Surabaya, I’m Coming

“Mulai dicurhati driver Go-Jek sampai mendapat inspirasi dari teman-teman Pemuda Nusantara.”

Pukul 13.30 yang harusnya udah masuk ke bus malah masih bingung nyari memory card kamera. Saya memang suka lupa dengan barang-barang saya sendiri. Yang ini, tahu mau berangkat ke Surabaya malah memory card hilang. Cari ke mana-mana enggak ketemu juga. Yaudah, terpaksa, saya berangkat tanpa bawa kamera. Semoga kamera HP udah bagus untuk gambar di blog.

Saya berangkat dari Pasar Baron, Nganjuk, naik bus favorit saya, EKA. “thanks bro!” Ucap saya pada teman yang mengantar saya, Amir. Masuk ke bus, dan broom…. Bus berangkat! And…. I sleep.. xixixi…

Enaknya naik bus adalah kita bisa tidur saat perjalanan. Itulah kenapa saya suka banget naik bus saat bepergian. Apalagi kalau tempat tujuannya bisa ketuju pakai ojek atau taxi. Saya gak perlu capek nginjak gas atau rem kalau naik mobil, atau kepanasan kalau naik motor. Cukup duduk, pasang headset, setel musik, sing me to sleep now, wouwoo… sing me to sleep.. dep jedep jedep, jedep jedep…! Menikmati lantunan musik dari Alan Walker.

Arifasatar.com

Mojokerto tersiram hujan

Hari itu, Mojokerto diguyur hujan. Alhamdulillah, jadi enggak macet jalannya. Soalnya, biasa macet banget di daerah Mojokerto. Kalau naik mobil, bikin mood jelek kalau udah sampai di Mojokerto. Tapi, Dewi Fortuna tampaknya berbaik hati dengan saya saat itu. Bumi diguyur hujan, kaca di sebelahku menampilkan karya seni terbaik yang pernah ada.

Berbeda dengan Mojokerto, sesampainya di terminal Bungurasih, tidak ada rintik hujan sama sekali meski awan sangat gelap mengerikan. Dengan terburu-buru, saya memesan Go-Jek. Saya menunggu cukup lama, si driver-nya enggak nongol juga. Sampai seorang perempuan berambut pendek, pakai masker, lumayan tinggi – dari tubuhnya sih, kayaknya dia cantik deh, hehehe….

Curhatan Abang Go-Jek

“Mas, Go-Jek atau Uber?” Tanyanya kepadaku.

“Go-Jek, Mbak.”

“Silakan jalan ke timur, Mas. Sampai di depan Alfamart.”

Entah, meski belum kenal, saya percaya dengan perempuan itu. Saya berjalan ke timur sampai di depan Alfamart yang disebutkan oleh perempuan tadi. Alhasil, ternyata benar. Driver Go-Jek tidak akan menjemput penumpang tepat di sekitaran terminal. Itu karena perselisihan antara driver ojek online dan pangkalan.

“Mas, lain kali, jangan minta dijemput di sekitar terminal ya, Mas!” Kata abangnya.

“Kenapa, Bang?”

“Gini, Mas, dari pada ramai nanti, mending sampean pesannya di daerah halte atau jalan dulu jauh dari terminal, baru pesan.”

“Ramai bagaimana, Mas?”

“Kami sering diambil helmnya, atau ban-nya digembosi kalau berani menjemput di daerah terminal. Ada aja, Mas!” Keluhnya kepada saya saat itu.

arifasatar.com

Ceritanya, abang driver curhat sama saya. Sampai detik ini, para ojek pangkalan dan online masih berselisih. Sampai sekarang, saya masih heran, dan belum menemukan sisi rasional ketika para driver ojek online harus dibatasi ruangnya. Mungkin ini yang disebut dengan bagi-bagi rezeki dari sudut pandang ojek pangkalan, tapi dari sudut pandang penumpang atau customer, jelas ini merugikan.

Bagi saya saat itu,  jok motor abang Go-Jek jadi kursi panas. Saya berpikir, kira-kira bagaimana ya menanggulangi kecemburuan atau ketimpangan tersebut? Dan beginilah hasil pemikiran saya saat itu:

1) Seharusnya pihak Go-Jek sendiri membatas jumlah driver-nya. Ini bukan tentang meraup untung sebanyak-banyaknya, namun kesejahteraan masyarakat. Kini, telah muncul berita bahwa mulai banyak driver yang jahil atau nakal. Kemudian dari abang Go-Jek saya itu, pendapatan mereka menurun sejak 9 bulan yang lalu. Sebabnya adalah semakin banyak driver ojek online. Dengan membatasi driver-nya, Go-Jek bisa mengendalikan profesionalitas driver dan berbagi rezeki dengan tukang ojek pangkalan.

2) Seharusnya para driver ojek pangkalan bisa berlapang dada dengan kehadiran para driver online. Kalau mereka bersikeras enggak mau ikut jadi ojek online, konsekuensinya harus diterima dan dihadapi. Perihal pemasukan, masih ada banyak cara untuk mendapat pemasukan selain menjadi tukang ojek, bukan? Misal, memanfaatkan lahan sela-sela rumah, atau berjualan.

3) Seharusnya para driver Go-Jek juga kreatif dengan pemasukan mereka. Masih banyak cara untuk mendapatkan pemasukan selain dari ojek.

Driver Go-Jek Curhat

Selfie bareng abang-abang Go-Jek

Itulah hasil pemikiran saya selama saya menumpang di belakang abang go-Jek. Abangnya memiliki dua anak, satu istri, dan dia buka jasa laundry di rumah. “Biasa saya dapat dua ratus ribu per hari, sekarang saya cuma dapat seratusan, Mas! Itu karena semakin banyak driver ojek online di Surabaya.” Ceritanya dengan memelas.

Pokoknya, saya jadi tempat sampah abang Go-Jek tersebut. Tapi enggak apa-apa, mendengarkan orang lain itu juga asik loh! Setidaknya, membuat dia merasa lebih baik dengan cara ceritanya didengar dengan antusias. Baca juga Rahasia Mendapat Banyak Teman di Sini!

Menyimak Kajian An-Nubuwah Bpk. Kiai Tanjung

Sesampainya di masjid Baitul Rozak, Sier, Rungkut, Surabaya, saya langsung sowan dengan Guru saya, Bapak Kiai Tanjung.

Hati saya sangat senang, di samping dapat sampai dengan selamat, saya bisa bertemu dengan saudara-saudara lahir-batin di Surabaya. Saudara-saudara saya yang dari Banyuwangi, Magetan, Madiun, Caruban, Tulungagung, Kediri, Malang, Gresik, semua datang berkumpul di masjid Baitul Rozak untuk mengikuti mujahadah bersama Bapak Kiai Tanjung.

Berikut adalah garis besar dari isi kajian An-Nubuwah di Surabaya kemarin:

1) Syukur itu tidak sebatas bancakan (Jawa: acara syukuran dengan menyembelih sapi, kambing, atau ayam). Syukur adalah sifat dan perilaku terbuka terhadap perbedaan, masukan, usulan, dan lain sebagainya. Bahkan, terbuka dengan hal-hal yang tidak pernah didengar sekalipun.

2) Islam bukanlah golongan atau kelompok. Indonesia akan maju manakala agama tidak dipandang sebagai golongan atau kelompok semata. Agama adalah addiin, addiin adalah kehidupan seutuhnya. Islam adalah perilaku selamat: jasad, hati, ruh, dan rasa, keempat-empatnya harus selamat semua.

arifasatar.com

Depan masjid Baitul Rozak, Sier, Rungkut, Surabaya. Lokasi Kajian An-Nubuwah Bpk. Kiai Tanjung.

3) Cara menuju Tuhan itu ada metodenya. Bukan sekadar mengaku Islam atau menjalankan ritual salat. Sungguh, ada sebuah cara yang jelas-jelas rasional dan masuk akal untuk dapat kembali kepada Tuhan setelah meninggal dunia. “Dan janganlah kamu (umat) meninggal kecuali dalam keadaan yang selamat (dengan al-ilm).”

4) Penasaran dengan kajian yang live? Nih… klik link berikut untuk menyimak kajian Bapak Kiai Tanjung yang lengkapnya…!

Mengapa saya selalu mengikuti kajian An-Nubuwah dari Bapak Kiai Tanjung? Itu karena selain saya sebagai murid beliau, saya juga memiliki hasrat dan keinginan untuk dapat mati selamat kembali kepada Allah SWT. Dengan cara yang “diridai” dan “tanpa keraguan”.arifasatar.com

Sebelum saya nyuwun ilmu kepada Guru saya, hidup saya terombang-ambing dengan dinamika duniawi. Keberagamaan saya hanya berada dalam “prasangka” atau “kira-kira” saja. Tidak ada yang memberitahu saya, apakah salat saya diterima? Puasa saya diterima? Atau bahkan siapa yang memerintah saya untuk salat, puasa, zakat, dan haji? Apakah hanya karena “ikut-ikutan” nenek moyang saya yang “katanya” diperintah oleh Allah. Tapi kapan Allah berkomunikasi dengan manusia nista? – Hanya Nabi yang sempurna.

Pikiran-pikiran itu benar-benar mengganggu saya. Saya khawatir setelah mati, saya menyesal. Saya ingin beragama saya dibenarkan dan diridai oleh Allah. Itulah mengapa saya mencari utusan atau Guru yang haq dan sah: yang bisa menjelaskan atau menjawab bagaimana cara salat yang kusuk dan bagaimana cara berzikir yang benar.

Kalau kamu penasaran atau mengalami hal yang sama dengan saya, silakan sowan dengan bapak kiai langsung di jalan KH. Wachid Hasyim No. 304 Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur, 64483, tepatnya di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda).

Mengikuti Acara Sharing & Simulasi Urban Farming

Kebetulan, teman-teman Ampura (Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Nusantara) mengadakan kegiatan tepat setelah acara mujahadah, tepatnya keesokan paginya (Minggu, 01/04/2018).

Materinya disampaikan oleh Pak Agus Kurniawan dan Mas Jefriy Restu Budiaji. Acara Minggu pagi tersebut bertujuan untuk berbagi pengalaman dan data atas sebuah program Kemandirian Pangan Nusantara bangkit-nya Bapak Kiai Tanjung.

Acara tersebut dihadiri mulai dari mahasiswa, komunitas, dan instansi pemerintahan. Mereka mengaku tertarik untuk ikut acara tersebut karena menurut mereka, solusi kemajuan bangsa dan negara adalah dengan program bapak kiai tersebut: Kemandirian Pangan Nusantara Bangkit.

Acara tersebut berlangsung syahdu dan khidmat. Maksud saya, berlangsung interaktif. Duduk di bawah pohon, danau, dan angin yang sepoi-sepoi. Sungguh suasana yang luar biasa!

Berikut adalah garis besar materi yang disampaikan oleh narasumber:

1) Pengertian PTSA (Pola Tanam Sehat & Amanah);

2) Terapan dan langkah-langkah aplikasi program pemanfaatan tanaman sela (urban farming);

3) Simulasi mengenal media tanam yang siap untuk ditanami benih atau bibit;

4) Tanya jawab.

Mau dengar curhatan driver Go-Jek?

Menurut saya kegiatan tersebut sangat menginspirasi dan asik. Mengapa? Karena dari penjelasan para narasumber mampu menumbuhkan inovasi untuk mewujudkan kemandirian pangan skala rumah tangga. Setidaknya, kebutuhan sayur setiap hari tidak harus membeli di pasar. Cabai sekarang harga berapa hayooo?

Salah satu goal setting program Kemandirian Pangan adalah untuk mewujudkan generasi yang sehat. “Berawal ari sehat, generasi kita akhirnya bisa bekerja dan berpikir dengan baik,” jelas Pak Agus Kurniawan atau yang kerap disapa Gus Jem ini.

Acara tersebut selesai pukul 12.00 tepat, dan saya langsung pamit pulang.

Sugeng Rahayu Enggak Kalah Dengan Eka

Japo Chocolate

Satu kesan terakhir dalam perjalanan selama dua hari di Surabaya, ternyata bus Sugeng Rahayu lebih nyaman daripada bus Eka. Harganya sama, 37 ribu rupiah dari Nganjuk sampai Bungur dan sebaliknya.

Pertama, kenapa bus ini berkesan buat saya? Tempat duduknya longgar dan empuk banget. Setiap tempat duduk ada selimutnya kalau kita kedinginan terkena AC. Kedua, musiknya enak-enak untuk didengar. Kemarin saja, Isyana, Raisa, Tulus, Letto, Dewa 19, tampil di bus. Biasa kalau di bus ekonomi atau yang lainnya, musiknya enggak lepas dari koploan.

Ketiga, yang bikin betah di bus itu, mesinnya lembut, enggak berisik. Goyangannya juga redam, maksudnya enggak begitu goyang saat jalannya enggak rata. Pokoknya, Sugeng Rahayu (Executive Class) benar-benar idaman di hati deh. Bikin nagih!

Nih saya gambarkan pengalaman naik bus Sugeng Rahayu. Ibarat kita di pantai, terdengar suara ombak, lambaian daun Kelapa, burung Camar beterbangan sambil sesekali mengeluarkan suaranya, dan kita lagi berjemur bareng Pevita Pearce, kebayang kan rasanya?

Jangan khawatir kalau semisal kamu haus, karena bus ini juga menyediakan air mineral gratis untuk semua penumpangnya. Tapi kalau lapar, bus ini enggak kasih solusi. Makanya bawa sendiri. Kemarin, untung saya bawa Brem Kelor sebagai pemenuh kalori saya. Brem yang terbuat dari ketan dan campuran bubuk kelor, selain memenuhi kalori, juga mengandung nutrisi yang banyak. Cocok buat kamu yang suka bepergian. Bawa aja Brem Kelor Japo, lapar di perjalanan? Tersolusikan seketika!

Selain Brem Kelor, saya juga bawa cokelat kelor Japo. Cokelat dengan bubuhan kelor ini juga ampuh banget buat teman perjalanan kita. Cokelat yang bisa membuat kita tenang, sekaligus menambah kalori, pas banget buat kamu yang ingin badan tetap fit saat perjalanan. Kelornya juga kaya akan nutrisi, jadi enggak usah diragukan lagi, kedua jajan ini, cocok buat para traveller dan penyuka jalan-jalan kayak kamu. Mau cobain? Klik di sini kalau mau coba Brem Kelor Japo & Cokelat Kelor Japo!

Enggak kerasa, dua jam telah berlalu, dan saya pun sampai di rumah dengan selamat. Itu saja cerita saya selama hari Sabtu sampai Minggu kemarin. Semoga bermanfaat.

Mau terus berlangganan untuk mendapat update konten menarik dari saya? Masukkan e-mail kamu di bawah!

 

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering