Perform Membaca Cerpen

Perform Membaca Cerpen, Salah Satu Keinginan Sewaktu Kecil

Hari telah tiba, “Mas jadi perform kan? Membaca cerpen itu.”

“Jadi, lah! Tapi saya masih ada rapat, gimana?” Kataku kepada Alin, panitia event Relax Night in Campuss.

“Kesempatan berikutnya aja berarti!”

“Yaah… aku udah siap nih!”

Pikiran saya saat percakapan ini berlangsung, benar-benar tidak bisa fokus. Saat itu, saya dan Rouf sedang meeting dengan mitra kami di Caruban. Ada pesanan produk dari Afrika Selatan, dan kami harus penuhi sesegera mungkin. Tapi, malamnya saya ingin tampil membaca cerpen, and that was my desire.

“Yaudah deh, gak jadi tampil!”

“Oke fiks ya…” Kata Alin.

Japo Chocolate

Sedih betul saat itu. Lagi-lagi enggak bisa refresh, tertabrak musyawarah. Rasanya berat sekali menerima sebuah kenyataan itu – lebay! Abisnya, pikiran juga perlu di-refresh, kan? Setiap hari Senin sampai Sabtu udah sepaneng, masak iya, waktunya refreshing harus sepaneng lagi? Capek deh…

“Cling!” Handphone berbunyi.

“Maaf, rapat ditunda, sehubungan dengan bla bla bla, rapat ditunda hari Minggu siang!”

“Boom!” Enggak diduga-duga, SMS itu muncul dan rasanya senang banget. “Mbak Alin, saya jadi perform, masih bisa, kan?” “Masih, Mas!”

 Stuck

Ternyata yang sederhana – membaca cerpen itu tampak sederhana, bukan? – enggak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. Butuh latihan yang agak lama dan penghayatan untuk bisa membaca cerpen yang bagus. Tapi, saat itu, saya enggak ada persiapan sama sekali.

Saya sampai rumah dari Caruban pukul 16.30, acara mulai pukul 20.30. Saya harus mengajar ngaji dulu setelah Maghrib. Otomatis, tidak ada waktu latihan sama sekali. Dan itu cukup membuat saya panik.

Saya adalah tipikal orang yang perfeksionis. Mana mau saya tampil jelek di depan orang lain. Maksudnya, mending saya tampil maksimal sekalian daripada tampil setengah-setengah dan tidak bisa menghibur, justru jadi bahan tertawaan penonton. Dari dulu, saya memegang prinsip, kalau memutuskan untuk naik panggung, jangan biasa-biasa aja, tampil yang luar biasa itu harus.

Pukul 19.30 baru bisa cari cerpen apa yang mau dibaca di depan panggung. Waktu cuma tinggal sejam, dan saya harus siap membaca cerpen di hadapan banyak orang.

Lama memilah-milah, akhirnya saya menemukan sebuah ide. “Oh iya, penonton sayaenggak semua paham sastra, mending baca cerpen yang biasa aja, yang sederhana untuk dipahami, saya pun mengambil cerpen karya teman pena saya, Amin Maulani—webnya, aminmaula.com.”

Judul cerpen yang ingin saya baca adalah Mia. Saya suka ide cerita yang diangkat oleh rekan saya tersebut. Awalnya, saya ingin membacakan cerpen karya saya sendiri, namun, sepertinya semua cerpen saya hangus karena blog saya sebelumnya udah ilang –abdiguru.com masa domainnya habis, dan saya enggak memperpanjangnya.

Keburu waktu habis, saya akan membaca cerpen milik teman pena saya tersebut, tanpa latihan sama sekali. Saya hanya membacanya berulang kali, lalu menghayatinya sampai saya bisa merasakan suasana, hawa, dan dapat melihat kejadian yang tertuang dalam cerita. Saya harus masuk ke dalam cerita tersebut, dan seolah-seolah melihat semuanya.

On The Stage

“Kita panggil, penampilan dari Mas Arif Asatar!”

Riuh tepuk tangan terdengar, dan saya mulai naik panggung tanpa ragu. “Saya harus bisa!” Sejak naik panggung, saya sudah membayangkan diri saya berada dalam cerita, dan suasana kala itu benar-benar hening.

Berikut adalah rekaman – menggunakan HP — penampilan saya Jumat malam kemarin:

Gimana, biasa kan ya? Kasih pendapat, penilaian, atau apapun untuk saya di kolom komentar bawah, ya… Supaya saya bisa lebih baik lagi dalam perform membaca cerpennya.

Saat di panggung, saya benar-benar melepaskan segala keraguan dan ketakutan. Saya melepaskan segala beban. Saya berada dalam kamar gelap yang isinya hanya saya seorang. Saya membayangkan seperti itu saat tampil di panggung. Malam ini, adalah malam saya. Saya harus tampil luar biasa! Harus! baca juga blog saya lainnya di sini!

Mau tahu tips supaya di panggung bisa tampil menawan? Berikut adalah tips dari saya, semoga bermanfaat!

#1 Latihan yang sungguh-sungguh, kalau perlu, simulasikan terlebih dahulu!

Bisanya, saya memang berlatih dan menyimulasikan penampilan saya di bawah panggung terlebih dulu sebelum benar-benar naik panggung dan perform. Tapi saat membaca cerpen malam itu, saya tidak punya banyak waktu, tapi saya tetap harus bisa maksimal!

Kamu harus berlatih dengan baik dan sungguh-sungguh. Simulasikan segalanya, mulai dari berjalan ke panggung, sampai mengucapkan terima kasih kepada penonton setelah selesai perform, bahkan sampai berjalan menuruni panggung, simulasikan semuanya!

Semakin persis dengan saat kamu latihan, penampilan kamu akan semakin bagus. Biasanya, terjadi distorsi saat kita perform sungguhan, karena segala hal di atas panggung bisa terjadi. Misalnya, saat saya membaca cerpen di depan panggung, standing mic yang saya pakai melorot, dan mic-nya hampir jatuh. Itu sangat mengganggu konsentrasi saya, saya harus memegangi standing mic-nya sambil menjiwai isi cerpen. Sungguh merepotkan.

Itulah kenapa kamu harus berlatih dengan sungguh-sungguh, bahkan berlatihlah seolah-olah kamu benar-benar berada di depan panggung. Itu tip pertama.

#2  Cermin adalah alat terbaik untuk berlatih

Cermin adalah alat yang sangat berjasa untuk saya. Mengapa? Setiap diri tidak mungkin bisa menilai dirinya sendiri. Namun, dari cermin, kita bisa melihat penampilan diri kita sendiri. Kita bisa menilai diri kita sendiri. Mirror has a powerful function, remember that!

Kebanyakan orang, “saya malu, Mas, kalau pakai cermin segala!” Iya, memang terasa absur saat saya berlatih di depan cermin. Namun, saya memegang prinsip, “lihat dirimu, nilai dirimu, lalu perbaiki! Kritik yang yang pasti diterima adalah kritik yang munculnya dari diri sendiri!”

“Kritik yang yang pasti diterima adalah kritik yang munculnya dari diri sendiri!”

Cobalah tampil di depan cermin, lalu perhatikan mimik wajahmu, gestur tubuh, dan perhatikan ekspresi kamu. Kira-kira sudah pas belum? Kalau belum, cari yang tepat, sampai kamu merasa, “wah, ini nih gaya saya!” Gimana, sampai sini paham? Udah pernah praktik? Kalau kamu gimana?

 #3 Rekam audio atau video

Rekamlah latihanmu sendiri menggunakan perekam audio atau video. Tujuannya apa? Tujuannya adalah mengetahui durasi. Kadangkala, kita keasyikan di panggung, sampai kita lupa dengan durasi. Atau terlalu nerveous, sampai-sampai tampil dengan sangat cepat.

Pakai video lebih bagus! Tapi terserah kamu, pilih yang mana. Kalau saya biasa hanya merekam audio, saya ingin tahu, bagaimana suara saya terdengar dan bagaimana manajemen waktu saya ketika tampil di panggung.

#4 Jangan ciut dengan komentar orang lain

Biasa, kita ciut menuju ke depan panggung karena ketakutan-ketakutan yang melanda pikiran kita. Kita takut tampil jelek, takut ini-itu, banyak hal lah pokoknya!

Tapi, saat konsentrasi kita pekat kepada ketakutan-ketakutan itu, semua itu akan merusak penampilan kita dan kepercayaan diri kita. Hapus semua atau tutup telingamu terhadap anggapan orang lain. Tampil sesuai dengan latihan kamu. Jangan hiraukan komentar orang lain, hadapi saja!

#5 Jangan ubah konsep mendadak sebelum tampil hanya karena melihat penampilan orang lain

Inspirasi datangnya memang dari mana saja, tapi mengubah konsep yang udah latihan lama, hanya akan membuat diri kamu kurang percaya diri. Biasanya, inspirasi datangnya dari performer sebelum kita yang menurut kita lebih bagus daripada kita, bukan?

Misal, kita urutan tiga, dan orang lain yang tampil di urutan kedua, mendapat sorak lebih meriah dan tepuk tangan lebih riuh. Biasanya, kita akan beranggapan, “apa saya tiru saja ya dia?” Nah, itu justru akan merusak penampilan kamu. Lakukan apa yang telah kamu lakukan di bawah panggung. Lakukan sesuai dengan latihanmu. Jangan ubah konsep di atas panggung seketika.

Nah itu adalah tips dari saya bagaimana bisa tampil keren di atas panggung!

***

Di atas panggung, saya bisa merasakan kesedihan cerita yang saya bawakan. Seluruh audience bisa masuk ke dalam cerita saya. Saya melihat dari ujung kiri sampai kanan, mereka meresapi cerita saya. Dan itu membuat kepercayaan saya semakin meninggi. Saya pun bisa tampil lebih maksimal.

Selesai tampil, saya cukup mendapat banyak tepuk tangan dari para penonton. Itu sudah membuat diri saya lebih baik. Namun, bukan itu yang saya harapkan. Yang saya inginkan hanya tampil semaksimal mungkin. Tampil sesuai dengan batas maksimal kemampuan saya. Itu saja. Tepuk tangan dan yang lainnya, tidak pernah saya harapkan sejak awal. Itu hanya konsekuensi logis. Sama seperti operasi matematika 2+2=4. Empat hanya konsekuensi saat kita punya apel 2 ditambah lagi 2 apel, maka apelnya berjumlah 4.

Sesederhana itu. Bagaimana? Semoga artikel ini bermanfaat ya! Berikan komentarmu di bawah, dan untuk berlangganan artikel di blog ini, masukkan e-mail kamu di kolom bawah ini!

 

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering