Ayat-Ayat Perubahan

Hari itu, aku dengar adik kembarku (Hasan-Husain) yang baru berusia 9 tahun sedang ngobrol dengan teman-teman sebayanya di rumah, kurang lebih begini bunyi percakapannya:

Husain    : Aku dulu udah hampir beli online loh!

Teman 1  : Benarkah? Aku dulu juga pernah, hampir juga, tapi bingung gimana caranya.

Husain    : Ah, gampang kok, yang penting diklik-klik, nanti ada tulisannya, transaksi hampir berhasil, silakan pilih metode pembayarannya, tapi aku gak punya uangnya, jadi gak jadi… hehehehe….

Teman 2 : Di mana mas? Lazada to?

Hasan      : Iya, di Lazada, besok ajalah belinya kalau udah punya sangu sendiri, baru beli…

Kudengarkan percakapan mereka dari kamarku yang tidak jauh dengan titik mereka ngobrol. Saat itu, aku sedang santai membaca buku. Sontak, kuhentikan aktivitasku, dan mendengarkan topik percakapan mereka. Saat itu pula, rasanya hatiku seperti disenggol dengan jari, rasa-rasanya seperti ada yang meledak di hatiku. Ternyata betul, zaman ini sudah berubah pesat!

Kuputuskan untuk ikut nimbrung di tengah mereka. Aku keluar kamar, duduk di kursi samping Husain duduk — Hasan-Husain sedang makan siang, sedang teman-temannya duduk mengelilingi meja berbentuk persegi. “Hei, ngobrol apaan nih?” Tanyaku sok asik. “Toko online, Mas!” sahut adikku, Hasan.

“Emang bisa to beli online?” Tanyaku yang maksudnya supaya adikku mengulangi percakapannya tadi.

“Iya, Mas, hampir loh aku beli online di Lazada.”

“Kapan?” Tanyaku memotong.

“Kemarin, Mas. Tapi gak jadi soalnya sangunya gak ada.” Jawab Husain sembari memotong tempe.

“Eh, kok kalian tahu toko online?” Tanyaku.

“Loh, Mas Arif tidak tahu toh?” Tanya Husain.

“Enggak, Mas Ari enggak tahu.” Jawabku, mengharap mereka menjelaskan apa itu toko online menurut mereka.

“Toko online itu tempat beli-beli, tapi gak harus ke sana langsung, kayak Lazada itu loh, Mas!” Hasan menjelaskan dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.

Astaga! Dari mana saja aku selama ini? Apatah ada hari yang kulalui tanpa kuketahui, bagaimana bisa anak-anak seusia mereka tidak hanya mengetahui tentang toko online, tapi juga melakukan transaksi. Di usiaku yang masih belia (9 tahun), apa yang aku lakukan?

Baca Ayat

Bukankah Allah Swt. selalu memberi sinyal, tanda-tanda bagi setiap manusia atas akan adanya sebuah peristiwa besar: bencana, peperangan, kematian, dan lain sebagainya. Zaman ini sudah berkembang pesat sekali. Segala sesuatunya sudah berubah dan segala hal lama mulai hilang digantikan dengan sesuatu yang baru. Perubahan tidak pernah berhenti bergolak. Perubahan selalu terjadi di dunia.

Membaca gejala, membaca tanda-tanda yang nyata adalah sebuah solusi bagi kita jika adalah pemain lama/incumbent untuk selamat dari perubahan yang terjadi. Jika kita adalah pemain baru, maka bersiaplah menghadapi zaman yang kian dinamis dan cepat berubah. Bahkan menurut teman saya, Muhammad Abdurrouf, sehari saja lengah, terdapat jutaan penduduk yang siap mendisrupsi1 diri kita (organisasi, perusahaan, bisnis, dan lain-lain).

Terdapat contoh yang sangat banyak, bukti-bukti telah berserakan di hadapan kita. Perusahaan-perusahaan incumbent perlahan hancur, kukut, gulung tikar karena tidak bersegera mengubah cara pandang mereka akan dinamika dunia yang non-statis.

Sebut saja, Blackberry. Siapa yang tidak kenal dengan brand ternama ini. Blackberry menutup bisnis potensialnya pada tahun 2016 silam lantaran kalah dalam perhelatan bisnis ponsel pintar.

Sebetulnya, Blackberry sudah menerima sinyal atau tanda-tanda akan adanya bencana besar yang akan menghancurkan mereka, namun karena mereka tidak mendisrupsi diri mereka sendiri, akhirnya mereka pun harus tergeletak kalah. Justru idealis mereka akan keypad QWERTY-nya yang menjadikannya naik daun, menjebak mereka ke zona itu selamanya. Biar bagaimanapun penduduk bumi lebih memilih touchscreen ketimbang keypad lama milik Blackberry.

Tidak hanya Blackberry, hal serupa juga terjadi dengan Kodak dan Fuji, perusahaan kamera digital yang sempat berjaya di masa-masa kamera masih menggunakan roll film. Namun, kini, mereka juga tumbang dengan pendatang baru yang lebih inovatif – menawarkan simple dan harga yang jauh lebih murah – yaitu kamera yang tidak membutuhkan roll film lagi.

Gunung Merapi mengirim tanda kepada manusia-manusia di sekitarnya supaya segera menghindari mara bahaya. Hewan-hewan dapat merasakan ketidakberesan Gunung Merapi, mereka menuruni gunung, burung-burung berpindah ke tempat lain, bau arang mulai tercium, dan suhu meningkat. Gejala-gejala letusan pasti diterima oleh manusia-manusia di sekitarnya. Tinggal bagaimana orang-orang yang berada di sekitarnya menyikapinya, apakah angkuh dan keras kepala memutuskan untuk tetap tinggal atau membaca tanda-tanda tersebut lalu segera mengambil sikap menyelamatkan diri dan keluarganya. Perubahan selalu diawali dengan gejala atau ayat-ayat untuk dibaca.

Analogi di atas menurut hemat saya bisa ditransformasikan ke hal atau bidang-bidang yang lain.

Blackberry tidak menghancurkan idealis mereka sendiri dengan inovasi terbarukan, alih-alih mengadakan riset dan lab. Penelitian pengembangan malah berjibaku dengan internalnya sendiri. Alhasil, mereka pun dihancurkan oleh para pendatang baru.

“Mereka memilih untuk dihancurkan oleh pendatang baru ketimbang menghancurkannya sendiri. Disrupted or being disruptive.” (Rhenald Khasali, 2017).

Bersikap

Diperlukannya ketegasan dan keteguhan dalam bersikap terhadap perubahan yang terjadi. Secara global, zaman kita adalah internet of things generasi ketiga. Segala sesuatunya jauh berbeda dibanding satu dekade silam. Segala sesuatunya telah jauh berbeda dan lebih berkembang dibanding apa yang ada di generasi yang lalu. Jika kita adalah pemain lama, kita harus waspada.

Percakapan adik kembar saya dengan teman-temannya saja sudah dapat diambil intisarinya. Percakapan mereka ibarat sebuah ikhtisar atas apa yang bergolak di luar saat ini. Padahal, saya tinggal di desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, tapi seusia adik kembar saya, toko online sudah bukan hal yang terlalu “luar biasa” untuk dibicarakan di antara mereka. jika Anda adalah orantua, apa yang lakukan menghadapi fakta ini? Masihkah memperlakukan anak-anak Anda sama seperti ketika Anda dibesarkan oleh orangtua Anda?

Share:
Written by Arif Asatar
Founder Japo Moringa Chocolate | Brand Owner Cemeglug | Industrial Engineering