Berlatih Mendengarkan Orang Lain Berbicara

Akhir-akhir ini saya membaca sebuah buku yang menarik sekali. Judulnya, How to Win Friends & Influence People, karya penulis termasyhur di zamannya, Dale Carnegie (alm).

Salah satu bagiannya yang mengetuk hati dan pikiran saya adalah bagian yang bercerita tentang mendengarkan orang lain berbicara. Buku tersebut menganjurkan kemampuan pandai menyimak kepada pembaca. Jika saya hendak mendapat banyak teman, kolega, rekan, atau lebih dekat dengan keluarga, pasangan, karyawan, dan siapapun, maka seyogianya belajar mendengarkan orang lain berbicara terlebih dahulu.

Okay, begini ya, saya merasa diri saya ini kesulitan mengkritik diri saya sendiri — atau kamu juga? hehehe. Melalui membaca, saya bisa mengkritik kondisi diri saya sendiri. Dan, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada sang penulis yang telah banyak membantu saya mengembangkan kepribadian saya.

Kamu pernah merasa setiap temanmu berbicara tiba-tiba kamu langsung memotong pembicaraan dia nggak? Kalau saya sering sekali. Dan itu semua nggak kerasa loh, tahu-tahu mulut langsung nyerocos sendiri. Apalagi, saat apa yang diceritakan oleh teman kita, ternyata kita juga mengalami. “Wah, iya, aku juga pernah bla bla bla…” lalu teman saya tadi diam, dan malah mendengarkan saya berbicara. Ngeselin kan? Nah. ternyata hal-hal annoying seperti itu sering saya lakukan tanpa saya sadari.

Banyak kisah yang diceritakan oleh si penulis dalam bukunya. Kisah-kisah tersebut membawa setiap pembaca mengarungi lorong pemikiran yang dalam sampai kita berada dalam sebuah dimensi yang saya sebut dengan “renungan”.

Saya kasih salah satu contohnya ya. Perusahaan United Airlines, pernah rugi gegara ngerusak gitar salah satu anggota band indie Amerika. Ceritanya begini, Saat Carroll naik pesawat, tiba-tiba ada perempuan yang berteriak, “wah mereka melempar-lempar gitar!” Lalu semua anggota band-nya Carroll menempelkan hidung mereka ke jendela. Benar dugaan mereka, gitar si Carroll-lah yang dilempar-lempar.

arifasatar.com

Tim Japo Moringa Chocolate sharing-sharing bareng.

Siapa tega lihat barang kita dilempar-lempar di bagasi? Carroll pun beranjak dari kursinya dan mencoba berbicara dengan pramugari cantik di pesawat. Bukan malah ditanggapi, pramugarinya malah melengos sambil ngomong, “jangan ke saya, bilang ke orang yang ada diluar!” Mana mungkin saat pesawat sudah siap terbang, kita loncat ke bawah? Carroll pun pasrah sambil berdoa selama perjalanannya dari Kanada menuju Chicago.

Setelah pesawat mendarat dengan selamat, Carroll berlari untuk melihat keadaan gitarnya yang dilempar-lempar petugas bagasi. Ternyata, doa Carroll belum dikabulkan oleh Tuhan. Kondisi gitarnya benar-benar rusak. Carroll sudah mencoba berbicara dengan siapapun di United Airlines, tapi usahanya sia-sia. Malah salah satu karyawannya ada yang bilang, “makannya Pak, kami menganjurkan Anda untuk menandatangani surat pernyataan melepaskan tuntutan!” What the …………… *sensored*

Setahun berselang, dan selama itu pula gitarnya yang mahal, mereknya Taylor senilai $3.500, tidak kunjung membaik keadaannya. Carroll sempat memperbaiki gitarnya dan mengeluarkan biaya sampai $1.200. Kebayang nggak, uang segitu bisa buat apaan kalau di Indonesia? Hadeeeh baca bukunya kesel juga jadinya. Meski bisa berfungsi, tapi suaranya tidak seanggun sebelum gitarnya rusak. Tentu Carroll yang profesional tidak mungkin menganggap persoalannya sepele.

Berhubung pihak United Airlines tidak memberi respon yang baik, Carroll pun bertindak tegas dan memberi sebuah pelajaran kepada United Airlines. Dia sudah berusaha mencari tahu bagaimana sebaiknya kasus gitarnya ditindaklanjuti, tapi pihak United Airlines malah hanya memberi saran-saran bukan mendengarkan keluhan Carroll lebih lama. Sampai sebuah angin topan menerpa United Airlines.

Carroll menulis sebuah lagu yang berjudul “United Breaks Guitars” dan pada tanggal 6 Juli 2009, dia mengunggahnya di Youtube. Carroll berharap bisa mendapatkan penonton 1 juta views dalam waktu setahun. Ternyata reaksi penonton lebih dari itu. Tsunami yang datang lebih besar dari prakiraan Carroll, hanya dalam waktu 2 minggu, views-nya sudah 4 juta. Dan dalam hitungan hari, The Times dari London mengungkapkan, “PR yang buruk bagi United Airlines menyebabkan harga sahamnya jatuh 10%, menyebabkan kerugian $180 juta bagi pemegang saham, yang sebenarnya bisa untuk membelikan lebih dari 51.000 gitar pengganti bagi Carroll.”[1]

Seandainya United Airlines mau mendengarkan keluhan Carroll, tidak bakal mengalami kerugian yang segitu banyak, bukan? Uang segitu bisa buat apa aja bayangin! Berenang bakso kali yah?

Ternyata, tidak dapat menahan diri untuk terus berbicara dan berbicara berakibat fatal sekali. Guru saya, Bapak Kiai Tanjung, sering menekankan kepada saya, “pandai menyimak, mendengarkan, mencermati, mengamati, adalah kunci seseorang dapat maju.”

“pandai menyimak, mendengarkan, mencermati, mengamati, adalah kunci seseorang dapat maju.” ~ Bapak Kiai Tanjung.

Mudah diucapkan sih, tapi susahnya luar biasa. Apalagi saat mendengarkan cerita atau pengetahuan baru yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan minat dan bakat kita. Yang lebih berat lagi – berdasarkan pengalaman pribadi saya – mendengarkan anak-anak atau yang usianya lebih muda juga sulitnya minta ampun. Alamaaak! Kabur aja deh….

Lain orang lain cerita. Kalau ceritanya Carroll adalah pelajaran bagi orang atau instansi yang nggak mau dengerin orang lain berbicara, yang ini adalah penilaian seseorang yang mendapat sikap luar biasa dari orang lain. Nama si pendengar yang baik tersebut adalah Sigmund Freud.

Seseorang menuturkan kesan yang luar biasa atas sikap Sigmund Freud yang menunda pikirannya untuk orang lain yang tengah berbicara di hadapannya. Dan berikut adalah pesan dari orang tersebut:

Cara dia mendengarkan itu luar biasa sehingga saya tidak akan melupakannya. Dia memiliki kualitas yang tidak saya lihat dalam pria lain. Saya tidak pernah melihat perhatian yang begitu terpusat seperti itu. Matanya tidak menatap dengan tajam. Sorot matanya lembut dan ramah. Suaranya rendah dan terdengar baik. Dia tidak banyak bergerak. Namun, perhatian yang dia berikan kepada saya, apresiasinya atas apa yang saya katakan, bahkan saat saya menuturkannya dengan buruk, terasa luar biasa. Anda tidak tahu bagaimana rasanya didengarkan seperti itu. [2]

Saya ingin sekali menjadi orang yang dihargai oleh orang lain. Kamu juga gitu, kan? Mana ada orang yang ingin direndahkan orang lain. Pasti inginnya dihormati dan disegani, meski bukan berarti kita berharap dihormati atau disegani dalam pengertian ego. Setiap orang berharap yang terbaik untuk dirinya dan orang-orang disekitarnya, bukan? Tapi nggak sadar, bahwa sikap kita kadang berlawanan dengan harapan tersebut.

Dalam bersosial, ternyata, sudah menjadi kepastian saat diri saya mampu membuat orang lain merasa lebih baik – dengan sikap, tutur kata, dan penampilan – orang tersebut juga dengan sendirinya akan berlaku demikian kepada saya. Semisal nggak bagaimana? Yasudah, “berbuat baik kepada siapapun adalah syariat yang harus dijalani setiap manusia,” fatwa Bapak Kiai Tanjung baru-baru ini. Gitu aja repot!

Kalau kamu adalah seorang bos perusahaan, atau sekadar ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, mulai sekarang mari sama-sama menghargai orang lain dengan sebaik-baiknya. Manusiakan mereka. Saya belajar mendengarkan setiap usulan dari rekan dan kolega kerja saya. Saya belajar mendengarkan setiap keluhan dan cerita dari anak didik saya di sekolah, pun dari adik-adik saya yang usianya jauh dari saya.

Bisa nggak kalau kita bilang kemampuan mendengarkan orang lain adalah salah satu kunci menuju kesuksesan? Kalau kamu punya cerita, share di kolom komentar yah… Mari berdiskusi dan berdialog bersama-sama 😉

Kini, saya sedang belajar mendengarkan orang lain berbicara. Saya ingin melawan diri saya sendiri untuk menahan pikiran saya saat sedang mendengarkan orang lain. Itu aja sharing malam ini. Semoga tidur kamu lelap dan selamat. Amin.

[1] Chris Ayres, “Revenge Is Best Served Cold – on Youtube”, Times (London), 22 Juli 2009, www.timesonline.co.uk/tol/comment/columnist/chris_ayers/article6722407.ece.

[2] Carnegie Dale & Associates, “How to Win Friends & Influence People” (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012) , 85.

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering