana? Ceritakan pendapat kamu dong di kolom komentar, biar bisa ngobrol gitu lho… Hehehe..

 

 

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering